Mengenang Masa Kecil bersama Ibu
Oleh: Mochamad Efendi
Kupandang foto masa kecil yang membuat pikiranku melayang pada masa yang penuh dengan kenangan. Kebersamaan dan kehangatan sekarang tinggal kenangan. Terlihat sosok yang tidak asing bagiku, sedang memangku seorang anak laki-laki kecil yang lucu dan ternyata itu aku. Ibu sungguh banyak berjasa dalam hidupku, namun aku belum sempat membalas semua kebaikanmu, bahkan hanya untuk mengucapkan terima kasih padamu. Engkau sekarang sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, dan masa lalu itu tidak mungkin bisa aku ulang lagi.
Rasa kangen mulai menghinggapi hati ini saat ingat masa-masa kebersamaan yang penuh dengan cerita bersama ibu. Ingin rasanya mengulang masa lalu dan memperbaiki semua kesalahan yang sempat membuat hati ibu terluka. Percikan api amarah sempat menghiasi kisah itu dan membuat hati ini dalam penyesalan. Tapi itulah goresan kisah masa lalu, sedih, senang, tawa dan tangisan sudah terlanjur membentuk satu kisah yang tidak bisa terlupakan, terekam dan tersimpan dalam ingatan. Semua menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
Terlihat di foto itu ayahku yang masih cekatan dan energik dalam menjalankan tugasnya, tapi sekarang juga sudah tidak ada dan pergi untuk selama-lamanya. Terlihat wajah ibuku yang menebarkan senyuman untuk anak-anaknya di foto itu. Teringat saat aku sakit, dia yang dengan sabar menemaniku dan memberi semangat agar segera sembuh. Kasih sayang orang tua tidak berbatas, semuanya dicurahkan untuk anak-anaknya. Tapi semua itu tinggal kenangan karena mereka sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Teringat kenakalan-kenakalanku yang tidak seharusnya aku lakukan sudah membuat semua orang marah, kesal dan terluka. Kakak-kakakku yang menjadi sasaran kemarahan, padahal aku tahu itu adalah kesalahanku. Kedua orang tuaku yang super sabar menghadapi tingkah lakuku yang sering menguji kesabaran mereka. Penyesalan mengalir dalam benakku dan ingin rasanya mengulang waktu dan memperbaiki semua kesalahanku. Masa kecilku lebih banyak kugunakan untuk bermain dan perbuatan yang sia-sia. Belajar tidak maksimal dan terkadang membuat kakakku kesal karena sulitnya aku menangkap pelajaran.
Ingin rasanya kuucapkan terima kasih dari hati yang terdalam kepada mereka yang sabar menghadapi setiap kenakalanku. Ingin rasanya bertemu dengan mereka dan berbincang santai tentang banyak hal. Tapi, sekarang semuanya terasa jauh oleh jarak. Apalagi masa pandemi seperti saat ini yang tidak bisa berkunjung ke tempat saudara, sebagai gantinya hanya bisa bertegur sapa lewat WA. Dulu berkumpul dan bersama dalam satu rumah yang banyak menceritakan kisah yang sekarang menjadi kenangan.
Masih terbayang diingatanku setiap bagian di rumah itu. Dapur tempat ibu menyiapkan semua hidangan untuk keluarga. Nampak dua kompor minyak tanah digunakan untuk memasak air atau menggoreng lauk pauk. Disana juga ada tungku dengan kayu bakar untuk memasak nasi, tidak pakai rice-cooker yang bisa masak nasi dengan cepat, tanpa harus menunggui dan tidak takut gosong. Tak jauh dari tungku dan kompor, sebuah gentong besar yang berisi air untuk memasak. Terdapat satu dipan yang terbuat dari bambu, untuk ibu duduk menyiapkan semua bahan untuk dimasak. Setiap pagi ibu bangun sebelum subuh untuk menyiapkan semua hidangan, makanan dan minuman untuk seluruh anggota keluarga. Sebelum sholat, shubuh ibu sudah menyiapkan semuanya untuk sarapan.
Didepan kamar mandi, ada sebuah tempat duduk permanen dibuat dari semen. Disana biasanya aku bermalas-malasan dan tiduran sebelum masuk kamar mandi dan menyiapkan semua untuk pergi ke sekolah. Sebelum mandi kutengok ke meja makan, semua makanan lezat sudah tersedia disana dan siap untuk disantap. Sambel belimbing dan ikan kelotok makanan favoritku yang ibu selalu sediakan untuk memberiku semangat disetiap pagi sebelum pergi ke sekolah. Segelas teh hangat membuat tubuh segar dan siap untuk belajar.
Ayahku dengan rambut putihnya, tapi tetap semangat pergi bekerja setelah menikmati makanan yang disediakan oleh ibu. Begitupula kakak-kakaku terlihat siap berangkat sekolah, setelah menyantap makanan lezat hasil karya seorang ibu yang penuh cinta didalam hatinya pada keluarga. Kami bersama ngobrol di meja makan sambil menikmati hidangan sebelum berangkat meninggalkan rumah. Kehangatan dan keakraban yang saat ini mulai menghilang dan diganti dengan kesibukan bersama HP.
Hanya ibu yang tetap di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Entah apa yang sudah dilakukan ibu, yang pasti setiap kita pulang, rumah sudah terlihat bersih dan rapi, padahal kita tidak punya pembantu untuk melakukan semua itu. Ibu begitu kuat dan hebat, tanpa ada kata mengeluh, tapi semua dilakukan dengan ikhlas untuk keluarga yang dicintainya. Luar biasa tidak ada penghargaan atau pujian buat ibu, tapi dia begitu semangat melakukan semua kebaikan buat kami. Baru kusadari begitu besar jasa ibu, tapi kata terima kasih belum sempat kuucapkan saat aku bersama dia. Seolah semua itu biasa saja dilakukan secara istiqomah setiap hari tanpa ada keluh kesah keluar dari mulut ibu, tapi kata-kata yang selalu menguatkan dan membakar semangat anak-anaknya untuk terus belajar dan terus berubah menjadi orang yang lebih baik. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Mengenang Masa Kecil bersama Ibu"