Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Pendidikan Islam


Oleh: Ninda Mardiyanti YH. (Mahasiswi IAID Ciamis)


Sob, sudah hampir satu tahun sekolah dialihkan dengan pembelajaran di rumah. Beberapa bulan yang lalu pembelajaran guling atau guru keliling dengan membentuk kelompok masih diberlakukan, namun sekarang karena melihat angka terkonfirmasi positif covid-19 semakin meningkat sehingga pembelajaran tersebut tidak lagi diberlakukan, kembali pada pembelajaran di rumah masing-masing. 


Sedari awal pembelajaran daring banyak orang yang mengeluh baik itu orang tua, siswa, maupun guru di sekolah. Orang tua stress melihat anaknya yang lalai mengerjakan tugas ditambah pekerjaan rumah tangga yang harus dikerjakan, kemudian siswa pun merasa stress karena banyak tumpukan tugas yang diberikan belum lagi ditambah dengan kendala kuota dan jaringan, sementara guru pun dibuat kebingungan karena tuntutan kurikulum yang harus direalisasikan. 


Sob, pernahkah terlintas dalam pikiran ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan saat ini? Ya, memang benar ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan yang saat ini dijalankan. Ketidakberesan ini jauh sebelum pembelajaran daring diberlakukan. Artinya sejak dulu pendidikan itu sudah sangat rusak. Contohnya seperti kurikulum, setiap ganti kepemimpinan maka ganti pula kebijakan. Masihkah ingat saat itu dari kurikulum KTSP menjadi K-13 akibat adanya pergantian kepemimpinan, bahkan ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu berpindah tangan lagi kurikulum pun terus menerus di revisi tujuannya untuk memperbaiki pendidikan saat ini. 


Sob, dengan adanya revisian kurikulum tersebut apakah pendidikan saat ini menjadi lebih baik? Tidak, bahkan semakin ruwet. Guru semakin stress dengan berbagai administrasi dan anak pun stress karena dipaksa harus cakap dalam segala bidang yang belum tentu mereka kuasai. Kemudian karena paksaan tersebut dalam aspek sikap tidak begitu diperhatikan sehingga banyak anak yang mereka pintar tetapi mendapatkan nilai dengan cara nyontek, mereka pintar tetapi tetapi pergaulannya bebas, mereka pintar tetapi sikap pada orang yang lebih dewasa tidak dijaga. Itulah potret buram pendidikan saat ini. Penyebabnya karena penerapan sistem pendidikan sekuler. 


Ide sekularisme ini tidak hanya menggerogoti pada sistem pemerintahan saja melainkan masuk di segala lini kehidupan termasuk pendidikan. Maka sangat berbahaya sekali jika negara masih menerapkan ide rusak ini. Jika pendidikan yang berasas sekuler ini rusak, adakah sistem pendidikan yang baik? Yang nantinya bakal melahirkan generasi unggul dan berkualitas? Tentu saja ada, dalam islam dinamakan dengan sistem pendidikan berbasis akidah. 


Islam dengan segala aturan kehidupan sangat begitu rinci dan menyeluruh, artinya untuk melahirkan generasi gemilang tidak cukup hanya berdasarkan aspek kognitif saja tetapi segala aspek harus ditanamkan utamanya adalah akidah. Oleh karena itu kurikulum yang digunakanpun harus kurikulum berbasis akidah Islam. Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Muqaddimah Dustur yang merupakan rancangan Undang-Undang Dasar Negara Islam dalam pasal 165 menyebutkan bahwa, “kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut." 


Mengapa kurikulum? Karena kurikulum adalah jantungnya pendidikan. Kurikulum akan mengarahkan bagaimana strategi dalam pembelajaran, metode dalam pengajaran, mata pelajaran apa saja yang harus disampaikan semuanya tercover dalam kurikulum. Jika kurikulumnya baik dan sesuai maka tujuan utama dari pendidikan akan tercapai yaitu membentuk kepribadian Islami pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat Islam dan akan mempersiapkan anak-anak muslim menjadi ulama-ulama yang ahli dari setiap aspek kehidupan. 


Sob, sejarah telah mencatat bahwa pada masa kegemilangan Islam telah banyak mencetak generasi peradaban. Buktinya pada masa kejayaan Bani Abbasiyah, 4 mazhab yang kita kenal yaitu Imam Syafi’I, Imam Hanbali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi mereka adalah buah dari penerapan pendidikan islam. Ada pula yang kita kenal sosok Muhammad bin Musa Al-Khawarijmi beliau adalah penemu angka 0 (nol) yang kita sering kita gunakan dalam matematika. Bayangkan jika tidak ditemukan angka 0 para ulama modern tidak akan tercipta teknologi. Kemudian Abu Bakar Ar-Razi, Az-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu Al-Khattib mereka telah melangitkan namanya sebagai bapak kedokteran. Ilmu yang mereka dapatkan sampai saat ini masih digunakan oleh para dokter dan para tenaga kesehatan. Tanpa mereka tidak akan mengenal anatomi, tanpa mereka tidak akan mengenal suntikan dan alat-alat bedah modern, tanpa mereka tidak akan mengenal macam penyakit. Itulah fakta bahwa sistem pendidikan Islam mampu melahirkan para ilmuan hebat disertai dengan ulama yang bertakwa. 


Sob, kalau sejarah sudah mencatat demikian masihkah ingin bertahan dalam sistem pendidikan yang rusak? Yang kemudian nanti menjadi generasi gemar maksiat yang jauh dari syariat. Atau sudah ingin berganti menerapkan sistem pendidikan Islam berbasis akidah yang nanti akan melahirkan dan melanjutkan para ilmuan hebat yang mendedikasikan hidupnya menjadi manusia bermanfaat untuk banyak orang. Hal yang perlu diingat dalam Islam tidak hanya anak tidak hanya sekedar mahir dalam pengetahuan tetapi yang lebih utama harus berkepribadian islami sehingga nanti mampu menjadi generasi yang unggul dan berkualitas. Namun itu semua tidak akan tercipta dari sistem yang rusak seperti saat ini tetapi sistem pendidikan itu akan bisa dilakukan ketika Islam diterapkan dalam kehidupan negara yang disebut dengan khilafah islam. Wallahu a’lam bishowab. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Sistem Pendidikan Islam"