Hidup di Dunia pada Hakekatnya Menunggu Kematian
Oleh: Mochamad Efendi
Gaes hidup di dunia hanyalah sementara dan akhirat kekal untuk selama lamanya. Hidup di dunia pada hakikatnya menunggu kematian. Saat ajal datang kita harus meninggalkan apa saja yang kita cintai di dunia karena semua yang ada dunia hanyalah titipan. Kita dilahirkan kedunia tanpa membawa apa-apa dan begitu pula saat ajal datang menjemput, kitapun harus rela meninggalkan dunia tanpa membawa apa-apa. Bagaimana bisa seseorang jatuh dalam perbuatan bodoh, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, padahal hidup ini hanyalah sebentar dan pasti akan berakhir. Percobaan bunuh diri oleh seorang pria yang memanjat menara telekomunikasi (tower) di Desa Kwangsan, Sedati, Sidoarjo, pada hari Rabu, 22 April 2026 telah menggemparkan masyarakat Sidoarjo dan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak menyia-nyiakan hidup agar tidak merugi dan bahkan celaka saat nikmat hidup sudah dicabut.
Jangan sia-siakan waktu menunggu kematian hanya untuk hal-hal ubah. Sesungguhny manusia dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman dan berbuat kebaikan. Mereka saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran. Dan kita butuh teman sejati agar bisa saling mengingatkan saat kita salah jalan. Dan saat hati mulai lelah dan mau menyerah ada yang mau menguatkan agar kita tidak jatuh dalam keputusasaan apalagi terlintas keinginan untuk bunuh diri.
Bersama teman sejati kita mengaji agar memiliki pemahaman Islam yang benar. Hidup bukanlah tujuan, tapi ujian yang harus kita jalani dengan sabar. Semoga kita istiqomah berjalan dijalan lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang tersesat agar kita bisa mendapatkan sebaik-baik tempat kembali setelah mati. Agar kita selamat di dunia akhirat jadikan ibadah kepada Allah SWT sebagai tujuan hidup, bukan kesenangan dunia yang semu dan menipu.
Ingatlah harta dan jabatan adalah titipan yang sewaktu waktu bisa diambil pemiliknya. Jadi jangan sombong atau lupa diri karena sewaktu-waktu bisa menghilang dari hidup kita. Semua yang kita cintai akan meninggalkan kita untuk selama-lamanya atau kita yang akan pergi meninggalkan mereka dan tidak kembali lagi ke dunia.
Jika saat ini kita masih bisa bernafas, itu adalah nikmat luar biasa. Alhamdulilah, tangan dan kaki kita masih bisa digerakkan untuk melakukan kebaikan yang diridhoi oleh Pemilik manusia, hidup dan alam semesta. Bersyukur masih diberi penglihatan dan pendengaran sehingga kita bisa merasakan indahnya dunia. Berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena dikaruniai hati yang lapang dan pandai bersyukur sehingga bisa merasakan kebahagian hakiki sampai pada akhir waktu menutup mata untuk selama-selamanya.
Sungguh indah dunia ini jika kita memiliki hati yang pandai bersyukur meskipun tidak memiliki harta melimpah dan jabatan yang tinggi. Sering manusia gagal saat diuji dengan harta melimpah dan jabatan tinggi yang membuat mereka tergelincir dan jatuh kedalam lembah dosa. Marilah waktu menunggu yang tidak lama ini kita gunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan bekal kita nanti setelah kita mati, bukan sibuk hanya mengejar nikmat dunia yang sementara dan melalaikan diri dari mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah agar kita selamat tidak hanya di dunia tapi juga akhirat, tempat kita kembali setelah mati.[]


Posting Komentar untuk "Hidup di Dunia pada Hakekatnya Menunggu Kematian"