Jangan Pamer
Oleh: Fatma Fatah Renhoran (Member Akademi Menulis Kreatif)
Menjaga perasaan orang lain adalah cara kita menghidupkan fitrah kita sebagai manusia. Kita perlu berbenah, apa yang kita dapatkan dari pamer sana-sini? Kepuasan? Kepuasan macam apa? Bukankah fitrahnya manusia adalah manusiawi? Menjadi empati bahwa kadar rezeki dan pemberian Allah yang pada tiap-tiap insan berbeda porsinya.
Disitulah Allah mengatur tentang keberkahan hidup berupa kebaikan berbagi. Melalui infaq, sadaqoh, zakat, hibbah, wakaf dan sejenisnya untuk meringankan beban orang lain. Allah bukannya tak adil, Allah berikan ujian pada yang berkecukupan agar menjadi ladang pahala berbagi pada yang berkelimpahan.
Bukankah Allah sangat teliti pengaturanNya? Kalo saja kita benar-benar jernih dalam pikir, murni dalam zikir, dan bersih dalam aktivitas hati, maka kita akan menemukan cahaya kebaikan yang tak pernah pudar dalam tiap butir syariat Allah dan hadits Rasulullah saw.
Alangkah bijaknya kita selalu mensyukuri tiap nikmat, dan mensabari tiap ujian. Yang berkelimpahan tidak melampaui batas dan yang berkecukupan berserah kepada Allah. Begitulah seharusnya kita sadar dalam berkehidupan.
Bukankah tidak ada kebaikan dalam aktivitas pamer? Kelihatannya bahagia, padahal hambar dan kering. Seharusnya kalo bahagia ya cukup dinikmati dalam syukur lisan dan laku. Bukan malah memanas-manasi orang yang tidak diberi nikmat serupa.
Banyak pasangan yang memamerkan kemesraan dipublik dunia nyata maupun maya, seolah seluruh dunia harus tau mereka bahagia. Padahal apa urusannya orang lain dengan kebahagiaan mereka? Toh hanya mereka yang nikmati. Sementara yang belum menikah jadi berperasaan melankolis karena masih sendiri dalam perjuangan hidup berliku.
Padahal tak semua pencitraan adalah sesuai realita. Bisa saja kenyataan 180° berkebalikan dengan frame yang dibagus-bagusin. Misal yang ada difoto adalah kemesraan, namun faktanya justru tal akur karena banyak masalah rumah tangga.
Ada pula yang sibuk pamer makanan dan harta, pada si miskin yang makan saja susah dan dengan air mata mereka merasa hidupnya menjadi tak bahagia seakan Allah tak adil. Bukankah yang tukang pamer ikut menanam saham dosa karena membuat orang lain jadi menggerutu dengan porsi yang diberikan Allah kepadanya hanya karena membandingkan dengan nikmat orang lain?
Tak usah tertipu dengan yang dikelabui mata. Cukup jalani hidup dengan bersyukur dan bersabar. Hidup ini indah jika kita jalani sesuai fitrah. Tak usah bangga dengan kaya dan berkelimpahan, bahagia dan punya segalanya. Toh itu semua punya Allah, bukan punya manusia. Itu hanya titipan dan akan dikembalikan untuk dipertanggungjawabkan.
Tak perlu risau dan sedih ketika berkecukupan, karena tak ada yang miskin. Kita hanya dimiskinkan sistem hidup yang tak berdasar aturan Allah. Bersabarlah lalu bergerak untuk mengembalikan aturan hidup pada semestinya agar kembali berkah dan sejahtera. Hanya dalam naungan syariat Allah.
Yang punya jangan pamer karena menjaga perasaan yang tidak punya. Dari pada pamer, lebih baik berbagi. (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Jangan Pamer"