Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Adzan Terakhir Bilal, Bukan Rindu Biasa...


 Oleh: Alfina Burhan 


Nama lengkapnya adalah Bilal bin Rabah Al-Habsyi. Bilal r.a. juga kerap dipanggil dengan nama Abu Abdillah. Siapa yang tidak mengenal Bilal? Seorang hamba sahaya fenomenal di jamannya. Muadzin kesayangan Rasulullah dan umat Islam. 


Setelah Rasulullah wafat, Bilal bin Rabah enggan untuk mengumandangkan adzan dan memutuskan untuk meninggalkan Madinah, Ia meminta izin pada Abu Bakar r.a. untuk berhenti menjadi muadzin Rasul. Ia tidak lagi sanggup mengumandangkan adzan. Bilal akhirnya pindah ke negeri Syam dan menetap di sana. 


Umar bin Khattab kemudian mengunjungi rumah Bilal r.a. yang berada di Syam dan membujuknya.


"Tapi, umat muslim di Madinah sedang membutuhkanmu, Bilal. Mereka ingin mendengarkanmu mengumandangkan azan. Mereka rindu suaramu. Mereka rindu lantunan azanmu, wahai muadzin Rasulullah!", ucap Umar r.a. sebagaimana dilansir dari detikcom.


Untuk kembali ke Madinah dan kembali mengumandangkan adzan merupakan hal yang begitu berat bagi Bilal bin Rabah. Ia terlalu rindu pada Rasulullah sehingga tidak mampu melepas kepergian beliau.


Dikisahkan pada suatu ketika Bilal r.a. bertemu dengan Baginda Rasulullah dalam tidurnya. Mimpi tersebut menjadikan Bilal r.a. siap untuk berangkat ke Madinah mengunjungi makam Rasulullah.


Sesampainya di sana, Bilal r.a. bertemu dengan cucu-cucu kesayangan Rasulullah, yaitu Hasan dan Husein. Husein kemudian berkata,


"Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan azan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek."


Umar r.a. yang juga ada di sana pada saat itu turut membujuk Bilal r.a. untuk kembali mengumandangkan adzan. Umar r.a. juga menyampaikan bahwa seluruh sahabat juga merasakan hal yang sama. Lalu Bilal tersadar dan merasa inilah waktunya untuk menumpahkan rasa kerinduannya pada Rasulullah.


Akhirnya Bilal r.a. memutuskan untuk adzan yang terakhir kalinya. Suaranya yang merdu mulai terdengar ke seluruh penjuru kota Madinah. Ketika lafadz Allahu Akbar ia kumandangkan, kota Madinah seketika menjadi sunyi dan senyap. Seluruh aktivitas pun terhenti pada saat itu.


Seluruh penduduk Madinah pun terkejut mendengar suara merdu yang sudah lama menghilang tiba-tiba terdengar kembali. Suara merdu tersebut mengingatkan umat Islam akan sosok Rasulullah juga momen-momen ketika mereka bersama dengan beliau.


Ketika Bilal r.a. mengumandangkan lafadz asyhadu alla ilaha illallah, seluruh penduduk Madinah mulai berlarian mencari sumber suara dan mulai berteriak histeris.


Hingga pada lafadz berikutnya, suara Bilal r.a. mulai terdengar parau ketika melafadzkan asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Ia pun mulai terisak ketika menyebutkan nama orang yang paling ia rindukan. Dan ini adalah adzan terakhir yang dikumandangkan oleh salah satu sahabat Nabi bersuara merdu, Bilal bin Rabah.


Bukan Rindu Biasa


Kerinduan Bilal dan umat Islam di Madinah pada saat itu bukanlah kerinduan biasa. Kecintaan mereka terhadap Rasulullah adalah kecintaan istimewa. Kerinduan dan kecintaan yang menyatu dalam satu ketaatan. Masya Allah.


Rasulullah wafat setelah Islam sempurna sebagai agama dan sebagai sistem kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 3, yang artinya, 


"....Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu...."


Sehingga di momen Maulid dimana umat Islam memperingati kelahiran Rasulullah SAW, ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil agar maulid Nabi memiliki makna yang kuat, dan bukan sekedar seremonial saja.


Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H, Ustadz Ismail Yusanto seorang cendekiawan muslim mengingatkan kita sebagai umat Islam. Bahwa untuk mewujudkan kerinduan dan kecintaan kita kepada Rasulullah, ada beberapa hal yaitu: 


Pertama, mengikuti sifat dan karakter beliau. Sudah dinashkan oleh Allah bahwa Rasulullah ini adalah uswatun hasanah, umat Islam tidak perlu idola lain, tidak perlu teladan lain, karena cukup Rasulullah saja yang dijadikan prototipe dalam seluruh aspek kehidupan. 


Kedua, mengikuti amal-amal dakwah beliau. Rasulullah berdakwah taufid dan Rasulullah berdakwah secara politis. Hingga Islam bisa diterapkan secara kaffah sempurna di Madinah. Sehingga istilah politik itu kotor karena dikotori oleh demokrasi kapitalis yang mengukur semua hal dengan materi. 


Ketiga, mengikuti keistiqomahan Rasulullah dalam dakwah hingga akhir hayat. No debat! Jika Rasulullah tidak terus berdakwah dan dakwah itu dilanjutkan oleh para Khalifah setelah Beliau, pasti kita masih jahiliah hingga saat ini. 


Yaa, dakwah ini ibarat darah. Jika darah terus mengalir maka tubuh tetap bisa hidup. Sama seperti dakwah, jika dakwah terus disampaikan maka Islam akan terus tersebar ke seluruh penjuru dunia. Termasuk hari ini, disaat Islam masih dipandang sebelah mata setelah keruntuhan Kekhilafahan Usmani, maka dakwah harus terus disuarakan, dibumikan, dilangitkan, hingga tidak ada celah kecuali semua diisi dengan dakwah, hingga Allah memenangkan Islam untuk yang kedua kalinya. Wallahu'alam. []

Posting Komentar untuk "Adzan Terakhir Bilal, Bukan Rindu Biasa..."