Kita Sedang Di Rampok
Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Kom
Minggu pagi yang cerah, masih seputar parit yang belum siap itu, sepertinya mereka gak serius mengerjakannya. Harusnya segera karena banyak orang yang terkendala akan hal itu, ini mandornya mana sih? Apa gak tau ya, menghalangi jalan seseorang itu bisa berdosa. Belum lagi kulihat saban hari mamak mengangkat tanah sisa bangunan lama itu kerumah, menimbun halaman yang kerap diserbu banjir bersama keponakanku. Dulu sebelum kami membeli sebidang tanah di kampung ini, dijanjikan akan ada sebuah jalan dimana kami juga bisa beraktivitas tanpa mengganggu orang lain. Nyatanya janji tinggal janji, kaya rasa pemilu.
Aku dapat giliran memasak didapur kayu, karena sesudah mengantri yang kami dapat hanya nomor antri tanpa tau kapan lagi gas akan masuk. Biasa pun penduduk sini akan sembunyi-sembunyi tanpa memberitahukan tetangga yang lain kesulitan. Belum lagi cerita penyelundupan gas dari orang-orang yang punya kenalan. Ah…kukira hanya di perkantoran saja hal seperti itu ada, ternyata area perkampungan pun sama melakukan hal maksiat tanpa berfikir akan dosa. Dzalim itulah bentuk dari sistem fasad ini. Bener-bener hate deh aku…
Dapur kayu itu berada diluar rumah, maka sebelum terjun ke lapangan aku harus memakai perlengkapan seperti jilbab, kerudung dan kaos kaki. Lelah memang, namun tidak sebanding dengan apa yang mamak lakukan. Jadi memang tak boleh mengeluh meski pinggangku mulai sakit lagi, efek kebanyakan gosok baju kemarin. Tanganku mulai menghitam, panas terik membakar kulit, cucuran keringat mulai membasahi mehna. Jangan Tanya baunya menyatu antara asap dan bau keringat serta matahari, komplit.
“Goreng tempe aja dulu, mamak udah lapar ini” teriak mamak dari dalam
“ Ya mak” jawabku malas tetap saja ku keluarkan semua perangkat memasak, agar tak bolak-balik. Goreng tempe, ikan, sambal, panggang dah tumis, selesai jam 3 siang. Sedari tadi aku duduk disana sejak jam 12 setelah membersihkan ikan
“Ambilkan sirup, mamak haus mau minum yang dingin” kata mamak memerintah lagi, aku bergerak ke kamar dengan malas efek lelah kemarin tak kunjung sembuh.
Alhamdulilah hari ini masih bisa kita makan meski semua ini buat 3 hari kedepan. Ah…betapa sulitnya menjadi orang tua, terlalu banyak hal yang harus dipikirkan untuk banyak orang terutama anak-anaknya. Meski ia hanya seorang buruh dan tak lulus SD, tapi beliau bekerja keras untuk menyekolahkan kami hingga perguruan tinggi. Walau kenyataannya pengangguran, bukan salah kami, tapi ini adalah salah negara ini. Dimana tak berharganya ijazah kami, mungkin hanya lembaran kertas tapi itu jerih payah kami dan ortu tentunya. Ah…mereka mana mengerti hal itu, mereka sendiri merampok rakyat miskin. (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Kita Sedang Di Rampok"