Tingginya Peradaban Manusia karena Islam
Oleh: Mochamad Efendi
Tingginya peradaban manusia bukan ditentukan megahnya infrastruktur yang mampu dibangun. Gedung-gedung pencakar langit, jembatan kokoh yang tidak tergoyahkan ataupun istana megah menjulang tinggi yang berlapis emas, bertahtakan intan dan berlian. Bukan kekayaan sebagai indikator kesuksesan dalam Islam , bukan pula bangunan fisik sebagai ukuran tingginya peradaban tapi ketaatan penduduknya kepada Allah SWT. Saat hukum Allah bisa diterapkan secara kaffah dan dijadikan standart berfikir dan bertingkah laku dalam kehidupan baik individu, bermasyarakat, maupun bernegara, disitulah tingginya peradaban manusia.
Rendahnya peradaban saat kehidupan manusia jauh dari aturan Allah. Islam datang untuk merubah kehidupan jahilyah yang rendah menjadi masyarakat madani dengan peradaban yang tinggi. Sungguh rendah peradaban, saat membiarkan perbuatan tidak manusiawi terjadi. Jika yang haram dihalalkan sementara yang wajib dilarang, sungguh akan membawa kerusakan dan rendahnya peradaban. Disaat yang kuat bebas menindas yang lemah, penguasa bisa memaksakan kehendaknya yang tidak manusiawi pada rakyatnya, oligargi menguasai sebagian besar kekayaan negeri, sementara keadillan hanya illusi bagi rakyat jelata yang tidak berdaya, saat itulah peradaban manusia terpuruk dan hancur pada level terendah. Masihkah kita berharap dari demokrasi untuk membangun peradaban manusia yang luhur dan mulia. Hanya Islam yang sudah terbukti merubah kehidupan jahiliyah yang rendah menjadi kehidupan Islami dengan peradaban tinggi.
Kehidupan di Arab sebelum datangnya Islam dikenal dengan istilah jahiliyah atau kebodohan. Masyarakat Jahiliyah ini identik dengan peradaban yang sangat buruk. Pelacuran dimana-mana, pertumpahan darah, perbuatan keji yang tak dapat diterima akal sehat. Kondisi sosial bangsa Arab Jahiliyah memiliki klasifikasi berbeda-beda dimana kaum bangsawan mendapat kedudukan terpandang. Mereka memiliki otoritas dan pendapat yang mesti didengar. Mereka yang kuat menindas yang lemah, terbukti adanya perbudakan yang kemudian dihapus peradaban Islam yang memuliakan manusia.
Gaya hidup mereka terbiasa bercampur baur antara kaum laki-laki dan perempuan. Boleh dikatakan kehidupan mereka jauh dari akal sehat. Kesombongan, kemarahan, dan ketidaktahuan membuat mereka terperosok kedalam kesesatan yang nyata. Kepercayaan sesat, peribadatan yang salah, kekuasaan yang sewenang-wenang, dan ketidakadilan hukum menciptakan kondisi yang menimbulkan rasa takut, khawatir, dan kekacaauan yang tidak kunjung berakhir.
Islam datang untuk merubah semua keadaan yang tidak manusiawi menjadi peradaban Islami yang tinggi. Harkat martabat perempuan dijunjung tinggi, tidak lagi menjadi barang yang bisa dijual belikan. Peradaban yang tidak manusiawi perlahan dihapus dan diganti dengan kehidupan bermoral yang mendudukkan manusia sebagai makhluk mulia. Bukankah, manusia akan menjadi sebaik-baik makhluk saat mereka beriman dan berbuat kebaikan sesuai dengan akidah yang benar dan lurus, Islam. Sebaliknya, mereka menjadi seburuk-buruk makhluk saat mereka menolak diatur dengan Islam dan lebih memilik kebebasan tanpa aturan dan lebih mengedepankan nafsu, kesombongan dan kebodohan.
Namun demokrasi mempertahankan dan memelihara rendahnya peradaban. Budaya saling caci dan maki seolah dibiarkan sebagai bentuk kebebasan. Budaya yang sesat dibiarkan dan dipertahankan dengan dalih sebagai budaya lokal yang harus dijunjung tinggi. Sementara, kesombongan oligargi dan segelintir orang dilingkaran kekuasaan dibela, sebaliknya yang menyampaikan kebenaran kepada penguasa diancam dan dibungkam. Orang yang kritis dan berani menyuarakan kebenaran dikikis habis. Fitnah dan ujaran kebencian seolah boleh bagi para buzzer yang mendukung kekuasaan. Agama yang lurus dan mulia dibiarkan untuk dinistakan oleh orang-orang culas yang memiliki pemikiran rendah dan mempertahankan kebodohan. Demokrasi membela yang kuat dan tidak berpihak pada yang lemah. Kebenaran hakiki dimusuhi dan dianggap radikal saat kebenaran tidak sesuai dengan keinginan penguasa. Dosa besar yang membawa pada kerusakan tidak dilarang, yang bisa membawa manusia pada runtuhnya moral dan rendahnya peradaban.
Hanya dengan Islam peradaban tinggi dan kehidupan Islami bisa diwujudkan. Bukan bangunan menjulang tinggi menjadi ukuran tingginya peradaban tapi ketaatan penduduk suatu negeri kepada Allah SWT. yang telah menciptakan manusia dan menurunkan aturan agar manusia bisa mulia dan menjadi sebaik-baik makhluk. Keberkahan dan kemudahan akan datang pada penduduk suatu negeri yang beriman dan bertaqwa, bukan kepada mereka yang sudah mendustakan ayat-ayat Allah, apalagi mereka yang berani menistakan agama Allah dengan dalih kebebasan dan dalil logika manusia yang lemah dan sering salah. Saat nafsu dipakai landasan dalam berfikir dan bertingkah laku dengan meninggalkan agama yang lurus dan mulia, bangunan peradaban dihancurkan dan akan membawa manusia dalam kehinaan karena kebodohan dan kesombongan manusia itu sendiri. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Tingginya Peradaban Manusia karena Islam"