KEMULIAAN ANAK YATIM HANYA TERWUJUD DALAM SISTEM YANG BAIK
Dalam Al-Quran surat Al-Ma’un ayat 1-2, Allah berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka mereka itulah orang yang menghardik anak yatim".
Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya. (HR. MUSLIM).
Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang merusak, dan salah satu diantara perkara yang Rasulullah sebutkan adalah “Memakan harta anak yatim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitulah Islam, sangat memuliakan anak Yatim baik kehormatannya maupun hartanya. Islam mampu memberikan motivasi bagi umat Islam agar peduli terhadap anak Yatim, Islam memberikan kabar gembira bagi mereka yang menjaga dan memelihara anak Yatim bahwa mereka akan bersama dan bersuka cita dengan Rasulullah Muhammad SAW di Surga. Islam memberikan ancaman yang keras bagi mereka yang memakan harta anak yatim.
Jika Islam begitu memuliakan anak yatim, maka ketika Islam diterapkan dalam sebuah negara hasilnya tentu akan luar biasa. Negara tersebut benar-benar akan melayani urusan anak yatim dengan sangat baik. Tidak hanya urusan anak yatim, urusan yang lain pun jika diurus dengan syariat Islam tentu akan menjadi jauh lebih baik. Negara menjalankan perannya sebagaimana mestinya sementara rakyat yang ada dalam negara itu benar-benar terlayani dengan baik oleh negara.
Berbeda dengan apa yang terjadi saat ini, negara terkadang abai mengenai urusan rakyatnya. Dengan melihat fakta yang ada, kita bisa temukan begitu menjamurnya yayasan sosial yang ada di negeri ini. Misalkan saja yayasan yatim piatu. Mereka mengumpulkan dana untuk mereka salurkan kepada anak-anak yatim. Tentu saja ini adalah tindakan yang terpuji di satu sisi, namun disisi lain ini adalah salah satu bentuk pengambil alihan peran negara. Jika peran negara diambil oleh individu atau kelompok yakinlah pelayanan tidak akan terwujud maksimal selain itu akan banyak kepentingan yang berperang didalamnya.
Pernah suatu ketika penulis datang kesalah satu yayasan rumah yatim yang usia anak asuhnya berkisar antara 1,5 - 8 tahun yang jumlahnya ada 16 anak. Ketika penulis memberikan kesempatan kepada pemilik yayasan untuk memberikan sambutan, ada satu kalimat yang begitu dalam maknanya. Begini kurang lebihnya " ya sekali kali teman- teman bisa untuk menginap di sini satu hari saja, biar bisa merasakan apa yang terjadi disini, ganti popoknya, ngantar buang air kecil". Deg...Saya tidak bisa membayangkan begitu sibuknya si pemilik yayasan, mulai dari memikirkan makannya, mutar uangnya, pendidikannya dan lain sebagainya. Ini salah satu contoh ketika suatu urusan negara diambil alih oleh individu pasti tidak maksimal.
Kalau saja semua urusan diserahkan kepada negara tentu hal ini akan menjadi berbeda. Anak anak yatim pasti akan terlayani dengan baik. Sementara untuk individu dan demi mengamalkan hadits nabi cukup mengasuh anak Yatim sesuai dengan kemampuan. Orang tua asuh ridho dan anak yatim pun bersuka cita mendapatkan orang tua asuh yang begitu memperhatikan dirinya. Dan semua ini hanya bisa terjadi ketika negara ini menerapkan aturan ilahi secara totalitas dan mencampakkan sistem yang kacau dan rusak yang hanya menimbulkan kerusakan dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Wallahu 'alam bi showab. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "KEMULIAAN ANAK YATIM HANYA TERWUJUD DALAM SISTEM YANG BAIK"