Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemuda dan Kebenaran yang Samar


 Oleh: Khairul Nisa Afdilah, Mahasiswi di Depok


Beberapa muda-mudi tampak asyik bersenda gurau. Tanpa risih terkadang terdengar kata-kata yang tidak seharusnya keluar dari lisan mereka. Bahkan kata-kata kotor sudah menjadi hal biasa terucap. Parahnya beberapa hal terkait agama kadang menjadi bahan gurauan. Miris, namun nyata terjadi di tengah pergaulan sosial masa kini. 


Hal ini terjadi saat kebanyakan para pemudanya jauh dari Rabbnya namun dekat dengan kemaksiatan. Jauh dari aturan kebenaran Sang Pencipta. Masing-masing individunya masih samar dalam melihat kebenaran, padahal sudah berusia dewasa. Bisa jadi mereka belum tahu atau belum mau tahu tentang kebenaran yang hakiki. 


Parahnya, ketika diberi nasihat tutup telinga. Kadang berdalih ‘Lebih baik tidak tahu sama sekali terkait agama daripada tahu tapi mendapat dosa double bila tidak mengerjakan’. Sungguh miris, seakan mereka menutup telinga dan hati dari kebenaran.


Sekularisme liberal tampaknya sudah tertanam cukup dalam pada setiap individu generasi milenial. Mereka lebih mengenal dan memiliki wawasan yang luas terkait idola mereka, ketimbang mengenal Rasul mereka. Mereka merasa lebih asing dengan aturan yang berasal dari agamanya (Islam), ketimbang dengan aturan budaya Barat. Para pemudanya disibukkan dengan obrolan yang sia-sia, seperti membahas tentang selebgram, musik, film juga makanan yang sedang hits. Kalau pemudinya disibukkan dengan berbagai produk perawatan juga fashion terkini, dengan tujuan agar bisa glow up atau bersinar dari segi fisik.


Tanpa mau menambah tsaqafah atau pemahaman mereka tentang Islam. Alhasil para pemuda-pemudi abad ini banyak yang terlihat menarik secara visual, namun bobrok adab dan akhlaknya. Nilai-nilai kebenaran dalam diri seakan perlahan mulai hilang, padahal nanti merekalah yang akan menjadi penerus peradaban, akan melahirkan generasi berikutnya. Modal fisik saja tak cukup untuk mendidik generasi setelahnya.


Tentu saja penyebab itu semua karena mereka tidak memahami betul tentang akidah Islam yakni pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan, apa-apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan serta tentang hubungan kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.


Ini semua terkait tiga pertanyaan mendasar manusia: Dari mana manusia berasal? Dari Allah. Untuk apa manusia hidup? Untuk beribadah kepada Allah. Akan ke mana setelah mati? Akan kembali kepada Allah dengan mempertanggungjawabkan amalnya selama hidup di dunia. Pemikiran yang mendasar inilah sebagai keimanan kita akan adanya Sang Pencipta alam semesta Allah SWT.


Padahal, Allah SWT dalam Qur’an Surah al-Ghasyiyah ayat 17-20 menyuruh kita memperhatikan dan merenungi kebesaran-Nya. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”


Ketika kita merenungkan dan memikirkan ayat di atas, konsekuensinya akan semakin yakin Allah SWT Sang Pencipta alam semesta. Sehingga keimanan kita akan mantap. Nah, kalau para pemuda sudah meyakini hal tersebut, berarti sudah berakidah Islam, dan konsekuensinya akan senantiasa terikat dengan hukum syara' secara kaffah. Sehingga, kebenaran yang samar pun akan tersingkap dengan jelas. Tentunya, akan membawa para pemuda dari kegelapan menuju cahaya, dari kaum jahiliah menjadi beradab.  


Maka, bagi kalian para pemuda yang masih menjadikan agama sebagai bahan gurauan, tolong berhenti, karena agama ini bisa sampai kepada kita berkat darah para syuhada. Demi tersampaikannya risalah suci kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Wahai para pemuda, kalau belum bisa menjadi pejuang dalam membela agamamu, setidaknya jangan menghina agamamu. Bukankah lebih baik diam daripada mengatakan hal yang tidak berguna. (repe/az)

Posting Komentar untuk "Pemuda dan Kebenaran yang Samar"