Menanti Pembebasan Tanah Ribath
Oleh: Nila Indarwati (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)
Idul fitri yang sejatinya disambut dengan gegap gempita, namun nyatanya tidak terjadi bagi saudara kita di Palestina. Di tengah kemenangan yang menggema di dunia, mereka harus membela, berjuang melawan kebengisan zionis.
Berawal dari 10 hari terakhir bulan mulia, Ramadan, Israel kembali melancarkan aksinya. Tentu, hal ini bukanlah yang pertama kali mereka lakukan dan bukan jaminan menjadi yang terakhir kalinya.
Dilansir dari metrotvnews.com (14/5/2021), hingga Jumat sore, sudah ada 119 warga Palestina yang meninggal dunia, termasuk anak-anak. Dan kemungkinan angka tersebut masih bertambah lagi melihat serangan Israel belum ada tanda-tanda untuk berhenti.
Lantas, kapankah kiranya penderitaan saudara kita di Palestina bisa berakhir? Benarkah narasi-narasi yang diserukan oleh para pemimpin negeri-negeri muslim mampu membuat Palestina terbebas dari Israel? Ataukah harus ada tindakan lain yang nyata dan berani bersikap tegas atas Israel?
Konflik Palestina tak bisa dilihat hanya dari satu sisi atau dua sisi semata, namun harus detil melihat semua sisi hingga berujung pada akar masalah yang menyebabkan konflik Palestina-Israel tetap terjadi hingga hari ini.
Lembaga PBB yang digawangi AS tak ubahnya hanya sebagai wasit tanpa punya peran berpengaruh atas penindasan Israel terhadap warga Palestina. Mereka yang terdepan menyuarakan HAM hanya sekadar retorika belaka. Semakin ke sini justru semakin terlihat kepada siapa mereka berpihak. Tentu kita bisa tahu jawabannya bahwa keberpihakan mereka bukan pada muslim Palestina.
Selain itu, para pemimpin negeri-negeri muslim memang melakukan aksi namun hanya sebatas kecaman belaka yang sejatinya hal itu tak cukup untuk menghentikan tindakan Israel. Bahkan solusi normalisasi juga sederet perjanjian yang pernah dilakukan tak membuat Israel menghentikan kebengisannya atas Palestina.
Akar masalah Palestina-Israel sejatinya berawal dari adanya Israel di bumi para Nabi. Mereka (Israel) memang mengincar tanah Palestina dan mencuri dari pemiliknya, yaitu kaum muslim. Inilah yang harusnya dipahami oleh umat bahwa untuk menyelesaikan masalah Palestina tidak cukup hanya dengan kecaman, kutukan, bantuan kemanusiaan, dan obat-obatan. Maka, solusi yang bisa dilakukan adalah keberanian dan ketegasan mengusir Israel dari Palestina.
Adanya sekat nasionalisme terbukti telah mengikis ikatan akidah umat Islam. Meski ada beberapa negeri Islam masih menaruh perhatian mereka pada Palestina namun mereka tetap lemah untuk melawan musuh-musuh Islam.
Namun akan berbeda jika umat Islam bersatu, negeri-negeri kaum muslimin bersatu mengirimkan militer-militer mereka untuk melawan Israel dan bala tentaranya. Karena hanya dengan tindakan ini yang akan mengembalikan tanah Palestina, yang notabene milik kaum muslim, dari Israel.
Pertanyaannya, beranikah para pemimpin muslim bersatu menyerukan perlawanan terhadap Israel dengan cara memeranginya?
Sebab, untuk melakukan langkah tersebut diperlukan keberanian besar. Tapi sayangnya, sekat nasionalisme tak menghendaki hal itu terjadi sehingga menjadi penghambat untuk menyatukan negeri-negeri kaum muslim. Dan mereka (para pemimpin negeri-negeri kaum muslimin) hanya bisa mengutuk dan mengecam.
Nyatanya umat Islam hari ini tengah terpecah belah, jumlahnya banyak namun bagaikan buih di lautan. Tidak ada pelindung dan penjaga hakiki bagi umat Islam selayaknya Khalifah Umar bin Khaththab, Salahuddin Al-Ayyubi, maupun Sultan Abdul Hamid II.
Sejarah panjang Palestina sangat erat kaitannya dengan umat Islam. Di sanalah para Nabi dan Rasul pernah singgah. Selain itu, salah satu masjid suci dan kiblat pertama bagi umat Islam, Masjidilaqsa. Karenanya untuk mengembalikan itu semua perlu ada sosok-sosok seperti Umar bin Khaththab dan para Khalifah setelah beliau yang memberikan perlindungan nyata dan terdepan melidungi umat Islam. Dan hal ini bisa terwujud manakala Islam diterapkan sempurna dalam kehidupan, di bawah naungan Khilafah Islamiyah ala minhajinubuwwah. Wallahu'alam. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Menanti Pembebasan Tanah Ribath"