Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Khilafah Jejakmu Kini Terungkap Sudah


Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom (Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)

Indonesia, yang dulu dikenal dengan istilah Nusantara, merupakan muslim terbesar di dunia. Jauh sebelum merdeka dari penjajahan fisik dan menjadi sebuah negara Indonesia, diwilayah nusantara telah berdiri pusat-pusat kekuasaan Islam yang berbentuk kesultanan. Mulai dari kesultanan aceh yang terletak diujung barat, hingga kesultanan ternate di ujung timur. Berbagai catatan sejarah membuktikan bahwa kesultanan Islam tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan sangat erat dengan kekhalifahan Islam, khususnya Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di turki. (Aceh, Nusantara dan Khilafah Islamiyah : 2005)

Diceritakan dalam hikayat Aceh, Sultan Rum jatuh sakit dan para tabibnya mengatakan bahwa satu-satunya obat adalah kamper dan minyak dari Aceh. Alkisah, para utusan Turki dikirim ke Sumatera untuk mendapatkan obat ini dan ketika kembali ke Istanbul mereka membawa kisah-kisah kemegahan istana Sultan Perkasa Alam (Iskandar Muda) di Aceh sehingga Sultan Rum berkata : “Ada jua dijadikan Allah dua orang raja yang amat besar dalam alam dunia ini,. Maka yang daripada pihak magrib kitalah raja yang besar dan daripada pihak masyrik itu Seri Sultan Perkasa Alam raja yang besar”

Arsip Utsmani menegaskan bahwa selama pemerintahan Sultan Sulaiman I dan Selim II, meriam, ahli meriam dan juru tembak dikirim ke Aceh. Semua orang Aceh mengetahui kisah meriam Turki yang disebut “Lada Secupak”. Asal-usulnya, menurut cerita Sultan Iskandar Muda mengirimkan duta Aceh ke Istanbul untuk membeli senjatasambil membawa bingkisan berupa rempah-rempah. Ketika utusan itu mendapat kesempatan menghadap Sultan, setelah perjalanan yang panjang dan berat, yang tersisa dari barang bawaan mereka yang berlimpah hanyala satu cupak Lada. Sultan Utsmani dengan besar hati menerima bingkisan ini dan menghadiahi utusan itu dengan sebuah meriam besar. Meriam yang dikenal sebagai Lada Secupak itu direbut Belanda pada tahun 1874 dan kini disimpan disebuah museum militer di Belanda. Penelitian atas motif-motif pada sejumlah meriam ditemukan di Aceh memberikan bukti adanya pengaruh Utsmani pada hiasan tertentu dan membuka kemungkinan bahwa sebagian meriam dibuat oleh ahli meriam Utsmani di Gujarat.

/Aceh, Ujung Timur Jagat Utsmani/

Pada abad ke-16, Aceh menjalin hubungan langsung dengan kerajaan Utsmani. Ketika Belanda mulai secara agresif memperluas kekuatannya di Sumatera, Aceh sekali lagi meminta bantuan kepada Kerajaan Utsmani. Pada tahun 1849 Sultan Mansyur Syah dari Aceh (1838-1870) mengirimkan utusan ke Sultan Abdul Majid dengan membawa surat yang menegaskan kembali status Aceh sebagai negeri dibawah kedaulatan Utsmani dan meminta bantuan untuk menghadapi Belanda. Satu tahun setelah tanpa berita, pada tahun 1850 sultan Mansyur Syah mengirimkan sepucuk surat lagi kepada Sultan Abdulmecid, kali ini dalam bahasa arab. Arsip Utsmani menunjukkan bahwa permintaan Aceh mendapat peritmbangan serius di majelis istana, tetapi kekhawatiran atas reaksi Belanda berbuntut keputusan untuk hanya mengirimkan utusan ke Aceh guna menelisik pengakuan kerajaan Aceh sebagai bawahan Utsmani.

Ketakutan terbesar Aceh menjadi kenyataan pada tahun 1873, ketika kekuatan Belanda menyerang Aceh. Meskipun pada awalnya Belanda dipukul mundur, pada tahun berikutnya mereka kembali dan berhasil merebut istana Aceh. Selama beberapa dasawarsa berikutnya pertempuran sengit berlanjut dan bangsa Aceh mengirimkan permohonan kembali kepada konsulat Utsmani Ertugrul di Singapura pada tahun 1889 dalam perjalanan ke Jepang membangkitkan harapan bangsa Aceh, tetapi pada saat rombongan Aceh tiba di Singapura, kapal telah melanjutkan pelayaran. Perang panjang melawan Belanda di Aceh baru mulai mereda setelah 1903 dengan menyerahnya penerus Sultan Mansyur Syah yaitu Sultan Muhammad Daud Syah. (Islam  Perdagangan dan Politik Sepanjang Samudera Hindia : 2009-2012)

/Mengungkap Sejarah Peradaban Islam yang Gemilang/

Viralnya film jejak khilafah di nusantara membuat sebagian orang penasaran, benarkah khilafah itu ada?  jika benar apa yang selama ini diperjuangkan oleh sekelompok pendukungnya  bukan isapan jempol semata. Dan jika kekhalifahan terakhir ottoman pernah menginjakkan kakinya di nusantara, maka terbongkar sudah misteri yang selama ini selalu menjadi tanda Tanya di sanubari. Ini juga dapat ditemui disebuah perkampungan Bitay daerah Banda Aceh, dimana para syuhada utusan Ottoman terkubur disana dengan nisan yang punya cirri khas tersendiri yakni bulan bintang seperti bendera Turki.

Jauh sebelum hubungan Aceh dan Kekhalifahan Turki Utsmani terjalin mesra saat Sultan Sulaiman Al-Qanuni masih hidup hingga kemudian dipimpin oleh Selim II, dimana Aceh meminta bantuan kepada sultan untuk membantunya melawan penjajah. Bahkan selanjutnya oleh Sultan Abdul Hamid II, sang pemimpin terakhir yang dijuluki “Sultan Merah” kembali Aceh meminta bantuan ketika mereka tidak bisa berangkat haji karena dihalangi Belanda. Maka murkalah sang sultan dan memanggil duta Belanda dan memperingatinya untuk tidak menghalangi masyarakat Aceh untuk pergi beribadah. Ini menunjukkan bahwa Aceh bagian dari kekhalifahan, dimana Aceh juga menjadi kesultanan yang mewakili setiap daerah yang sudah menggabungkan dirinya dengan Daulah.

Maka siapapun yang memungkiri hubungan khilafah dengan nusantara mungkin ia buta sejarah. Dan sejarah pun telah membuktikan dirinya disetiap jaman bahwa ia ada untuk membongkar dan mengungkap kebenaran. Sebaliknya harusnya kita bangga menjadi saksi dari sejarah peradaban Islam yang gemilang, meski dicoba untuk ditutupi dan putar balikkan faktanya kini ia telah muncul atas kehendak Allah. Sungguh amat merugi jika kita tidak menjadi bagian dari perjuangannya dan menjadi saksi atas tegaknya kembali khilafah kedua. Maka perlu sekali bagi melenial muda untuk membaca sejarah Islam di nusantara yang ada kaitannya dengan kekhalifahan. Wallahu ‘alam. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Khilafah Jejakmu Kini Terungkap Sudah"