Tawuran Pelajar Di Tengah Pandemi Corona
Oleh: Siti Masliha S.Pd (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Assalamualaikum Sobat muda! Kalian yang masih duduk di bangku sekolah pasti sekarang lagi mengikuti serangkaian pembelajaran di rumah. Yup! Memang benar akibat dari pandemi Corona Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan untuk para pelajar untuk belajar di rumah atau Home Learning. Gimana perasaan kalian selama dua minggu ini belajar di rumah? Pasti ada plus minusnya ya sobat.
Namun di tengah Pemerintah menerapkan Home Learning yaitu para pelajar di wajibkan belajar di rumah, ada beberapa teman kita justru melakukan tawuran. Hal ini tidak hanya dilakukan di satu tempat, tapi ada beberapa tempat. Sedih ya sobat. Dilansir dari Kompas.com di tengah wabah virus corona atau Covid-19 kian merebak di berbagai daerah, sejumlah pemuda justru terlibat aksi tawuran. Aksi tawuran antar-pelajar terjadi di jalan Tol Cisumdawu, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (26/3/2020). Mengetahui akan adanya tawuran itu, polisi langsung menerjunkan sejumlah personel untuk melakukan pembubaran. Bahkan, 20 pelajar di antaranya berhasil diamankan berikut dengan senjata tajam yang digunakan seperti celurit dan gir motor.
Tak hanya di Sumedang, kasus tawuran serupa juga terjadi di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Tawuran dua kelompok pemuda itu terjadi pada Jumat (27/3/2020) sekitar pukul 17.00 Wita di Desa Sompe, Kecamatan Sabbangparu. Dari informasi yang dihimpun polisi, tawuran itu bermula dari adanya sikap saling ejek antara dua kelompok pemuda di media sosial. "Betul tadi ada tawuran dan sudah bubar setelah anggota tiba dan hasil penyelidikan sementara pemicunya karena saling ejek di media sosial" kata Kapolsek Sabbangparu AKP Agusman, Sabtu (28/3/2020). Untuk mengantisipasi adanya bentrok susulan, sejumlah personel diterjunkan ke lokasi kejadian.
Di pusat ibukota pun tak dipungkiri terjadi tawuran. Sejumlah pemuda di Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta, bukannya mengurangi aktivitas di luar rumah tapi justru melakukan tawuran.
Kejadian tersebut terjadi pada Jumat (27/3/2020) dini hari. Kapolsek Palmerah Kompol Supriyanto mengatakan, tawuran di daerah tersebut diakui sudah cukup sering terjadi. Para pelaku tawuran rata-rata adalah anak-anak usia pelajar. "Saya bilang ke Pak RW data anak-anak itu. Tapi pak RW-nya enggak mau. Anak-anak itu semua," kata Supriyanto dihubungi, Jumat (27/3/2020). Ia mengatakan, saat polisi datang ke lokasi kejadian para pelaku tawuran langsung membubarkan diri. Namun, biasanya tak berselang lama saat tidak dilakukan pengawasan mereka berulah kembali.
Miris ya sobat kondisi negara kita, seharusnya para pelajar belajar di rumah. Mengisi hari-harinya dengan belajar kondisinya justru berbanding terbalik, merekai menuai raport merah. Tawuran pelajar di Indonesia memang sangat memprihatinkan kondisinya. Pemerintah harus melakukan upaya serius untuk menekan angka tawuran ini. Sebelum pemerintah melakukan solusi atas permasalaha ini, perlu digali lebih dalam apa yang menjadi penyebab tawuran. Apa sih yang menjadi penyebab tawuran di kalangan pelajar?
Setidaknya ada empat faktor psykologis mengapa seorang remaja terlibat dalam tawuran.
1. Faktor internal remaja, gejolak emosi remaja yang masih labil membuat para remaja mudah terpengaruh pergaulan. Remaja adalah masa seorang anak ingin mencoba sesuatu, mereka tidak peduli apakah yang dia lakukan itu berdampak positif atau negatif. Usia remaja usia yang masih labil, mereka ingin mencoba segala hal. Dari sini akan berdampak pada prilaku remaja tersebut.
2. Faktor keluarga, rumah tangga yang dipenuhi kekerasan jelas berdampak pada anak. Anak ketika remaja belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Selain itu kurangnya kasih sayang dari orang tua juga berdampak pada anak. Dampaknya anak akan mencari kesenangan di luar rumah, tak ayal hal ini akan menarik anak pada pergaulan yang kurang baik contohnya tawuran.
3. Faktor sekolah, sekolah pertama-tama dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar, akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Setelah itu masalah pendidikan, seorang guru memainkan peran yang sangat penting. Guru adalah seorang pendidik yang akan menanamkan nilai-nilai kepada anak didiknya. Namun faktanya tidak sedikit guru yang keluar dari pakemnya, gutru hanya transfer ilmu saja. Guru hanya sebagai “pengambil nilai” mata pelajaran saja, dan tidak sedikit guru sebagai tokoh otoriter dalam mendidik anak muridnya.
4. Faktor lingkungan, lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya, lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomorduakan pelajar, juga lingkungan kota yang penuh kekerasan. Semuanya dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung munculnya perilaku berkelahi.
Remaja Pengisi Peradaban Masa Depan
Stop! Tawuran harus di stop sampai disini, agar semua pihak tidak dirugikan lagi. Agar tidak terjadi korban yang cukup banyak. Sedih, melihat kondisi bangsa seperti ini. Remaja adalah pengisi peradaban masa depan. Penanaman nilai-nilai yang baik harus dimulai saat ini, agar kelak nantinya para remaja dapat mengisi peradaban masa depan. Harus ada peran dari keluarga, masyarakat dan negara agar dapat memutus mata rantai tawuran dikalangan remaja.
Peran keluarga, keluarga terutama adalah orang tua adalah ornag yang peling bertanggung jawab atas perkembangan anak-anaknya. Orang tua mempunyai kewajiban untuk menanamkan aqidah (pondasi keimanan) kapada anak-anaknya. Aqidah ini sebagai pondasi keimanan yang akan dijadikan anak untuk menjalankan Kehidupan sehari-hari. Standart halal-haram senantiasa melekat pada diri anak. Hal ini sangat penting bagi perkembangan anak.
Peran lingkungan, anak terutama para remaja tidak hanya berinterksi dengan keluarganya. Anak juga butuh berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Lingkungan yang cuek akan menjerumuskan remaja pada hal-hal yang negatif. Lingkungan sebagai pengontrol dari prilaku negatif. Hal ini sebagaimana dicontohkkan pada masa Rasulullah dan para shahabat. Di masa Rasulullah kaum munafik sekalipun tidak berani menampakkan apa yang mereka sembunyikan. Pada zaman kekhilafahan Abbasiyah ada orang-orang fasik (jumlahnya sedikit) diam-diam ingin meminum seteguk khamr. Mereka takut apa yang mereka lakukan diketahui oleh masyarakat.
Pengawasan masyarakat dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar merupakan asas menopang Kehidupan masyarakat Islam. selain masyarakat negara juga berperan dalam memutus mata rantai tawuran dikalangan pelajar. Negara sebagai pelaksana hukum, negara harus memberlakukan hukuman yang tegas kepada para pelajar yang terbukti melakukan tawuran. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Tawuran Pelajar Di Tengah Pandemi Corona"