Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mahasiswa Agen Perubahan dari Pengaruh Arus Globalizasi

 



Oleh: Mochamad Efendi


Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) tumbuh menjadi generasi kosmopolitan yang memiliki wawasan global, mental aktivis, sekaligus kecintaan kuat terhadap Indonesia. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Talkshow Orientasi Dinamika Kampus (ORDIK) di UMSURA, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026). 


Memang benar, mahasiswa perlu memiliki wawasan global yang luas seperti yang disampaikan oleh  Bima Arya, namun mereka juga harus dibekali dengan aqidah kuat serta pemahaman Islam yang mendalam sebagai landasan berfikir agar mereka tidak terbawa arus pemikiran sesat buah dari pemikiran sekuler.


Mahasiswa dengan wawasan luas dan pemikiran cemerlang serta berkepribadian Islami akan mampu menjadi agen perubahan. Mereka diharapkan mampu mewarnai pemahaman umat dengan Islam kaffah, bukan terbawa arus dan diwarnai dengan pemikiran sesat yang menyesatkan yang bertebaran dan mudah diakses dalam era digital.


Mencintai tanah kelahiran atau cinta tanah air adalah naluri yang ada pada setiap manusia, namun sangat berbahaya jika menjadikan satu pemahaman sempit yang memecah belah umat dalam semangat nasionalisme. Umat Islam ibarat satu tubuh, maka jika ada bagian tubuh yang sakit seluruh tubuh akan ikut merasakannya. Sebagai umat Islam kita harus perduli dan membela saudara kita seiman yang tertindas dan terdzolimi meskipun dibelahan bumi lainnya, bukan dalam satu wilayah teritorial kebangsaan. Sebagai contoh, kita tidak boleh diam dan harus ikut membantu saudara kita di Gaza Palestina yang menjadi korban genosida, kekejaman Israel.


Mahasiswa memang harus disiapkan untuk memiliki kompetensi dan keahlian yang dibutukan untuk meraih kesuksesan dalam hidup namun mereka juga harus memiliki akhlak yang mulia agar kemampuan yang dimiliki bisa bermanfaat bagi orang banyak. Mahasiwa belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh agar memiliki kompetensi dan keahlian setelah lulus. Sayangnya,  bukan sistem meritokrasi tapi nepotisme yang berlaku saat ini dengan menempatkan seseorang dalam suatu jabatan atau posisi bukan berdasarkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas, tapi faktor kekerabatan, kekayaan, atau kedekatan politik dan itu juga dicontohkan oleh para pemimpin dan pejabat dalam pemerintahan saat ini. Banyak dari mereka yang memiliki kompetensi dan keahlian memilih bekerja di luar negara, karena di tanah kelahiran tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk berkarya dan berkontribusi positif untuk kemajuan negeri tercinta.


Mahasiswa juga harus memiliki karakter yang baik tercermin dari ketekunan, kemampuan memanfaatkan waktu, kemauan mendengarkan orang lain, serta kesediaan menghadapi berbagai tantangan. Namun, pemimpin dan para pejabat harus bisa memberi contoh teladan yang baik agar karakter baik yang dibangun ketika di kampus bisa tetap terjaga saat mereka lulus dan menjadi pemimpin masa depan.


Faktanya, Banyak dari mereka setelah mendapat jabatan dan kekuasaan karakternya berubah menjadi buruk: anti kritik, suka menjilat dan memperkaya diri sendiri dan tidak amanah dalam memimpin. Sistem yang buruk akan menghasilkan para pemimpin dan pejabat yang buruk. Sementara, sistem Islam sudah terbukti menghasilkan pemimpin amanah dan bertaqwa. Mahasiswa dengan kepribadian Islam dan pemikiran cemerlang diharapkan mampu  membawa perubahan haqiqi dengan bersama-sama memperjuangan satu sistem yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah untuk mewujudkan kehidupan Islami yang menghilangkan tradisi buruk buah dari sistem kapitalisme demokkras dengan Islam yang mulia. []

Posting Komentar untuk "Mahasiswa Agen Perubahan dari Pengaruh Arus Globalizasi"