Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

War Tiket Coldplay, Bukti Matinya Empati


 Oleh: Intan Nur Aini


Assalamu'alaikum brother and sister fillah..


Guys, band asing bernama Coldplay asal Inggris berencana menyelenggarakan konser pertamanya di Indonesia pada 15 November 2023, tempatnya di stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Daftar harga tiket dan layout konser Coldplay di Jakarta, Indonesia resmi dirilis pada Kamis 11 Mei. Dalam unggahan di media sosial, promotor mengumumkan tiket akan terbagi dalam 11 kategori. Walaupun harga tiketnya dibanderol mahal, tapi masyarakat tampak antusias dan siap war (berperang) untuk mendapatkannya.


Kategori harga tiket termurah adalah Numbered Seating (CAT 8) seharga Rp.800.000, sedangkan kategori termahal yang dijual bernama Ultimate Experience dibanderol seharga Rp11 juta. Belum lagi ditambah pajak 15% maka pembelian tiket melebihi harga asli. Meski total tiket yang dijual lebih dari 50 ribu adalah jumlah yang sangat banyak, tapi tetap saja masyarakat berburu dan memperebutkan tiketnya. Masyarakat rela merogoh kocek yang dalam mengambil tabungan, ada yang mencari pekerjaan sampingan, menjual barang berharga bahkan sampai pinjam uang ke pinjol, huh padahal itu bukan sesuatu yang mesti dipenuhi.


tren war tiket konser Coldplay ini merupakan efek dari FOMO (fear of missing out) alias khawatir melewatkan euforia Coldplay. Mereka berdalih dengan ikut konser adalah self reward bagi mereka karena telah bekerja keras selama ini. Namun sangat disayangkan penyaluran self reward ini yang salah tidak memperhatikan halal dan haram, tidak peduli ikhtilat (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan), bahkan rawan terjadinya pelecehan seksual, mereka lebih mementingkan kesenangan, asalkan bisa bersenang-senang. Just for fun. Astaghfirullah... Semoga kita dijauhkan dan dilindungi dari hal yang tidak Allah sukai.


Padahal menurut standar Bank Dunia, sebanyak 110 juta jiwa atau 40% penduduk Indonesia terkategori miskin. (CNBC Indonesia, 11-5-2023).  Masih banyak orang-orang yang harus bekerja keras hanya untuk makan satu kali, banyak juga kita temui orang-orang jalanan, anak-anak kecil yang jadi pengamen, badut berkeliaran, silverman dan lainnya. Jangankan untuk berfoya untuk tempat berteduh saja masih ada yang tidak layak. Banyak pula anak-anak yang putus sekolah menurut, Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan, ada 75.303 orang anak yang putus sekolah pada 2021.


Fakta dari realitas ini sudah matinya rasa empati di kalangan masyarakat Indonesia, dan ini menunjukan kesejenjangan ekonomi yaitu keadaan yang tidak seimbang di masyarakat yang mengakibatkan perbedaan yang mencolok dari pengasilan antara masyarakat kelas atas dan bawah.


Misalnya sering terjadi ketika bayar parkir atau memberi infak cari uang pecahan yang paling kecil di dompet tapi untuk foya-foya ngak tanggung-tanggung rela ngeluarin uang yang nominalnya ngak sedikit. Padahal dengan memberi uang ke tukang parkir itu bisa membantu perekonomian mereka. Ini salah satu contoh matinya empati yang terjadi di kalangan masyarakat. Sebab dari matinya empati dan kesenjangan ekonomi yaitu karena keadaan yang sekarang yang individualis dan kapitalis.


Berbeda dengan Islam yang mengajarkan skala prioritas atas amal perbuatan, berbagi dengan sesama, peduli dengan lingkungan sekitar dan gemar sedekah. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw, yang artinya


"Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” (HR Muslim)."


Maka dari itu yuk guys kita sebagai orang mukminin harus bisa menempatkan kesenangan kita sesuai dengan perintah dan larangan Allah, sekaligus memiliki empati terhadap sesama. []

Posting Komentar untuk "War Tiket Coldplay, Bukti Matinya Empati"