Mengedepankan Akal Dalam Berdakwah, Bukan Okol!
Oleh: Mochamad Efendi
Perbedaan sering membuat kita emosi dan saat itu menyentuh hal mendasar atau pribadi seseorang. Sobat, bukan zamannya kita mengedepankan emosi dan menggunakan okol, kekuatan fisik. Muslim yang berilmu pasti mengedepankan hujjah yang kuat dengan dalil yang bersumber dari ajaran Islam yang lurus. Geas, berdebat boleh saja, asalkan dengan cara yang ahsan dan untuk mencari kebenaran bukan pembenaran pemikiran kita yang lemah.
Gaes, janganlah kebencian pada satu kaum membuat kamu tidak bisa berbuat adil dan sering kebencian yang berlebihan membuat kita buta atas satu kebenaran. Satu kebenaran, Islam harus kita terima jika didukung dalil qoth'i, kuat dan meyakinkan meskipun itu datang dari musuh, orang yang sangat kita benci. Bukankah kita diperintahkan untuk lebih memperhatikan apa disampaikan bukan siapa yang mengatakan.
Sebagai remaja muslim sejati harus menjadikan Islam sebagai landasan berfikir. Jadi setiap ada perbedaan pandangan terhadap sesuatu harus dikembalikan pada ajaran Islam yang lurus. Apalagi jika perbedaan itu terjadi sesama muslim, semua akan selesai jika kita berpegang pada kebenaran Islam bukan ajaran yang lain yang dibela mati-matian. Ayo, umat Islam harus bersatu karena kita pada hakekatnya bersaudara dan tidak layak bagi kita memusuhi saudara kita sendiri hanya karena satu perbedaan karena musuh sejati manusia adalah syetan.
Gaes, cara kekerasan harus kita hindari, bukan karena kita takut tapi kekuatan fisik tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan bisa jadi malah menambah kebencian dan menjauhkan kita dalam permusuhan. Sabar gaes kalau mereka belum bisa menerima kebenaran Islam kaffah yang kau sampaikan. Kewajibanmu hanya menyampaikan saja, soal hidayah urusan Allah. Doa'kan saja agar mereka mau menyadari kesalahannya. Jangan putus asa dalam dakwah, terus sampaikan kebenaran yang bersumber dari ajaran Islam karena itu adalah kewajiban kita untuk menyampaikan kebenaran meskipun hanya satu ayat, hasilnya serahkan pada Allah, yang membolak balikkan hati manusia.
Tetaplah istiqomah, sampaikan kebenaran meskipun mereka menolak dan bahkan memusuhimu. Kesabaranmu sering menjadi wasilah bagi mereka untuk menerima kebenaran yang kau sampaikan. Meskipun kamu tidak cakap dalam berkata-kata dan juga kurang pandai meyakinkan mereka, sering orang terinspirasi untuk berubah karena melihat kesabaranmu dalam menyampaikan kebenaran.
Lakukan semuanya untuk mencari ridho Allah. Meskipun tidak ada yang menerima kebenaran yang kau sampaikan, tidak usah berkecil hati. Tidak usah marah apalagi membalas untuk menyakiti. Ingat, mereka adalah saudara kita yang menjadi target dakwah agar mau berubah dan berislam kaffah. Perubahan membutuhkan proses dan hasilnya sering tidak langsung dirasakan. Tetap istiqomah dijalan dakwah dan terus buatlah jejak-jejak kebaikan yang menjadi tabungan amal jariyah. Disaat kita tidak lagi bisa berbuat kebaikan karena waktu kita di dunia sudah berakhir, amal jariyah akan terus mengalir ke pundi-pundi amalan kita dari orang-orang yang sudah tercerahkan oleh usaha dakwah kita.
Masihkah kita mau berhenti dakwah hanya karena ditolak dan dicaci sekali atau dua kali? Tidak! Bahkan jika ribuan kali ditolakpun, jangan membuat kita berhenti untuk berdakwah. Karena dakwah tidak hanya sekedar kewajiban, tapi juga kebutuhan agar nanti saat kita sudah meninggalkan kehidupan dunia. Ada jejak-jejak amalan dakwah kita yang bisa menolong kita disaat saudara dan teman dekat kita tidak lagi bisa menolong.
Tetaplah bersabar untuk menyampaikan kebenaran Islam dengan kata-kata yang baik, bukan menggunakan okol atau kekerasan yang hanya menciptakan permusuhan diantara kita. Tuduhan terpapar radikalisme, terlibat terorisme bahkan ancaman dan kebencian dari penguasa jangan membuat kita berhenti berdakwah dengan menyampaikan kebenaran Islam tanpa kekerasan. Penyiksaan, propaganda hitam (fitnah keji tanpa bukti) dan juga pemboikotan juga dialmi oleh rasullulah dan para sahabat saat menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat kafir quraisy. Tantangan dan jalan terjal dan mendaki dalam dakwah adalah sunatullah yang dialami pengemban dakwah. Permusuhan dari penguasa kafir dan anti Islam jangan menghentikan kita untuk terus menyampaikan kebenaran Islam dengan cara yang ihsan tanpa kekerasan. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Mengedepankan Akal Dalam Berdakwah, Bukan Okol!"