Dibalik Banjir Jatinangor
Oleh: Tri Fatma Hexa (Santriwati Ma'had Darul Bayan Sumedang)
Hola guys! Apa kabar? Semoga sehat selalu ya.. Ehm..
Biasanya pada umuran remaja banyak yang pengennya jalan-jalan, hangout, shopping-shopping, fun-fun, and icip-icip makanan. Bener gak guys? Tapi apa jadinya jika tempat yang dituju atau jalan yang dilewati banjir, macet, dan lain-lain? Pastinya males buat bepergian kan?
Peristiwa hujan deras yang terjadi sejak akhir tahun 2019 hingga awal tahun 2020 melanda beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jakarta. Bukan hanya di Jakarta saja, daerah yang terkenal dengan kota tahu pun dilanda banjir. Yup, apa lagi kalau bukan Sumedang, tepatnya di daerah Jatinangor. Kita bisa lihat sendiri di daerah tersebut banyak bangunan yang menjulang, gunung-gunung yang kian hari dirusak, serta kapasitas penduduk yang membludak, ditambah lagi pembangunan tol yang sedang gencar-gencarnya.
Tentu hal ini bukan hanya faktor alam tetapi masalah yang terjadi adalah masalah yang sistemik, yang lahir dari diberlakukannya sistem kapitalistik. Tata kota dan infrastruktur yang diserahkan sepenuhnya kepada keinginan para kapitalis tak mengindahkan lingkungan dan keselamatan bagi rakyat, banyak pembangunan hotel, tempat pembelajaran hingga tol sangat merugikan masyarakat di sekitarnya.
Yang dulunya daerah itu ditumbuhi banyak pepohonan, kini telah menjadi kota yang gersang, membahagiakan si kaya tetapi menyengsarakan si miskin.
Ditambah khususnya pada pengerjaan tol, rumah-rumah masyarakat sekitar harus rela dirobohkan tanpa mendapat ganti rugi yang dijanjikan sehingga mengakibatkan banyaknya pengangguran. Dampaknya tak hanya terasa bagi masyarakat yang ada disana, tetapi bagi semua orang yang melewati jalan tersebut. Pengalihan jalan pun dilakukan yang berujung pada kemacetan ditambah air yang menggenang semata kaki.
Selain disebabkan karena ulah tangan manusia, banjir yang melanda Jatinangor juga mungkin saja bisa disebabkan karena murka Allah terhadap berbagai kemaksiatan yang terjadi. Lihat saja, di Jatinangor banyak sekali pergaulan bebas, narkoba, gaya hidup yang liberal, dan lain sebagainya.
Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai remaja muslim?
Pencegahan banjir tidak cukup hanya dilakukan dengan pembersihan gorong-gorong, rskayasa teknologi pengendali hujan serta pembuatan bendungan. Akibatnya hanya berujung pada solusi yang bersifat sementara saja.
Banjir adalah kuasa Allah yang menghendaki hamba-nya untuk berfikir dan kembali kepada jalan yang benar, sesuai dengan aturan Allah dan menerapkan syariat-Nya. Pengelolaan tanah dan negara harus dihindarkan dari kepentingan bisnis para kapitalis, karena sebetulnya tanah, api, dan air adalah milik seluruh rakyat, bukan milik para penguasa maupun pengusaha.
Tak bisa dipungkiri lagi, dunia ini membutuhkan satu kepemimpinan yang menerapkan syari'at Allah agar manusia bisa menjalankan perintah-nya serta menjauhi larangan-nya dengan mudah. Jadi, belajarlah terus untuk memahamkan umat akan pentingnya penerapan hukum islam. Maka dari itu, mending ikut kajian yang bermanfaat supaya kita punya modal ilmu untuk bisa memahamkan ummat, dari pada cuma jalan-jalan yang bikin uang sekarat. Iya kan guys? Let's move up! (reper/zia)


Posting Komentar untuk "Dibalik Banjir Jatinangor"