Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebebasan Berperilaku


 

Oleh:  Mochamad Efendi


Pemahaman sekulerisme yang menjunjung tinggi kebebasan berperilaku telah merusak generasi. Korban berjatuhan tanpa kita sadari dan bisa juga mengancam keluarga yang kita cintai. Media sosial ikut menyebarkan ide sekulerisme dan kebebasan berprilaku. Banyak remaja memilih hidup bebas, berpacaran tanpa ikatan pernikahan. Hanya berkenalan di sosial media, merasa saling mencintai dan bisa tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan.


Korban penyekapan dan penyiksaan yang dilakukan oleh Taufik Hidayat terhadap kekasihnya sendiri, YTR, menjadi bukti bahwa pemahaman sekuler dan pilihan hidup bebas tanpa aturan yang ditetapkan Tuhan, Pencipta manusia, hidup dan alam semesta membawa kesengsaraan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti. 


Berawal dari perkenalan di sosmed, kemudian berlanjut dengan pertemuan dan keputusan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan adalah dosa besar yang akan mendapatkan adzab tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Di dunia mereka memdapatkan adzab yang pedih karena keputusan hidup yang salah yang melanggar syariat Allah. YTR menjadi korban kebiadaban kekasihnya sendiri dan Taufik Hidayat menjadi pelaku akan mendapatkan hukuman pidana karena perbuatannya sendiri. Dan ketahuilah adzab di akhirat jauh lebih besar jika mereka mengetahui. 


Pilihan hidup bebas dengan melanggar syariat Islam akan membawa pada kesengsaraan dan adzab yang sangat pedih. Oleh karena itu segeralah bertaubat kembali ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan mereka yang dapat murkaNya dan bukan pula mereka yang tersesat. Hidup akan terasa indah dengan memilih jalan yang diridhoi Allah SWT. Sebaliknya, kesengsaraan di dunia dan adzab yang pedih akan menunggu di akhirat nanti bagi siapa saja yang memilih melakukan perbuatan dosa besar.


Manusia sudah diberi nikmat yang luar biasa dalam hidup ini, tapi kenapa mereka memilih jalan yang dilarang Allah.  Bahkan kebahagiaan hakiki akan  dirasakan saat kita menjalani hidup ini sesuai dengan aturan yang benar. Hati terasa lapang, jiwa terasa tenang menjalani ketetapanNya. Namun, syaitan menggelincirkan hati manusia seperti yang dilakukan pada nabi Adam dan Hawa saat mereka tinggal di surga yang penuh dengan kenikmatan. Dalam Al-Qur'an mereka boleh menikmati apa saja yang ada di surga, tapi dilarang mendekati pohon yang dikenal dengan istilah Pohon Khuldi (pohon keabadian), yang merupakan tipu daya setan agar Adam dan Hawa tergoda. Ujian ini merupakan bentuk ketaatan mutlak manusia kepada Allah SWT.


Syaitan tidak akan berhenti menggelincirkan manusia dari jalan yang benar, sehingga mereka memilih jalan membawa pada kehinaan dan kesengsaraan. Pada era digital ini banyak dari mereka yang bangga dan memamerkan perilaku yang menyimpang. Mereka bangga menjadi bowtie, atau hidup bebas tanpa aturan agama, padahal itu perbuatan yang menyimpang, terhina di dunia dan adzab di akhirat jauh lebih besar. Yakinlah seseorang menjadi mulia saat dia mengatur hidupnya dengan syariat Allah secara kaffah dalam kehidupan.


Dalam hidup ini kita diberi pilihan untuk mengatur hidup ini dengan ajaran Islam yang lurus dan mulia atau jalan kesesatan. Sungguh beruntung mereka yang mengatur hidupnya dengan syariat Islam secara kaffah. Sebaliknya, sungguh merugi dan celaka bagi siapa saja yang meninggalkan ajaran yang benar. Syaitan menggelincirkan hati dengan mengejar kesenangan sesaat yang semu dan menipu. Tetapkan hati kita untuk terus berislam secara kaffah agar Allah memudahkan jalan kita untuk mendapatkan kebahagian hakiki dan dijauhkan dari pemahaman sesat yang membawa pada kehancuran, kesengsaraan dan kehinaan baik di dunia maupun akhirat. []

Posting Komentar untuk "Kebebasan Berperilaku"