Idul Adha, Yuk Optimalkan Ketaqwaan Kita!
Oleh: Sahilatul Hidayah
Allah berfirman, Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada Ku. Apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya, dan apabila berprasangka buruk maka keburukan baginya (HR. Ahmad dengan sanad Hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).
MashaaAllah wa alhamdulillah..gak kerasa yak udah lebaran kurban aja nie a.k.a hari raya Idul Adha. Met lebaran ya teman, udah pada korban apa nie kemarin, kambing, domba atau bahkan sapi. Barokalloh buat kalean yang udah Allah kasih kesempatan untuk berkurban di lebaran kurban tahun ini. Buat yang belum jangan bersedih ya gess, please jangan sampai karena belum bisa berkurban akhirnya perasaan yang dikorbanin..eaaa...gak la ya pastinya.
Okay balik lagi nie soal Idul Adha, boleh yak berbagi sedikit inspirasi dari kisah yang udah famous beut. Selalu ada cerita ini pas momen lebaran kurban. Ada yang tau kah? Yaps bener beut kisahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tapi kali ini inspirasinya bukan datang dari kisah pengorbanan yang mashaaAllah sangat luar biasa dari Nabi Ismail, melainkan kisah yang penuh inspirasi dari Ibunda Siti Hajar. Udah pada tau kan tentang beliau. Kalau ada sampe yang belum tau wah..wah..kebangetan anda, kalau kata Bang Haji Rhoma sungguh terlalu..
Ibunda Siti Hajar adalah istri dari Nabi Ibrahim, sekaligus ibunda dari Nabi Ismail. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah agar Ibunda Siti Hajar dan anaknya Nabi Ismail berhijrah dari tempat tinggalnya menuju daerah yang tidak diketahui oleh siapapun, Ibunda Siti Hajar seketika itu langsung menerima dan melaksanakan apa yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim semata-mata karena beliau mengetahui itu adalah perintah Allah.
Akhirnya sampailah Siti Hajar dan Nabi Ismail di sebuah tempat di tengah gurun pasir yang tandus. Tidak ada kehidupan di sana kecuali mereka berdua. Ketika Nabi Ismail kehausan, Siti Hajar tidak bisa memberikan air susunya karena beliaupun juga mengalami kehausan yang sangat karena tidak adanya sumber mata air. Lalu, apa yang dilakukan oleh Ibunda Siti Hajar pada saaat itu? apakah beliau menyerah begitu saja alias pasrah atau bahkan naudzubillah menyalahkan Allah karena menyuruhnya berada dalam situasi dan kondisi yang kek gitu.
Jawabannya tentu tidak teman. Tidak terbersit sedikitpun di pikiran beliau untuk ngelakuin sikap tersebut, pasrah terlebih menyalahkan Allah. Yang dilakukan oleh Ibunda Siti Hajar malah sebaliknya, beliau melakukan usaha yang optimal ketika harus menghadapai keadaan itu dengan disertai sebelumnya ketawakalan yang tinggi kepada Allah. Sebelum mulai berusaha mencari sumber mata air, beliau berdoa kepada Allah untuk diberikan kemudahan, memasrahkan segala urusan hanya kepadaNya. Lalu beliaupun menaruh bayi Ismail di tempat yang sekiranya aman, kemudian mulai berusaha mencari dimana sumber mata air. Beliaupun berlari-lari kecil karena Nabi Ismail terus menangis.
Beliau tetap berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah sampai tujuh kali. Dan akhirnya ketika sampai yang ketujuh kalinya, beliau melihat tiba-tiba keluarlah sumber mata air dari kaki Nabi Ismail yang dihentak-hentakkan. MashaaAllah..mata air itulah yang sekarang kita kenal sebagai air zam-zam.
Nah..Apa nie pelajaran yang bisa kita ambil dari kisahnya Ibunda Siti Hajar tersebut?. Ada yang tau kah?. Ok aku kasih tau yak kalau belum tau. Jadi apa yang dilakukan oleh Ibunda Siti Hajar itu adalah pelaksanaan dari selalu berprasangka baik kepada Allah yang disertai dengan keoptimalan dalam berusaha. Memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah akan memberikan pertolonganNya ketika menghadapi situasi dan kondisi yang paling sulit sekalipun, tetapi tetap melakukan usaha terbaiknya sehingga gak ada yang namaya kata menyerah di kepala.
Sudahkah kita memiliki sikap yang sama teman? Melakukan keoptimalan usaha dalam ketawakalan kepadaNya. Ataukah malah kita masih dalam kondisi sebaliknya ketika kita menghadapai situasi dan kondisi yang begitu menyulitkan, menyerah alias pasrah dan cenderuang menyalahkan keadaan bahkan sampai menyalahkan takdirNya. Yuk muhasabah barengan.. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Idul Adha, Yuk Optimalkan Ketaqwaan Kita!"