Menjadi Generasi Emas Pengukir Peradaban Gemilang
Oleh: Zahida Arrosyida (Praktisi Pendidikan)
Potret buram generasi Indonesia masih menghiasi lembaran kelam keberlangsungan pendidikan hari ini. Kasus demi kasus mengusik nurani terus menyeruak. Kasus narkoba, gaul bebas, pornografi, tawuran, geng motor, LGBT remaja, bullying, penganiayaan, kerap mewarnai dunia pendidikan kita. Para generasi yang diharapankan menjadi estafet kepemimpinan negeri malah bertindak merendahkan diri. Sumber daya pemuda yang merupakan asset negara ini melakukan perilaku yang tidak bermartabat.
Lupakah mereka bahwa mereka adalah generasi mulia yang pernah berjaya? Kenalkah mereka dengan Muhammad al Fatih di usia 21 tahun telah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel? Muhammad al fatih juga seorang pakar dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa.
Apakah mereka membaca kisah Mush'ab bin Umair? Pemuda tampan, kaya-raya yang tak pernah hidup susah dan selalu bergelimang harta. Rela meninggalkan kesenangan dunia semata untuk mencari ridho Allah saja.
Masa muda yang dimiliki bukan dihabiskan untuk kesenangan semu. Tak sedikitpun waktunya dibuang dengan sia-sia apalagi jika itu perbuatan yang diharamkan. Yang terpikirkan hanyalah bagaimana menyebarkan Islam sehingga bisa tersebar ke seluruh negeri. Mush'ab memang seorang pemuda yang cerdas sehingga dengan kejeniusannya ini pula ia diutus menjadi juru dakwah di Madinah.
Begitupun dengan Zaid bin Harits yang menginginkan ikut berperang ke medan perang di usia yang masih belia. Usianya yang masih sangat muda justru menjadi orang terdepan yang menghibahkan dirinya di jalan Islam. Nyawa tak segan dipertaruhkan demi kemuliaan agama Allah SWT.
Adalagi perempuan tangguh bernama Nusaibah binti Ka'ab dengan senang hati turun ke medan perang melawan musuh untuk melindungi sayyidina Rasulullah SAW. Bentuk kecintaan yang mendalam terhadap Rasulullah dan ajaran Islam yang dibawanya. Status sebagai perempuan tidaklah menjadikan penghalang untuk mengambil peran dalam perjuangan Islam.
Kemudian ditambah lagi para ilmuwan muslim yang berperan penting terhadap sains dan teknologi masa kini seperti Ibnu Sina yang ahli biologi, farmasi dan kedokteran; Al khawarizmi ahli matematika; Jabbir Hayyan ahli kimia; Ibnu Rusydi ahli astronomi; empat imam ahli hukum Islam yakni Imam Syafi'i, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Maliki, dan Imam Abu Hanifah. Masih banyak lagi para pemuda-pemudi muslim di masa lalu yang menorehkan namanya dalam catatan sejarah peradaban Islam.
Mereka adalah generasi terbaik yang hadir dalam sejarah dunia. Mereka adalah generasi emas yang telah menorehkan karya bagi kegemilangan peradaban. Generasi emas peradaban itu setidaknya memiliki beberapa indikator :
1) Kecintaan mereka kepada Allah SWT di atas segalanya
Rasa cinta kepada Allah membuat mereka yakin, optimis dan memiliki keberanian yang tinggi. Generasi ini mempersembahkan hidupnya untuk membela agama Allah. Hanya satu hal yang ditakutkan oleh generasi semacam ini yaitu kemurkaan Allah.
2) Kecintaan mereka kepada Rasulullah Muhammad SAW melebihi semua orang
Dan kecintaan kepada Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Rasulullah melebihi segala bentuk hukum yang ada di dunia ini. Generasi emas menjadikan Rasulullah SAW teladan utama. Sementara gaya hidup mereka harus diwarnai oleh cahaya Al-Qur'an.
3) Perilaku berbakti kepada orang tua dan guru sangat istimewa
Generasi emas bukanlah generasi yang cuek dan egois. Mereka juga bukan generasi yang membanggakan kepintaran, kesuksesan, kekayaan, jabatan maupun kekuasaan yang mampu diraihnya. Tapi generasi emas adalah mereka yang menyayangi orang tuanya sebagai rasa syukur kepada Allah. Juga menghormati guru karena guru adalah orang yang memberikan ilmu dan guru merupakan pengganti orangtua jika ananda berada d sekolah.
4) Memiliki kepribadian Islam yang tinggi
Identitas ini tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola berpikirnya (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyah). Mereka senantiasa terikat dengan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan. Kemampuan intelektualnya dipersembahkan untuk kemajuan peradaban Islam.
5) Berjiwa pemimpin
Generasi yang berjiwa pemimpin memiliki rasa tanggung jawab dan peka terhadap setiap permasalahan yang dihadapi serta mampu memberikan solusi berdasarkan sudut pandang Islam. Dia juga bisa memberikan keteladanan dan mengajak orang lain mengambil jalan sesuai dengan Islam.
Generasi emas semacam inilah yang sanggup menegakkan peradaban Islam dan menjadi pembela Islam. Generasi yang siap mengorbankan diri dan apa saja saja yang dimiliki untuk kejayaan Islam. Tidak inginkah kita menjadi generasi emas itu? (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Menjadi Generasi Emas Pengukir Peradaban Gemilang"