Haruskah Aku Takut Pada Corona atau Berterima Kasih Padanya
Oleh: Mochamad Efendi
Virus Corona tiba-tiba muncul di Wuhan dan mengguncang dunia. Banyak orang ketakutan karena karena media ikut menyebarkan berita buruk yang disebabkan virus ini. Jutaan orang di dunia terinfeksi virus corona, dan banyak yang meninggal karena penyakit bawaan, sudah tua atau karena memang ajalnya sudah tiba. Tidak sedikit pula yang sembuh setelah mendapatkan perawatan intensif dalam ruang isolasi. Tidak sedikit pula yang stres karena ketakutan terinfeksi oleh corona.
Masa inkubasi selama 14 yang tidak diawali gejala apapun saat terkena virus ini menjadi sulit untuk mengidentifikasi siapa yang menjadi inang dari corona dan siap untuk menularkan pada orang lain. Canggihnya virus ini telah menghancurkan kosombongan manusia. Siapa saja bisa terkena virus ini mulai dari rakyat jelata sampai keluarga para raja dan penguasa rezim yang dzalim. Manusia tidak berdaya menolak pandemi covid-19, bahkan negara adi daya seperti Amerika dibuat lumpuh oleh serangan pasukan super kecil yang tidak terlihat mata. Senjata canggih penghancur massa tidak ada gunanya. Kesombongan mereka para pemimpin dunia sudah dipatahkan oleh virus corona.
Kerumunan orang dengan jumlah besar harus dihindari karena orang yang terlihat bisa jadi siap untuk menularkan virus ini. Jika ada satu satu yang terinfeksi dan tidak terditeksi, maka virus ini akan cepat dari satu orang ke banyak kerumunan orang yang dekat dengannya. Oleh karena itu, banyak negara mengambil kebijakan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran corona. Masyarakat diminta tidak keluar rumah dengan belajar dirumah dan bekerja dari rumah.
Jalan-jalan di kota besar yang biasanya ramai dan macet, terlihat sepi lengang. Industri kapitalispun berhenti berproduksi. Mungkin ini sangat merugikan para pemilik modal dan penguasa rezim yang berhitung untung rugi. Ternyata dibalik ini semua ada hikmah dan kebaikan bagi umat manusia yang tinggal di bumi ini.
Pertama, produksi emissi gas berbahaya menurun. Bumi bisa bernafas lega karena udara relatif lebih bersih karena industri kapitalis yang selama ini tidak berhenti menghasilkan banyak pembuangan gas berbahaya ke udara terpaksa harus berhenti karena corona. Jalan-jalan di kota besar yang biasanya ramai dan macet, terlihat sepi lengang tanpa lalu lalang kendaraan yang menyebabkan kebisingan dan juga menyebabkan udara kotor dan tidak layak untuk dihirup manusia.
Kedua, masyarakat mulai terbiasa gaya hidup sehat. Mereka membiasakan diri cuci tangan sebelum masuk rumah atau hendak makan, juga setelah selesai makan. Masyarakat juga sangat hati-hati dan menjaga kesehatan dengan menkonsumsi vitamin dan makanan bergizi agar memiliki daya tahan tubuh yang kuat tethadap serangan penyakit. Virus. Corona telah mengajarkan masyarakat untuk hidup sehat.
Ketiga, virus corona telah mengembalikan fungsi keluarga sebagai pendidikan yang pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak. Dalam pendidikan keluarga, orang tualah yang terlibat dalam mendidik anak. Sering orang tua menyerahkan pendidikan anak mereka pada institusi sekolah bahkan sejak mereka balita. Karena sibuk bekerja, anak mereka yang masih balita dititipkan ke panitipan anak. Bahkan pembantu lebih sering bertinteraksi dengan orang lain dari pada dengan orang tuanya sendiri. Saat menginjak usia sekolah mereka dikirim ke asrama atau pondok seolah orang tua mau lepas tangan pada pendidikan anak-anak mereka.
Namun, Pandemi covid-19 telah mengembalikan keluarga sebagai fungsi pendidikan utama untuk membentuk karakter generasi. Pandemi telah membuat mereka lebih sering di rumah, orang tua bersama anak-anak mereka membangun kehangatan dan memjadikan rumah seperti surga, bukan hanya tempat untuk tidur.
Keempat, banyak umat mulai mendekat pada Islam. Subhanallah banyak umat yang tersadarkan dan memasuki agama Allah yang lurus dan mulia dari yang Maha Sempurna. Suara adzan diperbolehkan diperdengarkan dengan pengeras suara di negara yang sebelumnya melarang adzan. Ayat-ayat al-Qur'an dikutip dan bisa dibaca di ruang publik. Umat mulai merindukan Islam untuk mengatur kehidupan mereka. Semua kebaikan yang dirasakan oleh penduduk bumi karena kedatangan pasukan langit super kecil yang memberi peringatan agar manusia mau berubah menjadi lebih baik.
Haruskah kita marah pada tentara langit yang super kecil yang dikirim untuk menyadarkan umat agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi ini. Telah nampak kerusakan di bumi dan lautan karena tangan manusia. Keserakahan manusia sering lupa menjaga bumi ini dari kerusakan karena eksploitasi secara berlebihan. Kesombongan manusia sering melupakan mereka dari sang khalik yang sudah menurukan risalah yang lurus dan mulia agar bisa memperingatkan manusia untuk rela diatur dengan hukum Allah dalam kehidupan nyata. Pasukan super kecil virus corona disamping berbahaya tetapi ternyata membawa kebaikan dan hikmah bagi orang-orang yang berfikir. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Haruskah Aku Takut Pada Corona atau Berterima Kasih Padanya"