Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Childfree dan Nasib Peradaban


 Oleh: Saffanah Ilmi (Mahasiswi Kota Depok)


Sebuah keputusan dari seorang influencer ternama Indonesia untuk menjalani kehidupan pernikahannya tanpa anak (childfree) menuai pro kontra dari berbagai pihak. Childfree sendiri sebelumnya sudah marak dilakukan oleh para pasangan di luar negeri.  Guna mengantisipasinya, Finlandia, Estonia dan Perancis memberikan tunjangan yang besar agar warganya mau memiliki anak. 


Di Indonesia sendiri fenomena childfree masih menjadi hal yang tabu, namun sejak lama pemerintah telah menjalankan program pembatasan anak dalam Keluarga Berencana yang diatur dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.  


Kata childfree ini mungkin masih asing bagi sebagian besar orang. Sehingga ketika pemberitaan ini mencuat, muncul berbagai pendapat yang berbeda. Ada yang mendukung, ada yang menolak, bahkan ada yang tidak peduli. Padahal fenomena childfree ini dapat menimbulkan dampak yang cukup serius bagi masa depan peradaban bangsa jika terus berkembang dan tidak segera dihentikan. 


Masa depan menjadi harapan satu-satunya bagi kita yang hidup di zaman dengan sistem yang rusak ini. Saat ini kita berjuang memperbaiki masa depan agar menjadi lebih baik tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi, apalagi itu disebabkan perbuatan kita saat ini. Anak-anak adalah masa depan itu, karena kita tahu  kelak generasi mendatanglah yang akan mewarisi dan meneruskan peradaban yang kita jalani saat ini. Semua orang harusnya sudah memahami, terutama seorang Muslim. 


Islam sendiri sangat memahami akan hal tersebut. Sejarah telah mencetak banyak generasi-generasi gemilang yang lahir dari orang tua yang memahami pentingnya peradaban masa depan. Negara seharusnya memahami hal tersebut dan hendaknya memfasilitasi berbagai hal untuk menunjang pendidikan anak agar bisa mereka fokus mengembangkan dirinya. Pendidikan akhlak pun tak luput dalam diri anak tersebut sehingga anak menjadi pribadi yang shalih dan shalihah. 


Salah satu contohnya yaitu Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Sejak kecil ia ditanamkan pemikiran menjadi penakluk Konstantinopel, sebagaimana kakek dan ayahnya memiliki impian yang sama. Ia tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dan khatam Al-Qur’an sejak usia dini. Ia pun belajar tentang ilmu-ilmu perang hingga akhirnya berhasil menaklukkan negara adidaya Byzantium atau Romawi Timur pada usia 21 tahun. 


Selain Al-Fatih, masih banyak sosok-sosok generasi gemilang yang lahir pada masa itu. Itu terjadi karena kesadaran orang tua dan negara dalam mengembangkan generasi masa depan semata-mata untuk melanjutkan peradaban Islam. Maka, bila fenomena childfree ini terus berkembang, bagaimana nasib peradaban masa depan? Bukankah kita butuh generasi untuk melanjutkan peradaban di masa depan? 


Selain itu, dalam banyak ayat dan hadits telah disebutkan keutamaan meneruskan keturunan. Di antaranya terdapat dalam Qur’an surah al-Furqan ayat 74, Allah SWT berfirman, 


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 


“Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Furqan: 74). 


Manusia pun memiliki naluri untuk meneruskan keturunan yaitu gharizah na’u. Sebuah hadits yang sering kita lihat dan dengar pun menyebutkan, salah satu amal jariyah kita nanti yaitu doa anak-anak yang shalih. 


Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, 


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 


“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu); sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh.” (HR Muslim, no. 1631) 


Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan, dalam Islam childfree sangat tidak dianjurkan. Sebab, sama saja seseorang mengingkari fitrahnya sebagai seorang manusia. Selain itu banyak keutamaan dalam memiliki keturunan dan kita membutuhkan generasi sebagai penerus peradaban. Oleh karena itu, tugas kita saat ini meluruskan pemahaman tersebut sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di masa depan.(reper/az)

Posting Komentar untuk "Childfree dan Nasib Peradaban"