Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup Mulia dengan Islam, Hina karena Menjadi Budak Dunia


 Oleh: Mochamad Efendi


Sungguh bodoh orang yang mau ditumbalkan demi kepentingan elit politik yang haus akan kekuasaan dan nikmat dunia yang semu dan menipu. Di dunia terhina, apalagi di akhirat nanti, karena tidak punya prinsip dan tujuan yang benar dalam hidup. Demi uang dan jabatan rela menggadaikan keyakinan yang bisa membuatnya mulia, bahkan rela jadi budak dunia yang bisa membuatnya terhina. Sudah terbukti mereka yang menjadi budak dunia, hidupnya terhina tapi kenapa mereka masih mau mengambil lakon hidup yang menjadikannya merugi bahkan celaka. Hanya untuk Sucuil nikmat dunia rela kehilangan kebahagiaan hakiki. Nafsu untuk menumpuk harta kekayaan dan menggenggam kekuasaan, membuat hidup menderita dan jatuh dalam kehinaan untuk selama-lamanya.


Akibat dari pilihan hidup yang meninggalkan keyakinannya yamg lurus dan mulia demi membela kekuasaan yang dzalim, penderitaan, rasa sakit dan kehinaan harus siap dirasakan. Penyesalan yang tidak berakhir karena salah dalam memilih jalan hidup.  Seorang penggiat sosial media yang suka menghina Islam dan menjadi penjilat penguasa, buzzer ditelanjangi dan babak belur dikroyok ditengah kerumunan massa. Meskipun memiliki profesi yang mulia sebagai dosen namun lisan dan perbuatannya yang suka menyakiti umat Islam akhirnya terbayarkan. Dia dihinakan menjadi orang yang rendah karena perbuatannya sendiri. Tidakkah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak salah dalam memilih jalan hidup.


Pelajaran hidup dari seorang buzzer yang terhina karena sudah menjadi budak dunia. Satu persatu pasti akan menjadi tumbal kekuasaan yang berakhir menyakitkan. Hanya untuk remah-remah roti kekuasaan, rela menjadi tumbal kekuasaan. Terhina, babak belur dipukuli massa dan ditelanjangi sungguh sakit dan terhina di dunia, dan lebih berat lagi adzab di akhirat nanti. Hidup memang pilihan mau mulia dengan Islam atau terhina dengan menjadi budak dunia, meninggalkan putunjuk dari pencipta Manusia, hidup dan alam semesta. 


Manusia akan menjadi sebaik-baik makhluk saat mereka beriman dan berbuat banyak kebaikan yang dikaitkan dengan keyakinan yang banar. Mereka akan mulia karena ketaqwaan, bukan harta atau kekuasaan. Allah berfirman dalam al-Qur'an surat Al-Bayyinah ayat 7, "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk." Tidakkah kita ingin menjadi orang-orang mulia, sebaik-sebaik makhluk, saat hidup kita mengikuti petunjuk jalan yang lurus dan mulia, Islam.

 

Sebaliknya, mereka yang ingkar akan terhina karena dunia dijadikan tujuan. Hidup resah dan dalam ketakutan meskipun dikelilingi harta dan keluasaan. Hati kering jauh dari rasa bersyukur, sehingga kebahagiaan hakiki tidak bisa dirasakan. Untuk apa harta dan kekuasaan kalau tidak bisa membawa kebaikan dan kebahagiaan. Jadi budak dunia, terhina dan jauh dari kebahagiaan adalah pilihan hidup dari mereka yang tidak mampu berfikir cemerlang. Gemerlapnya dunia telah menutupi hati dan pemikiran mereka sehingga jauh dari jalan orang-orang yang diberi nikmat. Jalan sesat dipilih yang mengantarkan pada murka Allah dan adzab yang pedih. 


Bagi orang beriman, dunia bukanlah tujuan, tapi tempat untuk menciptakan banyak jejak-jejak kebaikan sebagai bekal nanti mengarungi kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Mereka layak untuk mendapatkan sebaik-baik tempat kembali, surgaNya. Sungguh, bagi orang yang bertaqwa akan memperoleh kemenangan. Kehidupan yang menyenangkan dan mereka tinggal untuk selama-lamanya. Hidup mulia karena mereka rela diatur dengan Islam secara kaffah. 


Mereka yang memutuskan jadi budak dunia, layak mendapatkan seburuk-buruk tempat kembali, neraka jahanam. Bahkan, adzab dunia juga sudah dirasakan karena pilihan hidup menentang kebenaran. Sungguh, celaka hanya untuk secuil nikmat dunia rela kehilangan kebahagiaan hakiki. Hidup adalah pilihan, dan semoga kita selalu mendapat petunjukNya agar bisa memilih jalan yang lurus, bukan mereka yang dapat murka Allah, bukan pula mereka yang tersesat. 


Ingin hidup mulia atau terhina adalah pilihan. Jika kita berpihak pada kebenaran hakiki dengan mempersembahkan amalan terbaik, kita layak mendapatkan kemuliaan. Namun, Keberpihakan kita pada kemungkaran dengan meninggalkan ajaran Islam yang lurus dan mulia, akan membawa kita pada kehinaan. Berfikir cerdas dan cemerlang akan membuat kita mampu memilih jalan hidup yang benar. Mengatur hidup kita dengan Islam adalah pilihan yang benar. Sebaliknya, memilih hukum kufur meskipun hasil kesepakatan adalah pilihan yang akan membawa pada kesengsaraan. Jalan satu-satunya agar negeri ini bisa keluar dari berbagai masalah yang rumit harus kembali pada sistem Islam yang akan membawa keadilan dan kesejahteraan karena diterapkannya Islam secara kaffah dalam kehidupan. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Hidup Mulia dengan Islam, Hina karena Menjadi Budak Dunia"