Bebasnya Palestina Dimulai dari Terbebasnya Belenggu Pemikiran
Oleh: Susanti (Aktivis Muslimah)
Lebih dari 85 hari genosida berlangsung di palestina di tahun ini. Dan, lebih dari 22.000 rakyat Palestina telah syahid. Ibu kehilangan anaknya, suami kehilangan istrinya, istri kehilangan suaminya, anak kehilangan orang tuanya, kakak kehilangan adiknya, adik kehilangan kakaknya, dan berbagai penderitaan yang dirasakan rakyat Palestina.
Hari ini berita tentang palestina seolah redup, dan mulai ditutupi kembali oleh media. Padahal serangan demi serangan kepada rakyat sipil Palestina masih terus dilakukan hingga saat ini. Akan tetapi, satu hal yang pasti bahwa propaganda yang mereka bangun selama ini, untuk menjelekkan citra Islam dan muslimin, telah hancur. Wajah asli di balik topeng mereka, kini telah terungkap. Mata dunia telah terbuka, mengetahui mereka lah dalang dari semua kejahatan.
Kebiadaban Zionis begitu jelas dan terpampang nyata. Sayangnya, tak sedikit dari kaum Muslim seakan tertidur atau tidak mau tahu. Mereka terbelenggu dengan pemikiran-pemikiran sekuler termasuk di dalamnya, paham nation-state, yang selama ini dijejalkan kepada mereka. Sehingga kaum Muslim di penjuru dunia bergeming, belum juga bersatu untuk membebaskan Palestina. Tentara dari negeri-negeri Muslim belum mendapat komando yang satu, untuk melawan zionis dan mengusir mereka. Jika pun ada sebagian umat yang memberikan pembelaan, lambat laun dengan masifnya pengalihan isu lewat media, derapnya pun kian melemah dan sedikit demi sedikit memudar.
Nation-state sendiri, kerap melemahkan kekuatan umat Muslim. Menganggap tiap negeri Muslim memiliki teritorial masing-masing, tidak menjadi satu kesatuan. Terkotak-kotak, sehingga tidak lagi merasa satu tubuh, dan tidak layak untuk saling peduli. Ukhuwah Islamiyah seperti jargon semata. Banjir darah dan air mata di Palestina di satu sisi, uforia kembang api pada malam pergantian tahun, di sisi lainnya. Nir-empati, seperti mati rasa.
Nation-state sebagai derivat dari paham sekuler, bercokol dalam benak kaum Muslim sudah sejak lama. Bahkan menjadi racun yang menikam mati daulah Khilafah Utsmaniyah, yang saat itu berpusat di Turki. Dan semakin hari, gaungnya kian memasung kesadaran umat untuk bersatu padu. Menjauhkan dari terbitnya kemenangan Islam secara universal.
Jika dikaji secara mendalam, pada hakikatnya, bangkitnya suatu peradaban dimulai dari terbebasnya pemikiran suatu generasi. Maka jika peradaban Islam ingin dibangkitkan kembali, maka mestilah mengawali dengan membebaskan pemikirannya agar kembali jernih dan sesuai dengan wahyu Ilahi. Bebas dari semua belenggu pemikiran asing, seperti nation-state tadi. Dan kembali pada pemikiran Islam yang benar. Di mana sumbernya adalah mabda Islam.
Di sinilah perlunya dakwah atau seruan untuk membebaskan pemikiran umat dari belenggu tersebut. Kebangkitan tidak mungkin terjadi karena hebatnya satu orang tokoh semata. Tapi kebangkitan akan terjadi karena hebatnya suatu generasi. Dan, generasi hebat ditandai dengan kualitas pemikirannya. Pun, tidak mungkin muncul dengan tiba-tiba. Harus ada orang-orang yang senantiasa memperjuangkan terbentuknya generasi hebat itu.
Perjuangan setiap orang tidaklah sama. Hamas beserta rakyat Palestina berjuang dan berkorban dengan nyawanya demi membuka mata dunia. Mereka bertahan, dan terus berjihad. Sedangkan perjuangan kita di sini, tidak bisa disamaratakan seperti yang dilakukan oleh rakyat Palestina. Tapi perjuangan kita adalah menyadarkan umat dengan seruan dakwah. Membebaskan pemikiran umat dari belenggu pemikiran asing. Kembali kepada Islam yang sempurna (kaffah). Berawal dari pemikirannya, umat akan bangkit, bersatu, bergerak, dan melawan.
Pertanyaannya, bersediakah kita menjadi bagian dari orang-orang itu. Atau kita hanya menjadi penonton, di tengah urgensi perjuangan?
Wallahu a’lam bish-shawwab. []


Posting Komentar untuk "Bebasnya Palestina Dimulai dari Terbebasnya Belenggu Pemikiran"