Shaum, Totalitas Takwa dan Jaminan Allah SWT
Oleh: Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, I
MARHABAN ya Ramadhan. Selamat datang bulan puasa (Shaum). Selayaknya setiap Muslim bergembira. Sebab Ramadhan adalah bulan penuh rahmat. Bulan penuh berkah. Bulan penuh ampunan. Juga pertolongan.
Ramadhan kali ini memang berbeda. Tak sama dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini Ramadhan hadir di tengah wabah Covid19. Banyak orang berduka. Ditinggal Wafat oleh orang-orang tercinta. Banyak yang terinfeksi. Lebih banyak lagi yang diawasi. Semua karena keganasan virus Covid19.
Tak hanya mengancam jiwa. Wabah Covid19 juga melumpuhkan ekonomi negara. Dunia usaha kelimpungan. Banyak perusahaan tutup. Sebagian malah bangkrut. Banyak karyawan dirumahkan. Tak sedikit di-PHK tanpa pesangon. Akibatnya, banyaknya pengangguran makin tak terelakkan. Dunia transportasi berbasis online (Ojol/Ojek Online) pun kena dampaknya. Padahal Ojol selama ini menjadi tumpuan harapan bagi jutaan orang yang sebelumnya tak punya pekerjaan (apalagi salah satu CEO dari Ojol) menjadi Mentri*. Mereka kini mulai mengalami banyak kesulitan.
Dampak selanjutnya terasa memilukan. Banyak orang kehilangan pendapatan. Sebab banyak pengangguran. Sebagian sudah mulai kesulitan untuk sekadar makan. Apalagi untuk bayar kontrakan bulanan. Juga cicilan kendaraan. Bahkan korban kelaparan mulai berjatuhan.
Namun demikian, selayaknya setiap Muslim tetap bergembira. Pasalnya, meski di tengah duka akibat wabah Covid19, Ramadhan tetaplah istimewa. Sebabnya, Ramadhan akan selalu bertabur rahmat, maghfirah, pahala berlipat ganda dan pertolongan Alloh SWT.
/Dua Kesabaran/
Shaum (Puasa) adalah ibadah yang tak ada tandingannya. Rasululloh saw. bersabda kepada Abu Umamah al-Bahili:
عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ
Hal ini dikuatkan oleh hadis lain. Rasululloh saw. bersabda:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمُ، فَإِنَّهُ لِي وَ أَنَا أَجْزِيْ بِهِ
Ibn Bathal dalam syarh atas hadis di atas menukil pernyataan Ibnu Uyainah, “Shaum/Puasa itu identik dengan kesabaran. Sebabnya, orang yang bershaum/puasa bersabar untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami-istri (semata-mata karena Alloh SWT).” (Ibnu Bathal, Kitab Syarh Shahih al-Bukhari, 4/9).
Karena shaum/puasa identik dengan sikap sabar, maka orang-orang yang bershaum akan diberi pahala tanpa batas sebagaimana orang-orang yang sabar. Alloh SWT berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya, karena begitu besarnya, pahala mereka tidak lagi ditakar, ditimbang dan dihitung (Al-Jazairi, Kitab Aysar at-Tafasir, 10/459).
Apalagi puasa di tengah-tengah wabah seperti saat ini. Tentu pahalanya akan jauh belipat-ganda. Sebabnya, shaum di tengah wabah menggabungkan setidaknya dua kesabaran: 1. Sabar dalam ketaatan, yakni menahan makan, minum dan hubungan suami-istri; 2. Sabar dalam menghadapi musibah, yakni wabah.
Bahkan pahala kesabaran menghadapi wabah setara dengan pahala orang yang mati syahid. Rasululloh saw. bersabda tentang tha’un:
«فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ-في رواية أخرى لأحمد: فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ-صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُصِبْهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ»
Tidaklah seorang hamba, saat tha’un (wabah) terjadi, berdiam di negerinya dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: lalu dia berdiam di rumahnya seraya bersabar dan mengharap ridha Alloh, dan dia menyadari bahwa tidak menimpa dirinya kecuali apa yang telah Alloh tuliskan untuk dia, kecuali bagi dia pahala semisal pahala syahid. (HR al-Bukhari dan Ahmad).
/Takwa dan Jaminan Alloh SWT/
Shaum adalah salah pintu untuk mewujudkan takwa. Alloh SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Takwa, menurut Sayidina Ali bin Abi Thalib ra., ditandai dengan empat hal: (1) al-khawf min al-jalîl (memiliki rasa takut kepada Alloh Yang Mahaagung); (2) al-‘amalu bi at-tanzîl (mengamalkan al-Quran);
(3) ar-ridhâ bi al-qalîl (ridha dengan yang halal walau sedikit);
(4) al-istidâd li yawm ar-rahîl (mempersiapkan bekal untuk [menghadapi] hari penggiringan [Hari Kiamat] (Ibn Yusuf ash-Shalihi asy-Syami, _Kitab Subul al-Huda wa ar-Rasyad_, 1/421).
Bagi siapapun yang bertakwa, Alloh SWT akan memberi dia setidaknya tiga jaminan: (1) jalan keluar atas segala kesulitan; (2) rejeki dari arah yang tak diduga; (3) kemudahan dalam segala urusan. Ketiganya itu Alloh SWT jelaskan dalam al-Quran:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Siapa saja yang bertakwa kepada Alloh, Dia pasti akan memberikan jalan keluar bagi dirinya dan akan memberi dia rejeki dari arah yang tidak dia sangka. (TQS ath-Thalaq [65]: 2-3).
Maknanya, orang yang bertakwa akan diberi jalan keluar dari ragam kesulitan dunia dan akhirat, juga akan diberi rejeki dari jalan yang sebelumnya tidak pernah diharap-harapkan dan tidak diangan-angankan (Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafasir, 4/274).
Alloh SWT pun berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Artinya, orang yang bertakwa akan diberi kemudahan dalam segala urusan dunia dan akhiratnya (Ibnu al-Jauzi, Kitab Zadul al-Ma’ad, 6/41).
Dengan demikian, di tengah ragam kesulitan yang dihadapi kita saat ini, khususnya akibat wabah Covid19 yang melanda, kuncinya hanyalah satu: takwa. Dengan takwa, Alloh SWT pasti akan memberi kita jalan keluar. Dengan takwa pula, Alloh SWT pasti akan memberi kita kemudahan dalam segala urusan. Bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Selain itu, takwa menjadi sebab datangnya ampunan Alloh SWT dan pahala yang besar. Alloh SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
/Tak Cukup dengan Shaum/
Namun demikian, mewujudkan takwa tak cukup dengan puasa. Di dalam al-Quran sendiri tak hanya ayat tentang kewajiban puasa yang diakhiri dengan frasa; la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa). Alloh SWT juga antara lain berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون
وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Berdasarkan ayat-ayat di atas, jelas bahwa tak cukup dengan puasa orang bisa meraih takwa. Ibadah (totalitas penghambaan kita kepada Alloh SWT), pelaksanaan hukum qishash, serta keistiqamahan kita di jalan Islam dan dalam melaksanakan seluruh syariah Islam, semua itulah yang bisa mengantarkan diri kita meraih takwa.
/Perlu Pemimpin Bertakwa/
Jelas, totalitas ketakwaan ini hanya bisa diwujudkan dalam sistem kehidupan yang juga menerapkan syariah Islam secara total (kaffah).
Selain itu, tentu dibutuhkan pemimpin yang benar-benar bisa mewujudkan ketakwaan dalam dirinya. Pemimpin yang bertakwa adalah pemimpin yang amanah. Yang tidak mengkhianati Alloh SWT dan Rasul-Nya. Mereka tidak menyalahi al-Quran dan as-Sunnah. Mereka tak akan mengkriminalisasi Islam dan kaum Muslim. Mereka pun tidak akan memusuhi orang-orang yang memperjuangkan penerapan syariah. Bahkan mereka akan menerapkan syariah Islam secara kâffah sebagai wujud totalitas ketakwaan mereka kepada Alloh SWT.
Hanya dengan totalitas ketakwaan semacam itulah kita akan mendapatkan jaminan Alloh SWT. Di antaranya: jalan keluar dari kesulitan, rejeki dari arah yang tak diduga dan kemudahan dalam semua urusan. Semua ini jelas amat kita perlukan. Terutama dalam menghadapi wabah saat ini. WalLohu a’lam.
Hikmah:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
*Marhaban Ya Ramadhan 01 Ramadhan 1441 H bertepatan Jum'at 24 April 2020 selamat Menunaikan Ibadah Shaum Ramadhan... SEMOGA bermanfaat. Barokallohu fiikum
Jum'at, 01 Ramadhan 1441 H-24 April 2020 M
*Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, I bin Dr. H. Subo Sukamto Abu Ramadhan, M.Sc bin Robikun حفظه اللّٰه تعالى (Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan, domisili di Kota Bekasi)
Sumber/Maraji':
1. Bulletin Kaffah No.138, 10 Ramadhan 1441 H yang di terbitkan di Serang Banten
2. *Aktivis: Kenapa Nadiem dan GoJek Tidak Peduli saat Ojol Kelaparan Terpapar Covid19: https://www.rmoljakarta.com/read/2020/04/20/63295/Aktivis:-Kenapa-Nadiem-Dan-GoJek-Tidak-Peduli-Saat-Ojol-Kelaparan-Terpapar-Covid-19-
3. kumpulan Kitab Kitab Ulama Salaf dan Ulama Rabbani via Maktabah Syamilah


Posting Komentar untuk "Shaum, Totalitas Takwa dan Jaminan Allah SWT"