Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tenaga Medis Bak Prajurit Tangguh Perang Badar Di Medan Perang Berbeda


Oleh: Uray Herlindawati

Pertempuran sengit yang dilakukan oleh para tenaga medis saat ini, mungkin dapat diibaratkan seperti kisah perang badar. Karena musuh yang dihadapi teramat besar dan berbahaya, sementara pasukan yang maju tak sebanding jumlahnya. Meskipun begitu, para tenaga medis ini tetap berjuang habis-habisan. Karena mereka adalah orang yang paling paham tentang dunia medis dan dunia kesehatan.

Tenaga medis lah yang selalu berada di garda terdepan dan bertaruh nyawa untuk mencegah dan menyelamatkan pasien yang terinfeksi virus covid-19. Sebagai garda terdepan kemanusiaan, tenaga medis jugalah yang paling beresiko terjangkit virus bernama Covid-19 ini.

Selain itu, kondisi kelelahan yang luar biasa juga mereka hadapi. Ditambah lagi dengan minimnya ketersediaan sumber daya, baik dari sisi tenaga maupun sarana dan prasarana untuk menangani pasien covid-19. Bagaimana mungkin, prajurit medis ini bisa berperang melawan covid-19, sementara amunisi dan logistik sangat minim ketersediaannya.

Ini adalah sebuah ironi, jangankan menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana medis, apalagi hingga teknologi tinggi untuk melawan covid-19 ini. Ketersediaan masker dan APD yang digunakan untuk melindungi diri mereka saja ketersediannya tidak terjamin. Padahal profesi mereka cukup rentan karena berinteraksi langsung dengan pasien covid-19.

Padahal, Presiden Joko Widodo  menegaskan bahwa pemerintah bersama berbagai pihak terus bekerja keras menanggulangi pandemi virus corona (covid-19) ini. Presiden juga menegaskan keselamatan rakyat menjadi prioritas utama dalam penanganan covid-19. Hal itu disampaikan oleh juru bicara Presiden Fadjroel Rachman dalam pernyataan pers di Jakarta, Minggu (22/3).

Namun, nyatanya bahwa di Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, terdapat rumah sakit yang sudah ditetapkan sebagai tempat rujukan covid-19 namun faktanya tidak siap menerima pasien lantaran keterbatasan alat kesehatan dan APD bagi tenaga medis.

Lalu, hal serupa dialami di RSUD Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan yang bahkan paramedisnya disana terpaksa memakai baju bekas operasi yang dicuci ulang untuk menyiasati keterbatasan APD. Miris bukan?

Tentu adanya sikap kurang sigap dan terkesan abai dari penguasa dalam segi prioritas keselamatan rakyat. Sebab negara yang diatur dengan sistem kapitalis sekuler hanya beretorika soal prioritas keselamatan rakyat, namun kebijakannya nyata tidak memberi jaminan keselamatan rakyat. Bahkan tenaga medis sebagai garda terdepan juga tidak mendapat perhatian memadai. Perhitungan materi masih menjadi pertimbangan dominan pengambilan keputusannya.

Maka seorang pemimpin harus serius dan tidak boleh meremehkan hal apapun yang menimpa rakyat. Apalagi terhadap corona yang telah ditetapkan menjadi pandemik dunia seperti saat ini.

Sejarah Islam, ketika terjadi wabah kolera di Syam, khalifah Umar bin Khaththab memutuskan untuk tidak ke Syam dan kembali ke Madinah. Amirul Mukminin tidak meremehkan penyakit yang terjadi di Syam, meski tidak terjadi di Madinah.

Dan yang harus dicontoh dari kepemimpinan Islam adalah sikap pemimpin yang sangat mengurusi rakyatnya, menjadi pengurus umat yang sangat bertanggungjawab.

Dalam kondisi normal, pemimpin harus menjadi pengurus rakyat. Dalam kondisi darurat, lebih-lebih lagi. Pemimpin harus optimal dalam mengurusi rakyat, bekerja siang malam demi mencukupi kebutuhan rakyat.

Pemimpin tak boleh bersikap sebagai pedagang yang selalu menggunakan hitung-hitungan untung rugi materi ketika mengurusi rakyatnya.

Sungguh yang kita butuhkan saat ini adalah seorang pemimpin negarawan sejati yang memiliki ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT, bersikap tegas, memiliki visi dan misi yang mendunia  dan meyakini akan peradaban (hadlarah) Islam yang hanya terwujud melalui penegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan yakni khilafah 'ala minhajin nubuwwah (khilafah yang mengikuti pola kenabian). Wallahu a’lam bi ash-shawab. (reper/toriq)

Posting Komentar untuk "Tenaga Medis Bak Prajurit Tangguh Perang Badar Di Medan Perang Berbeda"