Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kejebak Toxic Productivity, Capek Banget Dah!




 Oleh: Nur Itsnaini Maulidia


Sebagai manusia bersikap produktif adalah hal yang menyenangkan. Tapi berbeda jika produktifnya justru membuat lelah dan mengganggu kesehatan mental.


Membahas tentang sikap produktif yang sering kali melelahkan, komunitas SWI Muslimah Bangil mengadakan kajian online dengan tema "Kejebak Toxic Productivity, Capek Banget Dah!" Acara yang diselenggarakan tanggal 17 Maret 2022 ini dipandu oleh Kak Salma sebagai moderator dan Kak Qonita sebagai pemateri.


Kak Qonita menjelaskan bahwa toxic productivity atau workaholic atau kecanduan kerja adalah keinginan tidak normal untuk menjadi produktif setiap saat. Dikatakan toxic karena produktif yang berlebihan bisa bersifat racun buat tubuh dan ini bisa membuat orang menjadi burn out dan mengganggu kesehatan mental yang justru membuatnya menjadi kurang produktif.


Tapi, kenapa banyak banget orang jaman sekarang yang terjebak toxic productivity ini?


Sebarapa penting sih hasil kerja dibandingkan dengan kesehatan yang wajib dijaga? 


Ternyata itu penting banget bagi mereka yang menganut paham kapitalisme.


"Kapitalisme memandang bahwa hidup ini hanya untuk meraih keuntungan materi sebesar-besarnya. Kalau bisa semua waktu diluangkan dan nilainya harus paling maksimal biar kebahagiaan bisa mereka dapatkan. Tentunya ggak peduli itu bisa mengganggu kesehatan mereka. Jika mereka merasa kurang produktif maka mereka merasa nggak berguna dan dalam banget penyesalannya. Bahkan ketika sudah prduktif pun mereka akan merasa bersalah karena harusnya bisa lebih produktif lagi," jelas Kak Qonita.


Munculnya orang-orang yang seperti itu tak lepas dari mindset masyarakat yang menilai seseorang berdasarkan materinya. Pasti teman-teman juga merasakan juga ya di sistem hari ini orang dihargai berdasarkan apa yang mereka miliki. Karena itu, ketika banyak pencapaian, banyak uangnya, rumahnya megah, kendaraannya mewah, jabatannya tinggi dan sejenisnya pasti akan dihargai oleh orang lain.


Orang yang hidup dalam kondisi sebaliknya akan dianggap dekat dengan penderitaan, tak dihargai, bahkan dicaci. Parahnya lagi bisa mati kekurangan karena msyarakat banyak yang tak peduli dengan nasib orang lain alias individualisme.


"Ini membuat banyak orang tidak paham jati diri mereka dan bertekad besar mencari sebanyak-banyaknya materi. Maka muncullah toxic productivity ini. Lagi dan lagi, penyebabnya adalah sistem kapitalisme yang membentuk mindset salah di tengah masyarakat," ungkap Kak Qonita.


Kita sebagai seorang muslim seharusnya paham bahwa hidup ini adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. So, menjalaninya pun harus menggunakan standar yang Allah tetapkan, yaitu keridhaan-Nya. Allah akan ridha ketika pola pikir dan pola sikap kita sesuai dengan Islam.


"Orang yang pola pikirnya Islami akan paham bahwa yang seharusnya dikejar adalah amal saleh karena itu yang akan menentukan tempat akhir kita selama kematian yang setiap orang nggak bisa lari darinya. Jadi, nggak bakalan tuh pikirannya dipenuhi dengan ambisi dunia, nggak akan menyusahkan diri untuk perkara yang nggak dibawa mati, nggak akan deh kena toxic productivity," tutur Kak Qonita.


Cara agar mempunyai pola pikir dan pola sikap yang Islami adalah dengan mengkaji Islam kaffah. Selain mengkaji Islam kaffah kita juga harus mendakwahkannya ke yang lain supaya mereka juga tercerahkan dengan Islam. Dengan ini, seseorang tidak akan membentuk standar perbuatan sendiri akan tetapi menjadikan ridha Allah sebagai standar perbuatannya. Sehingga tidak akan ada arus yang menyeret kita pada kehidupan yang materialistik. Kita bisa fokus beramal saleh tanpa godaan duniawi karena masyarakatnya Islami.


Sayangnya masyarakat Islami tidak bisa terbentuk tanpa adanya negara yang menerapkan aturan Islam secara kaffah atau yang disebut dengan Khilafah sebagaimana pada masa kejayaan Islam selama 13 abad. Khilafah akan membentuk masyarakat menjadi masyarakat lslami dengan kebijakan-kebijakan yang bersumber dari Islam. 


"Oleh karena itu jika kita tidak mau terjebak dalam toxic productivity, kita harus semangat mengkaji Islam serta memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi dalam bingkai Khilafah," pungkas Kak Qonita mengakhiri materi kajian online. Wallaahu a'lam. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Kejebak Toxic Productivity, Capek Banget Dah!"