Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Demokrasi, Teokrasi dan Khilafah


Oleh: Al Azizy Revolusi (Editor dan Kontributor Media)


Gaes, Demokrasi, teokrasi dan Khilafah adalah istilah-istilah khusus untuk mengungkap makna-makna tertentu. Istilah-istilah tersebut saling bertentangan dan nggak bisa disepadankan satu sama lain.


Emang sih, kekuasaan di dalam sistem demokrasi dan Khilafah Islamiyah ada di tangan rakyat. Namun, dalam sistem Khilafah, kafir dzimmi yang menjadi warga negara Khilafah nggak punya hak untuk memilih calon Khalifah atau mengangkat seseorang untuk menduduki tampuk Kekhilafahan. Dalam sistem Khilafah, hukum mengangkat seorang Khalifah (bai’at in’iqad) itu fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain. Wanita juga nggak boleh dicalonkan menjadi amil, wali maupun Khalifah.


Sebaliknya gaes, dalam sistem Demokrasi, baik Muslim maupun kafir, laki-laki dan wanita, memiliki hak yang sama untuk mencalonkan dan dicalonkan sebagai kepala negara. Di dalam sistem demokrasi, tidak dikenal istilah fardhu kifayah dan fardhu ‘ain dalam konteks pengangkatan seorang kepala negara.


Dalam sistem Khilafah, seluruh dimensi kulliyah maupun juz’iyyah-nya tegak di atas ‘aqidah islamiyyah, sedangkan sistem demokrasi tegak di atas akidah kufur. Lantas, gimana bisa dinyatakan bahwa sistem Khilafah sepadan dengan sistem demokrasi dalam hal pandangan keduanya terhadap kekuasaan?


Begitu pula sistem Khilafah dengan teokrasi, gaes. Nggak ada kesamaan dan kesepadanan pada aspek-aspek kulliyyah maupun juz’iyyah. Seluruh aturan yang diterapkan dalam sistem Khilafah benar-benar berasal dari Allah. Adapun aturan yang diklaim sebagai aturan Tuhan dalam sistem teokrasi, sesungguhnya berasal dari manusia, bukan berasal dari Tuhan.


Coba tengok negara-negara Kristen Eropa dahulu, meskipun mengklaim sebagai negara teokrasi, kebijakan-kebijakan publiknya tidak mengacu kepada wahyu Tuhan, tetapi mengacu pada pendapat pribadi Paus atau pendeta; atau mengacu pada suara mayoritas.


Ini bisa dimengerti karena Injil yang dianggap sebagai wahyu Tuhan nggak mengatur urusan manusia secara menyeluruh, gaes. Bahkan Injil yang diyakini jutaan kaum Nasrani, nyata-nyata bukan perkataan Yesus, tetapi perkataan orang-orang yang nggak pernah bertemu dengan Yesus.


Lagipula kalo ditinjau dari sisi akidah, Tuhan orang-orang Kristen nggak sama dengan Tuhan orang-orang Muslim, gaes. Lalu dari mana bisa dinyatakan bahwa Khilafah sama dengan teokrasi ditinjau dari aspek ini? Hmm...


Demikianlah realitas kekuasaan dalam sistem demokrasi dan sistem Khilafah serta realitas hukum Tuhan dalam sistem Khilafah dan teokrasi. Semoga paham, ya gaes. Kalo mau tahu lebih jauh, yuk ngaji! Wallahua’lam bish-shawab.(reper/baim)

 

Posting Komentar untuk "Mengenal Demokrasi, Teokrasi dan Khilafah"