Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Biarkan Hati Hilang Tersandera Dunia


Oleh: Yuyun Rumiwati


Sobat, Berbicara tentang Qolbu atau hati tak jarang dilalaikan manusia. Bisa jadi karena  sibuknya urusan dunia.  Padahal masalah qolbu amat penting terkait dengan niat. Dan niat menjadi kunci syarat diterimanya amal. Bisa terbayang jika "hati ini hilang?"


Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menukilkan untaian mutiara nasihat sahabat yang mulia 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu


اطْلُبْ قَلْبَكَ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاطِنَ؛ عِنْدَ سَمَاعِ الْقُرْآنِ وَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ وَ فِي أَوْقَاتِ الْخَلْوَةِ.


“Carilah hatimu di tiga tempat ini: 1) Di saat engkau mendengarkan Al Qur’an; 2) Di saat engkau berada di majelis zikir (majelis ilmu); 3) Di waktu-waktu engkau menyendiri bersama Allah (yakni bermunajat kepada Allah)."


فَانَ لَمْ تَجِدْهُ فِي هَذِهِ الْمَوَاطِنِ فَسَلَّ اللَّهُ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ فَانْهُ لَا قَلْبَ لَكَ.


"Jika engkau tidak temukan hatimu di sana, maka mintalah kepada Allah agar memberimu hati karena sesungguhnya engkau sudah tak punya hati lagi." (Sumber: Al-Fawaid, hlm. 217).


Sungguh untaian nasehat yang sangat indah. Terlebih saat umat hidup dalam rengkuhan sistem Kapitalisme. Dimana sistem ini telah membuka jalan-jalan "hubbuddunya". Betapa tidak, sistem ini telah mengarahkan manusia berorientasi pada kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan yang dinilai dari materi dan gemerlapnya dunia. Penilaian manusia menjadi prioritas utama mengalihkan pada penilaian sang pencipta.


Hal ini secara langsung atau tidak telah mengurangi kefokhsan qolbu saat dalam tiga hal di atas (saat bersama Al-Quran, saat bermajelis taklim serta saat bermunajat dengan Allah).


Secara fisik aktivitas membaca Al-Qur'an tetap terjalankan. Namun efek yang membuat hati bergetar ternyata pudar. Saat membaca ayat kecaman Allah, tidak berefek dalam pikir dan jiwa. Dalam tilawah Al-Qur'an membaca ayat tentang "ghadul bashar" (menundukkan pandangan). Namun, mata dan hati masih jelalatan.


Dampaknya antara ucapan yang dilantunkan dalam Al-Qur'an bertentangan dengan kondisi pelaksanaan di lapangan. Maka tidak heran jika sistem ini membawa manusia berani bersumpah disaksikan Al-Qur'an, namun dalam menjalankan amanah kepemimpinan justru jauh dari aturan yang terkandung dalam Al-Qur'an.


Tidak jarang jasad ada di majelis taklim. Namun ruh ada di luar sana. Berkelana memikirkan target dunia. Tak heran tambahan ilmu tak berbanding dengan rasa takut dan taat pada Allah. Padahal jelas ciri utama ulama' (orang berilmu) dari rasa takutnya yang amat mendalam pada Allah.


Bahkan dalam aktivitas yang utama. Saat bermunajat dalam shalat, dzikir dan doa. Ingatan target dunia, tak jarang berkelebat dalam benak maupun hati. Jika demikian mungkinkan hikmah shalat bisa mencegah dari kefasadan dan kemungkaran bisa di dapat?


Maka langkah yang harus dilakukan terus menerus untuk menemukan kembali kalbu dan kekhusyukan dengan jalan ; meluruskan niat, berusaha fokus dan total saat beribadah dan beramal shalih dan senantiasa bermuhasabah agar Allah ampuni dan ridhai kita untuk lebih baik dari hari ke hari. Allahu a'lam bi shawab.(reper/baim)

 

Posting Komentar untuk "Jangan Biarkan Hati Hilang Tersandera Dunia"