Cara Mudah Memperoleh Keberkahan Ilmu
Oleh: Nahida Nafi'ah (SMA Bina Insan Mandiri Baron, Nganjuk)
”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr).
Terjemahan hadits diatas pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Yups! Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk menuntut ilmu. But...... selama ini, sudahkah kita mendapatkan keberkahan ilmu yang kita dapat selama ini? Atau bahkan selama ini kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan tidak tahu gimana cara dapet keberkahan atas ilmu yang udah kita dapet?
Mendapatkan keberkahan ilmu itu penting banget. Ilmu yang kita dapet selama bertahun-tahun tidak hanya di buku saja, tapi menyerap ke dalam hati, sehingga belajar kita selama ini bisa merubah diri menjadi lebih baik karena kita mengamalkan ilmu yang didapet. Kita mendapatkan manfaat atas seluruh ilmu yang kita pelajari.
Ada beberapa cara yang bisa mendatangkan keberkahan ilmu yang patut di coba bahkan harus dilakukan. Banyak ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan islam yang mendapatkan keberkahan ilmu yang mereka dapat. Imam Syafi’i, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali dan masih banyak lagi. Disamping kecerdasan otak, kerajinan dan ketekunan, mereka juga menjaga sikapnya terhadap guru, kitab atau buku, dan tempat mereka belajar supaya ilmu yang mereka dapat bisa menjadi ilmu yang berkah.
Langsung aja ya..., berikut cara yang harus dicoba supaya kita bisa dapet keberkahan ilmu yang kita dapet.
Pertama, “Jangan pernah meludah di sumur yang airnya kamu minum”.
Gimana maksudnya? Dirumahku gak ada sumur. Klo pun ada gak mungkinlah aku meludah sembarangan di sumur rumahku sendiri. Jijik!
Menurut Jamil Azzaini, seorang inspirator dan pengusaha Indonesia. Pada salah satu bukunya menggunakan kalimat tersebut sebagai perumpamaan bagi orang yang hobinya menjelek-jelekkan perusahaan atau instansi tempat ia bekerja, padahal ia mendapatkan gaji dan berbagai fasilitas dari tempat tersebut.
Itu makna bagi orang yang bekerja atau seorang karyawan. Gimana makna bagi kita? Seorang penuntut ilmu. Enggak jauh beda sih..
Pernahkan kita menemui orang atau bahkan punya temen yang sukanya njelek-njelekin sekolahnya? Bilang sekolahnya inilah, sistem sekolahnya itulah, fasilitasnya kurang ini itu, dan lain yang semacamnya. Suka melontarkan perkataan serta pernyataan yang kurang baik tentang tempat ia bersekolah yang bermaksud menjelek-jelekkan sekolahnya. Padahal ia juga mendapatkan fasilitas dan menerima ilmu (entah berkah atau tidak) dari sekolah tersebut.
Orang sepeti itu biasanya senang mengeluh, tidak bertanggung jawab, dan merasa paling bener.
Ketika sekolah punya kegiatan yang kurang sreg menurutnya, dia pun langsung bilang sekolahnya ini itulah (pokoknya yang jelek-jelek), kemudian bilang seharusnya sekolah itu gini gitu (sesuai dengan keinginannya, tanpa melihat pengaruh positifnya kedepan). Namun, saat dihadapkan kepada orang-orang yang mengurusi kegiatan tersebut (entah guru atau osis), mereka diam seribu bahasa. Hanya mampu menyindir. Bergaul dengan semacam ini ibarat meminum air sumur yang airnya mereka ludahi.
Jika emang punya temen kayak gini, nasehatilah sebisa mungkin. Karena sikap kayak gitu dapat membuat kita enggak dapet berkahnya ilmu. Kasihan temen kita nanti, udah belajar lama tapi ilmunya gak berkah sama sekali gara-gara sikapnya yang kurang baik terhadap tempat menuntut ilmunya. Naudzubillah...
Beda ceritanya klo temen kita marah ketika kita nasehati atau, kita udah berkali-kali nasehati dia, tapi tetep enggak bisa. Itu berarti dia adalah orang yang tidak seharusnya dijadikan sebagai teman. Waspadalah! “Penyakit” seperti itu menular. Perlahan tapi pasti. Kita harus segera menjauh. Doakan saja semoga lekas sembuh.
Klo emang pada kenyataannya sekolah kita sistemnya agak kurang jelas, banyak kurang ini itunya. Percaya dan khusnudzon aja klo sekolah bisa memberikan pelayanan yang terbaik dan tau mana yag lebih baik untuk para siswanya. Enggak perlu njelek-njelekin di belakang. Jika memang ada usulan, sampe’in aja ke pihak yang berwenang.
Kedua, santun pada sang penyampai ilmu
Mereka adalah Bapak-ibu guru, ustadz/ah dan siapa pun orang yang menyampaikan atau membagikan ilmunya kepada kita. Sudah seharusnya kita besikap santun dan beradab yang ihsan kepada mereka.
Namun, melihat fakta tentang sikap pelajar Indonesia terhadap guru-guru mereka, sangat jauh dari yang dapat dibilang “besikap santun”. Naudzubillah....
Seperti yang terjadi pada sekitar awal tahun 2018. Kasus seorang siswa di salah satu SMA di Madura yang tega membunuh gurunya. Naudzubillah... Pak Budi, begitulah biasanya guru tersebut disapa. Bermula ketika Pak Budi yang menegur pelaku karena terus-menerus menggaanggu temannya saat pelajaran sedang berlangsung. Namun teguran tidak digubris oleh pelaku, sehinggak Pak Budi mencoret pipi pelaku dengan cat lukis. Bukannya tenang, pelaku justru tidak teriman, kemudian berdiri mencekik dan memukul leher Pak Budi. Sang guru pun jatuh tersungkur dan dilarikan ke RSUD Dr. Soetomo beberapa jam setelahnya. Namun sayang, Pak Budi tidak dapat diselamatkan. Beliau menghembuskan napas terkhirnya kala diarikan ke RS. Padahal, Pak Budi saat itu baru memiliki istri dan sedang hamil 4 bulan. Haduuhh.. miris denger beritanya...
Masih banyak lagi fakta-fakat yang menunjukkan ketidak sopanan para murid kepada gurunya. Berani menganiaya, membentak, berkata kotor kepada guru dan tindakan-tindakan lain yang tidak seharusnya ditujukan kepada seseorang yang telah rela membagi ilmunya.
Sebagai seorang murid tidak seharusnya kita bersikap kasar kepada guru kita. Orang-orang yang dengan senang hati membagikan ilmunya kepada kita. “Pahlawan tanpa tanda jasa” bagi kemajuan bangsa kita. Memberikan hak-haknya, melaksanakan perintahnya dengan senang hati dan melakukan sesuatu yang bisa buat guru kita seneng punya murid kayak kita. Asalkan yang diperintahkan guru bukanlah hal yang menjerumuskan kepada kemaksiatan, maka laksanakanlah dengan senang hati.
Nabi SAW. bersabda: “Muliakanlah Ulama” karena ilmunya, dengan cara memuliakan, mengagungkan dan memenuhi hak ulama, yakni mengagungkan dan memuliakan “karena sesungguhnya Ulama” secara hakikat di hormati karena ulama “adalah Pewaris para nabi”.
Ulama yang dimaksud adalah orang-orang yang yang berilmu.
Ketiga, memperlakukan dengan baik sumber-sumbernya
Al-Qur’an dan haditslah sumber utama ilmu. Buku-buku atau kitab-kitab kita juga termasuk sumber ilmu.
Tidak hanya percaya dengan tempat menuntut ilmu, berbuat santun kepada guru, kita juga kudu memperlakukan buku-buku kita sebagai sumber ilmu dengan baik.
Tidak menyetarakan dengan tempat duduk kita (meletakkannya di tempat yang lebih tinggi), menyimpan dengan rapi, merawat buku dengan baik (bisa dengan diberi sampul buku), tidak membiarkan buku kita berkeleleran di sembarang tempat dan usang (berdebu, tidak terawat).
Ketika buku kita sudah tak terpakai, tetap simpanlah di tempat yang layak. Jangan sampai jadi menu hariannya tikus yaa... klo enggak gitu pinjemin aja ke orang yang sekiranya membutuhkan biar lebih bermanfaat.
Keempat, “Seperti percayanya pasien kepada dokternya”.
Ketika kita sakit dan dibawa ke dokter, tentunya dokter akan memberi pengarahan begini begitu yang pastinya kita mau gak mau harus nurut. Harus minum obat jam segini, gak boleh makan ini, gak boleh ini itu. Walau pun aktivitas yang kita sukai dilarang, kita gak bakalan bisa protres. Demi proses penyembuhan. Emang bukan dari dokter kesembuhan itu. Tapi melalui dokter, Allah memberikan kesehatan. Ketika kita udah nuruti pengarahan dokter sambil terus berdoa meminta kesembuhan, akhirnya kita diberi kesembuhan deh oleh Allah. Kita sebagai pasienharus percaya kepada dokter. Dokter tau gimana cara nangani orang sakit, harus diberi apa, dan harus digimanain.
Nah begitulah perumpamaan antara murid dengan guru. Kita harus percaya kepada guru, beliau tau yang terbaik untuk kita. Ini juga termasuk ke poin kedua, besikap santun kepada guru.
Walau pun kelihatan dari luarnya biasa aja, tapi dalemnya, luar biasa. Guru lebih berpengalam dari kita, yang hanya seorang murid. Bagaimana pun kondisi guru yang mungkin membuat kita ragu akan kemampuannyannya, kita harus tetap percaya dan yakin bahwa beliau mampu berbagi ilmunya dengan kita. Ketika perasaan ragu itu muncul, segera usir jauh-jauh, dengan banyak-banyak ber-istighfar. Astaghfirullah... Demi keberkahan ilmu yang kita dapet.
Supaya dapet keberkahan ilmu emang enggak gampang. Perlu ikhtiar serta doa. Senantiasa berusaha menjaga sikap kita dalam menuntut ilmu dan berdoa semoga ilmu yang kita cari selama ini bisa berkah dan bermanfaat.
Yuk bersama-sama memperbaiki sikap. Terutama sikap kita dalam menuntut ilmu. Senantiasa berusaha menjadi sempurna, walaupun kita tau tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. (itu kata ustdzah saya). Semoga bermanfaat... (reper/rmn)


Posting Komentar untuk "Cara Mudah Memperoleh Keberkahan Ilmu"