Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menemukan Arah Kembali


 



Oleh: Intan Nur Aini

Assalamua’laikum kawan

Gimana nih kabarnya kaleann? Semoga dalam keadaan baik-baik aja ya (aamiinn).

Tapi,, kalau yang ditanya kabar mental/jiwanya gimana nih guys?hmm….

Ngerasa nga sih makin kesini hidup itu makin sulit, kehidupan itu makin pahit, kadang kepala kita suka berisik banget sama pikiran-pikiran yang buat kita capek, kadang ketika bersama orang lain kita suka haha hihi eh giliran sendiri nangis diem-diem. Rasanya tuh masalah datang bertubi-tubi menghantam mental kita.

Emang dunia tuh tempatnya susah. Apa-apa yang kita lakukan di dunia itu rata-rata buat kita sakit dulu. Contoh kecilnya aja ketika kita mau pup* (buang air besar) buang kotoran aja harus ngerasain sakit ngerasain mules dulu. Beda cerita kalau udah disurga tempat kenikmatan tiada tara. Tapi inget bahwasanya Allah udah ngasih tau nih ke kita masalah itu levelnya menyesuaikan kapasitas diri kita. Dalil firman-Nya 

 لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S Al Baqarah : 286).

Dan bahwa masalah itu sama kayak penyakit, sama-sama sakit tapi ada obatnya. Tinggal nih kitanya mau atau engga buat ngikutin instruksi resep dari dokter. Misal kalau punya penyakit magh, tapi sukanya makan seblak level 10, jam makan gak teratur ya auto kambuh dan makin parah. 

Anehnya manusia itu suka banget melakukan hal-hal yang emang dia suka aja, tanpa mikir panjang akibatnya gimana. Makanya ada istilah suka-suka gw. Giliran udah sakit/kena batunya aja, malah nyalahin takdir bahkan sampai menyalahkan tuhan. Padahal Allah udah kasih anjuran buat kita, yaitu awamirillahi wa nawahihi ( perintah dan larangan dari Allah). Sebenarnya apa yang Allah perintahkan untuk kita pasti di dalamnya mengandung kebaikan, dan apa yang Allah larang pasti didalamnya terdapat keburukan.

Udah banyak banget kasus orang yang bun*h diri dari kalangan yang kalau kita kira hidupnya udah sejahtera, kayaknya enak-enak aja, kaya raya, good looking, punya keluarga. Tapi mereka gak bahagia, padahal udah melakukan apa aja yang mereka mau, tapi mereka ngerasa hampa. Jadi sebenernya apa sih yang kita harapkan dari dunia ini. Jangan-jangan kita dirancang oleh Sang pencita kita punya peran atau misi di dunia ini, yang bisa membuat kita bertahan walaupun di situasi yang gak nyaman.

Kalau di ibaratin kita adalah sebuah produk sebutlah hp atau tablet, kita liat-liat terus kepikiran kayaknya ini (hp/tab) bisa deh buat dipakai talenan, ( taukan talenan, alat yang buat potong-potong sayuran) terus kita gunain semau kita, bisa sih dipakai buat talenan berfungsi juga, Cuma yah gak singkron kan sama tujuan dibuatnya produk itu. Yang ada malah bikin hp\tab kita rusak. Padahal di setiap produk sudah ada buku pegangannya atau yang biasa disebut manualbook disitu udah ada tatacaranya, dijelasin juga fungsi-fungsi dari perangkatnya.

Sama halnya kita sebagai manusia bebas melakukan hal apa aja yang kita mau. Bahkan manusia ini bisa melakukan hal yang diluar nurul, eh nalar gitu. Coba aja liat di ajang pencaharian bakat banyak buanget hal-hal nyeleneh yang sampai membuat kita mengaga. Tapi balik lagi emang kita disuruh buat melakukan itu, udah sesuai belum sama peran kita didunia ini. Hati-hati apa yang kita kerjakan itu keliru.

Makanya guys di kitab-kitab dibahas hal yang paling dasar banget, simpul besar pertanyaaan basic di kehidupan setiap manusia. Namanya uqdatul kubro, yang mana kalau kita bisa menjawab  pertanyaan ini dengan benar sesuai akal dan fitrah kita sebagai manusia. Hidup kita bakalan tenang. Kita punya pendirian yang kokoh gak mudah goyah oleh arus yang simpang siur.

Guys, pernah dengerkan hidup di dunia itu cuma sementara iya emang bener. Jadi sebetulnya kita itu bukan makhluk bumi. Dikirim ke bumi untuk melakukan misi eh malah nyayi maaf ya guys (hehe). Kita ini orang asing yang lagi ngejalanin perjalanan dibumi. Namanya orang asing pasti suka ditanya dari mana asalnya, tujuannya mau apa, lalu abis dari sini mau lanjut ngapain. Nah tiga pertanyaan itu yang namanya uqdatul kubro. Yang mesti dicari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Kita harus menjawab uqdatul kubro ini dengan benar atau dalam istilah agamanya shohih karena kalau kita salah menjawabnya atau keliru bisa bahaya jadi kiamat sugro buat diri kita maksudnya bisa jadi petaka buat diri kita.

Untuk memecahkan tiga pertanyaan uqdatul kubro ini kita harus bisa berpikir yang mustanir (berfikir cemerlang). Jadi apa itu berpikir? Dan bagaimana proses berfikir?

“ berpikir adalah kemampuan menghubungkan antara informasi yang ada, indra (mata/telinga), otak, dan informasi-informasi yang sudah tersimpan sebelumnya.”

Informasi yang diberikan, indra penglihatan dan pendengaran, otak yang berfungsi dengan sehat, dan informasi sebelumnya (maklumat assabiqoh) itu merupakan syarat- syarat berfikir, jikalau syarat-syaratnya tidak terpenuhi atau ada yang kurang maka proses berpikir akan terganggu bahkan tidak akan terjadi proses berpikir.

Sebenernya gak cukup sampai berpikir sendiri aja untuk menyelesaikan perkara uqdatul kubro ini, harus ada juga guru yang bisa kita ajak diskusi. Tapi guru yang benar-benar ahli harus dengan orang yang tepat. Buahaya besar kalau salah dalam memilih orang yang mau kita ajak diskusi tentang uqdatul kubro, bisa menjerumuskan pada kesesatan. Untuk itu pembahasan uqdatul kubro ini kudu bin wajib melakukan kajian insentif karena ga bisa dibahas sebentar, harus mendetail supaya kita faham dan bisa menemukan arah yang benar. 

Karena dengan menyelesaikan simpul besar kehidupan kita ini (uqdatul kubro) kita bisa menemukan arah kehidupan, kita tau peran kita didunia dan tujuan kita. Semangat mencari ilmu dan menemukan arah kembali. Semoga Allah selalu membersamai kita dan menuntun kita kepada jalan yang lurus ( Q.S. al-fatihah ayat 6)

Wassalamua’laikum. []

Posting Komentar untuk "Menemukan Arah Kembali"