Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Harbolnas: Butuh atau Nafsu Belanja?


Oleh: Neng Ranie SN


Sobat remaja, gimana kabarnya hari ini? Tidak terasa sudah masuk bulan Desember saja yah. Siapa nih yang lagi nungguin tanggal 12 Desember? Hayo ngaku!  Memangnya ada apa sih tanggal 12 Desember? Ada Harbolnas 12.12, guys! Bagi kaum millennials istilah Harbolnas sudah akrab banget, bukan?!. Buat yang belum tahu, Harbolnas adalah singkatan dari Hari Belanja Online. Harbolnas 12.12 nanti, industri e-commerce  memberi diskon gila-gilaan dan penawaran menarik. Uwaw, asyik belanja! Beli apa yah?


Hihi, memang sih bagi yang doyan belanja, Harbolnas adalah moment yang paling ditunggu-tunggu. Para ABG memang paling demen sama belanja online, apalagi bagi cewek-cewek, benar enggak?!  Berdasarkan survei lembaga riset Snapcart di Januari 2018 (lifestyle.tempo.com) mengungkapkan ternyata generasi millenial menjadi pembelanja terbanyak di bidang e-commerce yakni sebanyak 50 persen! Hah!


Enggak dipungkiri sih, belanja online lebih praktis dan mudah. Tapi kalau kita teliti lebih jauh, semua ini enggak lepas dari sistem kapitalis-sekuler yang tengah menggerogoti pemikiran generasi millennials. Sistem ini melahirkan gaya hidup hedonisme, yaitu pandangan hidup yang mengejar kesenangan sebanyak mungkin sebagai tujuan hidup. Banyak para ABG yang terjebak dalam gaya hidup hedonisme ini. Kehidupan konsumtif  akhirnya menjadi kebiasaan, demen banget belanja habisin duit alias shoppingholic.


Kalau sudah sampai level ini, bisa-bisa berdampak negatif loh, sob. Sebuah penelitian di Comprehensive Psychiatry yang diterbitkan dalam jurnal Elsevier pada November lalu menemukan sekelompok orang melaporkan gejala-gejala kecanduan belanja online (BSD). Mereka cenderung berusia muda, mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang lebih besar, dan cenderung menunjukkan keparahan gejala BSD yang lebih tinggi.


BSD dicirikan sebagai gangguan kontrol impuls spesifik dalam Klasifikasi Penyakit Internasional edisi revisi ke-11. Tanda-tandanya antara lain keasyikan ekstrem dan keinginan untuk berbelanja, serta dorongan yang tak tertahankan dan pencarian identitas untuk memiliki barang-barang tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan masalah, misalnya perselisihan keluarga, kekacauan karena penimbunan barang yang patologis, hutang, penipuan karena pengeluaran terus-menerus sementara keuangan tidak mencukupi. (gaya.tempo.com)


Seram banget yah. Lebih seram lagi, hal ini adalah bagian dari skenario musuh-musuh Islam. Remaja Islam sengaja digiring oleh opini media untuk menjadi generasi yang hobinya belanja dan gampang terpengaruh sama iklan. Sibuk memenuhi hasrat belanjanya hingga lupa dengan urusan umat.


Mmm, berarti kita enggak boleh belanja online? Belanja online sih boleh-boleh saja, sob. Asalkan barangnya halal dan benar-benar yang kita perlukan. Karena Allah Swt. tidak menyukainya sifat boros,


وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ


“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini.


Sebagai Muslim kita diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang kita miliki dan mempergunakan harta dengan baik, sehingga Allah mendatangkan rida-Nya. Untuk masalah harta atau dunia, bermuhasabah dirilah dengan melihat orang-orang di bawah kita,


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي اللّه عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ


Dari Abū Hurairah  ia berkata, Rasūlullāh  bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.” (HR Muslim No. 2963)


Sobat remaja, biar enggak kalap dan disebut saudaranya setan, sebelum belanja kita mesti tahu apa yang kita butuhkan’ bukannya ‘apa yang kita inginkan’. Kalau barang itu enggak penting-penting banget, mending uangnya untuk hal yang lebih penting lagi.


Next, me-list barang apa saja yang mau dibeli dan bakalan kita pakai. Jangan sampai cuma dijadikan koleksi atau pajangan. Bisa tuh, kita terapkan metode one in-one out. Artinya, kita beli barang baru, barang lama kita infakkan/ hibahkan. 


Ingat juga, barang yang akan dibeli harus sesuai dengan kemampuan kita. Jangan maksa beli barang dengan 'brand'  mahal, cuma karena gengsi atau hanya untuk pamer. Apalagi kalau ujung ujungnya dari hasil utang, bahkan mencuri. Tepok jidat!


Upaya menghentikan kebiasaan shoppingholic ini juga harus ada peran negara, sob. Kalau dalam sistem Islam, negara (khilafah) akan memberikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kepribadian Islam. Selain itu, memfilter tayangan yang bisa meracuni pemikiran generasi. Seluruh aspek kehidupannya diwarnai oleh aturan Islam. Dengan suasana keimanan inilah generasi muda akan terhindar dari sifat dan perilaku konsumtif dan hedonis. Mereka juga  paham bagaimana membelanjakan hartanya. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda;


“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).


Nah, sekarang sudah tercerahkan, dong! Karenanya ubah mindset kita dengan rajin mengkaji Islam. Supaya kita menjadi generasi yang cerdas, membelanjakan harta karena memang butuh bukan nafsu. Wallâhu alam bi ash-shawâb. (reper/zia)

Posting Komentar untuk "Harbolnas: Butuh atau Nafsu Belanja?"