Penulis Mabda'i Boleh Mati, Tapi Karyanya Tetap Hidup Menginspirasi Umat
Oleh: Mochamad Efendi
Mumpung masih bisa bernafas secara bebas tanpa alat bantu, gratis tanpa harus membayar, jantungpun masih berdetak secara teratur sebagai tanda masih hidup, kenapa tidak kita gunakan waktu untuk menulis agar hidup lebih berarti. Memiliki potensi panca Indra yang masih mampu menangkap fakta dengan jelas yang ada disekitar, dan akal masih bisa digunakan untuk berfikir dengan baik, harusnya waktu tidak dibiarkan begitu saja tanpa goresan ide-ide islami yang menginspirasi, agar hidup lebih bermanfaat. Menulislah agar hidup terasa indah dan berkah. Potensi untuk menuangkan ide harus terus dilatih dan dibiasakan agar pikiran jernih dan ilmu terus bertambah. Waktu terus berjalan, goresan ide-ide islami tidak boleh berhenti agar banyak umat terinspirasi, mau berubah dan hijrah, mengatur hidup dengan Islam secara kaffah.
Penulis mabdai' tidak boleh lelah untuk menyuarakan kebanaran Islam dengan goresan kata-kata indah yang menyentuh hati dan mencerahkan pemahaman yang diupload di media sosial agar lebih banyak yang tercerahkan dan tulisan kita bisa abadi tersimpan di jagat raya dunia Maya yang siap dibaca kapan saja, meskipun kita tidak lagi hidup di dunia. Hanya kematian yang akan menghentikan kita untuk menulis, namun karya kita akan terus hidup menginspirasi umat. Hidup ini pasti berakhir pada satu titik kematian, yang memaksakan kita harus meninggalkan semua yang kita miliki, namun tulisan kita tidak akan pernah mati, terus hidup selama masih ada yang mau membacanya, dan menjadi mesin pahala bagi kita saat ada yang terinspirasi dan berubah menjadi lebih baik. Oleh karena, itu buatlah tulisan berkonten Islami agar hidup tidak merugi. Keberpihakan kita pada Islam, kebenaran hakiki, itulah yang terpenting, bukan hasil. Tulisan kita dengan ide-ide Islami harus terus ada untuk menghancurkan pemikiran sesat, sekularisme yang ingin menjauhkan Islam dari kehidupan.
Sedih rasanya saat mendengarkan teman seperjuamga pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Penulis yang konsisten pada idealismenya, tidak berubah meskipun banyak godaan dan ancaman yang ingin membelokkan arah perjuangan. Kejenuhan dan kebosanan adalah godaan terbesar untuk tetap kreatif dalam menulis dengan ide-ide Islami. Gugur satu tumbuh seribu, penulis-penulis mabda'i yang mengangkat pena untuk melontarkan ide-ide islami yang siap menembus ribuan kepala bukan untuk melukai atau membunuh mereka tapi menghancurkan pemikiran sesat yang ada di kepala mereka, dan menggantinya dengan pemikiran Islami yang lurus dan mulia.
Narasi sekularisme yang bertebaran di sosial media harus dilawan dan diluruskan agar tidak menyebar meracuni pemikiran umat. Tetap semangat meskipun tidak dapat imbalan materi, namun cukuplah janji Allah berupa surgaNya, sebagai imbalan atas usaha dakwah kita lewat tulisan yang tersebar di jagat raya sosial media. Meskipun penulis mabda'i harus pergi meninggalkan dunia, tulisannya tetap hidup mencerahkan pemikiran umat dengan Islam.
Tetaplah menulis dari idealisme dan keyakinan yang benar bukan pesanan dari yang mampu bayar mahal agar hidup ini bermanfaat untuk orang banyak. Menyuarakan kebenaran Islam dan melawan kedzaliman, kemungkaran dan yang bertentangan dengan ketetapan Allah dan RasulNya. Tulisan harus memenuhi jagat raya dan menggesar konten-konten sampah, dan menghancurkan kesesatan yang ingin menghilangkan Islam dalam kehidupan.
Duduk sendirian atau bersama teman, ide-ide menarik bisa bermunculan dan harus segera diikat, jangan dibiarkan lepas seperti binatang ternak. Lagi sedih, senang bahkan dalam masalah, pasti ada hikmah yang bisa ditulis dan bisa dikaitkan dengan Islam sebagai solusi fundamental. Rangkaian kata-kata yang menyentuh hati dan mencerahkan pemahaman sungguh bisa menginspirasi seseorang untuk berubah, hijrah dan berislam kaffah. Sungguh indah hidup ini saat kita bisa menulis untuk mengalirkan ide-ide yang dalam kepala agar pemikiran kita jernih dan ilmu terus bertambah. Tabiat ilmu seperti halnya air atau harta kita, jika tidak dialirkan atau diinfakan, maka air akan menjadi kotor begitu pula harta kita tidaklah berkah karena yang disimpan saja. Yakinlah, sumber air, harta dan ilmu akan terus mengalir dan bertambah atas izin Allah. Sungguh ini nikmat luar biasa menjadi penulis mabda'i yang terus mengalirkan ide-ide islami, sehingga pemahamanya menjadi jernih dan ilmunya terus bertambah karena dakwah.
Tetaplah hidup saudaraku dengan karya-karya mu yang menginspirasi, menyentuh hati dan mencerahkan pemahaman umat dengan Islam. Karyamu bisa menjadi mesin pahala yang mengalirkan amalan jariyah, meskipun engkau sudah meninggalkan kita. Karya-karya mu akan terus hidup dan dibaca oleh mereka yang butuh pencerahan agar berubah menjadi lebih baik. Tujuan mulia, kau tidak ingin saudaramu tersesat. Kau ingin selamatkan mereka agar bisa bersama-sama memasuki surgaNya. Penulis mabda'i, karyamu akan terus menginspirasi, meskipun dirimu harus pergi untuk selama-lamanya. Sementara, yang masih diberi kesempatan untuk hidup, teruslah berdakwah dengan penamu agar mereka bisa menolongmu saat tidak ada yang bisa menolongmu, kecuali jejak-jejak kebaikan yang salah satunya tercipta oleh usaha dakwahmu lewat tulisan yang sudah tersebar di media sosial. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Penulis Mabda'i Boleh Mati, Tapi Karyanya Tetap Hidup Menginspirasi Umat"