BUANGLAH DEMOKRASI
Oleh: Edy Purwanto (Komunitas Garis Bawah)
Tidak usah tanya kepada umat Islam syirik itu apa? Karena umat Islam sangat paham tentang arti dari syirik. Ya...menyembah Tuhan selain Allah adalah syirik, menyekutukan Allah adalah syirik. Tentu saja tidak ada yang salah terhadap jawaban itu, 100% benar. Dan tidak perlu tanya pada umat Islam nabinya siapa? 100% jawabnya nabi Muhammad SAW, beliau lah yang membawa risalah Islam. Dari sini clear ya..
Adakah keterkaitannya Islam dengan nabi Muhammad SAW, tentu saja ada, Islam dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ingin tahu lebih dalam tentang Islam maka Rasulullah lah rujukannya. Jika saat ini Rasulullah sudah tidak ada, maka rujukannya adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah yakni Al Qur'an dan Al hadits, dan apa-apa yang ditunjuk oleh Al Qur'an dan Al hadits yakni ijma sahabat dan Qiyas syar'i.
Jika umat Islam memandang syirik adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun apakah berhenti sampai disini. Apakah dengan menyembah Allah melalui sholat kita terbebas dari syirik, apakah dengan menyakini Allah adalah satu satunya Tuhan yang berhak di sembah kemudian juga terbebas dari syirik?. Apakah tidak ada penjelasan yang lain tentang hakikat daripada syirik ?, yang tentu saja bersumber pada Rasulullah Muhammad SAW.
Coba perhatikan hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi didalam kitabnya.
Aku (Adi bin Hatim ath-Tha’i) sowan kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan di leherku terdapat salib dari emas. Maka Nabi menasehatiku, ‘Wahai Adi jatuhkan berhala ini dari lehermu’. Dan aku mendengar Nabi SAW membaca ayat dari surat Bara’ah (ayat 31): Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah. Nabi bersabda: sebenarnya mereka tidak menyembah “ulama” Yahudi dan Nasrani itu tapi mereka ketika “ulama” itu menghalalkan sesuatu maka mereka ikuti, dan ketika “ulama” itu mengharamkan sesuatu mereka ikuti.
Jika kita cermati hadist diatas, ternyata Rasulullah melarang kita mengikuti apa-apa yang dilarang oleh Allah lalu dihalalkan, dan mengikuti apa-apa yang dihalalkan oleh Allah lalu diharamkan. Atau dengan kata lain ada orang yang mengharamkan apa yang Allah halalkan kemudian kita ikuti dan ada orang yang menghalalkan apa yang Allah haramkan kemudian kita ikuti. Dari sini sudah paham kan?. Kalau masih belum, bisa diulang kembali... gratis. Yang paling menarik dari hadits diatas adalah apakah hal yang seperti ini ada dijaman kita yang millenial ini.
Tentu saja ada, jawabnya adalah sistem politik yang sedang berjalan di negeri ini, yups...benar sekali, Demokrasi. Demokrasi meniscayakan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat. Rakyat lah yang membuat hukum dan ketika sudah keluar produk hukum maka rakyat pula yang mentaatinya, dengan kata lain rakyatlah yang mengikutinya. Ketika rakyat menetapkan bahwa membayar pajak adalah wajib, maka rakyat mengikutinya. Ketika rakyat membuat produk hukum penanaman modal asing, maka rakyatlah yang mengikutinya. Ketika rakyat membolehkan zina dan minuman keras, rakyat pula yang mengikutinya.
Tentu saja masih banyak produk hukum yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Bukankah yang demikian merupakan produk hukum yang bertolak belakang dengan hukum Allah ?. Bukankah ini sama dengan apa yang dikabarkan oleh Kanjeng Rasul Muhammad SAW 14 abad yang lalu ketika beliau menyuruh sahabat Adi bin Hatim untuk membuang kalung salibnya. Masihkah kita membandel untuk terus mengikuti demokrasi yang jauh dari Islam.
Masihkah kita tidak percaya terhadap Allah SWT yang mempunyai otoritas tertinggi dalam pembuatan hukum dan aturan yang berlaku di dunia dan akhirat? Atau jangan-jangan kita telah melakukan sebuah dosa besar yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT. Saudaraku..buanglah Demokrasi sebagaimana sahabat Adi bin Hatim membuang kalung salibnya. Yakinlah hukum Allah adalah hukum yang benar dan yang baik untuk manusia baik itu muslim maupun non muslim. (reper/az)

Posting Komentar untuk "BUANGLAH DEMOKRASI"