Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gunakan Mensos untuk Menyuarakan Kebenaran


 

Oleh: Mochamad Efendi


Tidak dipungkiri Mensos bisa membawa pengaruh buruk. Ibarat belati bisa melukai jika tidak  hati-hati saat menggunakannya. Tetapi, mensos bisa menjadi media untuk menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan. Ada Benarnya sebuah ungkapan viral yang mengatakan 'No Viral No Justice". Dengan Mensos kita bisa meviralkan kasus yang melukai nilai keadilan atas praktek hukum di negeri ini. Equality before the law hanya ada diatas kertas. Faktanya, hukum tebang pilih, keras pada yang lemah sementara penjahat kelas kakap bisa terbebas dari jeratan hukum karena punya uang dan kuasa. Hukum diperjual-belikan hanya untuk membela yang mampu membayar. 


Barang siapa melihat kemungkaran, wajib mengubahnya dengan tangan (kekuasaan/tindakan langsung), jika tidak mampu maka dengan lisan (nasihat/teguran), dan jika tidak mampu, dengan hati (membenci perbuatan tersebut). Ini adalah hadits Shahih Muslim yang menekankan bahwa mengingkari dengan hati adalah selemah-lemah iman. 


Aparat penegak hukum hukum dan penguasa harusnya  bisa  menjamin keadilan untuk seluruh rakyat tanpa pandang bulu dengan kekuasaannya. Namun faktanya  banyak dari mereka yang melanggar hukum. Banyak oknum yang mempermainkan hukum untuk kepentingan mereka sendiri. Banyak rakyat kecil yang menjadi korban, dijadikan. kambing hitam untuk menutupi kejahatan besar mereka.


Apakah kita hanya diam tidak melakukan apa-apa saat melihat kemungkaran ada didepan mata? Kita gunakan kata-kata atau lisan kita lewat tulisan atau konten di sosmed yang bisa membuka mata, telingan dan hati penguasa untuk memperbaiki tata kehidupan yang carut-matut karena tingkah polah oknum aparat dan pejabat yang melampaui batas yang merusak nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. 


Masih ingat kasus ABK yang baru  bekerja dan tidak tahu apa-apa di vonis hukuman mati karena dituduh menjadi bandar dan pengedar narkoba.  Di kapal ditempat dia bekerja ditemukan narkoba dalam jumlah besar, padahal dia tidak tahu bahwa barang itu adalah narkoba. Sementara, aparat polisi yang positif narkoba hanya diberi hukuman sholat lima waktu berjamaah. Di kasus lain, seorang guru honorer yang memiliki gaji kecil rangkap jabatan sebagai pendamping lokal desa divonis penjara dengan tuduhan korupsi padahal dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara, pejabat dengan gaji besar masih bisa rangkap jabatan menjadi komisaris BUMN, dianggap biasa dan tidak melanggar hukum.


Lalu dimana letak keadilan hukum di negeri ini? Setelah kasusnya viral dan kasusnya mendapatkan perhatian publik,  keputusan hukum yang tidak adil dan tidak manusiawi dibatalkan. Inilah salah satu kekuatan Mensos yang bisa kita gunakan untuk memperjuangkan kebenaran dan tegaknya keadilan. Diduga masih banyak lagi kasus hukum yang merusak keadilan. dan nilai kemanusiaan tidak mendapatkan perhatian karena kasusnya yang tidak viral.


Coba bayangkan bagaimana malangnya nasib kakek penjual es gabus yang dituduh sudah menjual makanan yang terbuat dari gabus dan berbahaya untuk dimakan tanpa ada bukti dan tidak ada yang keracunan setelah  makan es gabusnya. Sementara, ribuan siswa keracunan setelah makan MBG tidak ada yang dijadikan tersangka. Namun, setelah kasusnya viral si kakek penjual es gabus mendapatkan keadilan dengan banjirnya simpati dan pembelaan dari masyarakat.

 

Dengan menggunakan sosial media, lisan kita akan menjadi senjata ampuh untuk menyampaikan kebenaran dan menegakkan keadilan. Meskipun kita tidak memiliki kekuasaan untuk merubah kemungkaran, kita tidak boleh diam saat melihat kemungkaran didepan mata, apalagi menganggapnya biasa.  Dengan membencinya didalam hati sebagai bukti bahwa kita masih punya iman, walaupun itu selemah-lemahnya iman. []

Posting Komentar untuk "Gunakan Mensos untuk Menyuarakan Kebenaran"