Ketika Corona Bikin Merana
Oleh: Anisa Khumairah
Covid-19 alias corona mungkin tak begitu menakutkan bagi orang-orang yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota.
Panik? iya
Tapi ada yg jauh lebih mengerikan dari kepanikan itu.
Nah lho...apaan ya?
Pokoknya lebih panik dari yg panik kira-kira begitu.
Tapi, ah...sudahlah.
Berlatarkan cerita dari kampung halamanku.
Tepatnya di lingkungan keluargaku. Dimana sebagian besar laki-laki dalam keluargaku berprofesi sebagai buruh las di pangkalan pembuatan kapal.
Hari sabtu, tepatnya tanggal 28 maret 2020, tatkala korban kasus covid-19 bertambah banyak, mereka biasa aja. Mungkin ada kegalauan yang lebih besar menutupi perkembangannya kasus covid-19 tersebut,
Sebegitu tegar nya orang-orang di kampung ku menanggapi covid-19.
Bagaimana dengan Lock down? Ya lock down adalah suatu keputusan yang sangat mengerikan bagi mereka apabila di berlakukan.
Walaupun disadari bahwasannya lock down solusi syar'i dari Islam untuk memutus mata rantai perkembangan covid-19. Namun corona me-merana-kan mereka.
Ups.... apaan lagi yaa memeranakan?
Ah pokoknya itu laah. Sesuatu yang membuat mereka se-merana-merananya. Alias luar biasa merananya.
Kegalauan kian melanda. Buruh bukan lah Pegawai kantoran. Meskipun mereka tidak ngantor setidaknya mereka bisa work from home. Gaji tetap jalan nggak khawatir kelaparan.
Nah ini buruh. Lalu bagaimana nasib buruh las? Dimana sistem kerjanya harian dan gajinya mingguan.
Lantas kita dapat uang dari mana?
Untuk makan sehari-hari, belum lagi cicilan KPR, motor, kebutuhan hari raya dan banyak lagi keluhan-keluhan yang mereka lontarkan.
Apabila pekerjaan mereka di hentikan meskipun hanya beberapa hari saja, namun kebutuhan kampung tengah mesti dipenuhi. Ibaratnya diam di rumah selamat, tapi kelaparan. Makanya bekerja meskipun dengan gaji yang sedikit itu jauh lebih berarti dari pada tidak sama sekali
Beginilah nasib, ketika pemimpin negeri yang sok merakyat tapi tak perduli dengan rakyat.
Kami ingin pemimpin yg mengayomi rakyat bukan yang menyengsarakan rakyat.
Kami butuh pemimpin yang memikirkan perut rakyat bukan malah melaparkan rakyat.
Lagi dan lagi. Beginilah nasib, ketika pemimpin lebih mengutamakan kesejahteraan keturunannya takut melarat sehingga abai dengan kesejahteraan rakyat.
Pemimpin dalam Islam adalah pelayan rakyat. Tameng atau junnah tempat rakyat berlindung. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Ketika Corona Bikin Merana"