Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Magical Power


Oleh: Rajni Fadillah, S. Pd

Sinar leptop terus menyala disudut paling kanan kamar ku. Aku masih terbelalak di sana saat waktu sudah menunjukkan pukul  01.00 malam. Drama yang sedang ku tonton benar-benar menghipnotis ku hingga lupa waktu bahkan tak membuat ku mengantuk sama sekali. Dalam hati ku bergumam, ngga apa-apa satu episode lagi!. Drama pun terus berlanjut hingga ternyata bukan 1 episode tapi 3 episode telah berlalu. Aku tersadar saat mendengar kokok ayam jantan yang menunjukkan subuh akan segera tiba.

"Astaghfirullah, udah jam 4? " Bertanya pada diri sendiri yang telah lupa diri. 30 menit lagi sudah waktu subuh dan aku harus bergegas untuk tidur. Leptop pun akhirnya ku matikan dan ku biarkan mendingin dalam keadaan terbuka. Sahur ku hanya segelas air putih dan roti tawar untuk mempersingkat waktu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.. Allahu Akbar, Allahu Akbar.. Aku tertidur pulas dan tak bergeming. 15 menit sisa terakhir waktu subuh, aku baru bangun dan melaksanakan Sholat subuh dalam keadaan ngantuk dan malas. Namun sholat tetap ku lakukan walaupun telat dan berat karena aku tau itu kewajiban.

Braakk.. Aku menjatuhkan kembali tubuh ke kasur untuk melanjutkan tidur yang masih belum cukup.Kriiiing.. Kriiiiing Alaram ku berbunyi menunjukkan sudah jam 7 pagi. Bunyi alarm pertama aku mengernyitkan dahi.. Alarm kedua berusaha bangkit dari kemalasan dan rasa ngantuk yang amat sangat.

Bruuum... Bruuum.. Aku bergegas mandi agar tidak telat masuk kuliah MK pertama jam 8.00 pagi. Sheeuut.. Suara tarikan baju dalam lemari. Selesai bersiap aku bergegas menghidupkan motor dan pergi ke kampus. Sampai disana Eka, dan Imah sudah menunggu ku diparkiran disamping gedung kuliah kami.

"Ehh.. Itu dia.. Dila.. Sini!" Eka memanggilku dengan lantang." Ohh.. Iya bentar aku parkir motor dulu. Hai teman-teman gimana dosen nya udah masuk?." "Belum nih.. Santuy! Kayanya beliau ngga masuk nih". "Apa? Kamu tau dari mana sahut Imah memastikan". "Yah, aku berharap nya sih gitu heheh.." Sahut Eka. "Astaghfirullah.. Kok gitu sih, jangan dong nanti kita ketinggalan materi". "Alah ngga apa-apa lah.. Lagian kenapa sih masih ada MK di 10 akhir bulan Ramadhan!" Jawab ku membenarkan Eka.

"Hufff.. Kalian.. Istighfar jangan gitu ngomong nya.. Apalagi ini lagi Ramadhan". Semua hening..
"Btw ini kan hari ke 20 Ramadhan.. Nanti malam 21. Kita iktikaf di Masjid yukk.. Berburu lailatul Qadar.." Imah mengajak kami sambil tersenyum. "Eumm iya juga ya.. Boleh deh.. Lagian aku juga kuat kok kalo harus begadang". Buktinya aku sanggup begadang tiap malam nonton Drama hehehe, gumam ku dalam hati. "Boleh juga deh.. Aku mau coba, soalnya ngga pernah," sahut Eka. "Alhamdulillah.. Oke nanti kita ketemu di Mesjid Baituttaqwa ya ba'da Maghrib, jangan lupa bawa perlengkapan". "Oke! Sahut kami serentak".

Sore hari nya imah mengingat kan kami lewat grup wa agar tidak lupa planing iktikaf malam ini. "Ma, adek izin iktikaf malam ini bareng teman-teman ya.." Aku meminta Izin pada mama. "Alhamdulillah mama senang sekali kalau kamu mau iktikaf.. Iya boleh jangan lupa bawa apa yang diperlukan ya.. Yang paling penting mushaf Al-Quran", jawab mama sambil tersenyum. "Oke sipp Ma.." Jawab ku semangat.

Setelah buka puasa dan sholat maghrib dirumah aku bergegas ke Masjid Baituttaqwa tempat yang kami janjikan untuk iktikaf. Sampai nya disana Imah sudah berdiri di gerbang Masjid menunggu kedatangan kami. Shalat Isya pun dimulai kemudian lanjut khutbah Ramadhan dan setelah nya shalat tarawih berjamaah.

Assalamu'alaikum warahmatullah.. Salam sang imam sholat pada raka'at terakhir sholat witir menandakan sholat selesai.

"Alhamdulillah selesai juga.." Imbuh Eka lega. "Iya alhamdulillah sahut aku dan Imah". "Yuk kita tadarus ajak Imah.."  "Ayukk jawab ku." A'uzubillahi minasysyaithanirrajin..Bismillahirrahmanirrahim.. Kami bertiga memulai tadarus dengan semangat.. Baru 1 juz berlalu mata ku mulai berat.. Namun tetap ku paksa untuk melanjutkan karena tak ingin kalah dengan yang lain disekitar. Setengah Juz kemudian berlalu mata ku sudah tak tahan rasa nya ada beban berton-ton di kelopak mata ku. Ku lihat ke sekeliling sungguh suasana yang menyejukkan dan semangat para jamaah luar biasa. Bahkan ada nenek-nenek pas disamping ku yang dari tak berhenti membaca Al-Quran, bahkan tak tampak rasa ngantuk sama sekali diwajah nya. Nenek ini luar biasa! Gumam ku dalam hati. Ku ambil HP dan melihat Jam yang menunjukkan pukul 22.55. Apa??? Aku kaget. Aku pikir sudah jam 2 malam.. Padahal masih awal sekali. Kenapa aku ngantuk sekali ya.. Padahal biasanya aku tahan banting bahkan pernah ngga tidur semalam.

Gluk... Glukk.. Glukk.. Aku meminum air agar ngantuk nya hilang.. Ku coba melanjutkan bacaan Quran. Tidak lebih dari 1 halaman aku benar-benar tidak sanggup tahan lagi. Akhirnya aku pergi ketempat Istirahat perempuan di pelataran Masjid sebelah kiri untuk tidur sebentar. Eka sudah tidur duluan, sedang Imah masih asyik membaca Al-Quran. Huff ngantuk nya.. Bismillah.. Aku pun tidur setelah membaca do'a tidur. Aku benar-benar pulas..

Sampai Imah membangun kan ku jam 3 malam untuk sholat tahajud berjamaah. Aku dan Eka pun bangun dan berwudhu untuk tahajud. Allahu Akbar.. Takbir imam sholat memulai Tahajud. Bacaan al-fatihah nya begitu merdu dilanjutkan bacaan surah Al-baqarah dari awal hingga pertengahan surah. Kaki ku mulai gemetar, dadaku terasa mual kepala ku pening.. Aku berusaha bertahan hingga raka'at kedua. Setelah imam salam rasa nya aku mau muntah dan pingsan. Ternyata Eka pun merasakan hal yang sama dengan ku. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari saf shalat dan bersender dibelakang. Sedang Imah terus melanjutkan sholat nya.

Sambil istirahat aku terus memperhatikan sekeliling, ada yang membawa anak bayi untuk iktikaf, ada yang masih muda seperti kami bahwa ada yang lebih muda dari kami. Yang paling membuat aku tertampar.. Nenek yang aku  jumpai saat tilawah tadi beliau masih kuat sholat bahkan hingga selesai 8 rakaat. Melihat beliau Aku tertunduk lama dengan rasa malu, bersalah dan hina. Kesombongan ku sebagai orang yang paling tahan bergadang ternyata runtuh berkeping-keping di malam itu. Aku membisu dan kembali tertunduk hina tak bergeming sama sekali. Dalam lubuk hati ku yang paling dalam aku tersadar bahwa kekuatan ibadah yang ku lihat malam ini bukan kekuatan biasa dan tak sama dengan kekuatan yang lain. Kejadian ini benar-benar membutku tertampar keras. Dada ku sesak mata ku memerah, dan aku kembali tertunduk membisu. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Magical Power"