Merajut Mimpi Di Negeri Para Nabi
Oleh: Cut Zhiya Kelana, S.Kom
Siapa yang membayangkan kalo hari ini ternyata hujan deras di sertai angin kencang. Hari ini aku janjian bersama seorang teman untuk mengisi kajian. Sehabis ashar kami bertemu di sebuah masjid yang terkenal di negeri petro dollar dengan sebutan replika mesjid turki. Entah dari mana asal muasal hal itu, secara memang aku tak pernah mengerti itu bukan bidangku. Diatas masjid terasa sejuk tanpa harus memakai AC, bahkan kadang yang solat saja bisa sampai goyang dan mukena mereka tersingkap.
Hari itu rada sepi, yah aku ingat kalo sabtu itu anak-anak libur pengajian. Hanya ada beberapa orang yang sedang melaksanakan sholat wajib dan beberapa kajian. Tiba-tiba hujan deras, dan kami terjebak di dalam masjid. Ah… aku masih punya janji temu dengan seorang sahabat jauh dari luar kota di sebuah mall, aku berfikir bagaimana ini nantinya. Dia khusus datang untuk menemuiku, alasan apa yang haru ku katakan agar dia tak kecewa.
“Kak…gimana cara kita pulang ya, hujannya lama reda dan deras” tanyaku
“Gimana kalo kita tembus aja dek?” jawabnya tersenyum
“Tapi tar basah loh kak, Maya masih harus ketemu teman lagi kak” tanyaku bimbang
“Hujan gini, masyaallah… yaudah ayo kakak antar” jawab beliau khas sundanya
Kami turun dari masjid dengan hujan deras dan air menggenang, sepatu kami basah. Menembus hujan menuju sebuah mall, lalu dengan wajah sedikit khawatir meninggalkanku disana. Itu adalah hal yang terbaik ku lalui bersama beliau, bagiku beliau itu luar biasa seorang ibu yang memilih ikut suaminya dinegeri petro dollar ini. Berharap hidupnya lebih baik namun kenyataannya malah terbalik.
Hidupnya tak seindah mimpi yang ingin dirajut, suaminya di PHK dan kemudian beliau memilih bercerai. Beliau ingin kembali kekampung halamannya, namun aku tak mampu mencegahnya, begitu pula saat beliau memilih untuk menjadi TKW di Arab. Permasalahannya lagi-lagi adalah ekonomi, beliau harus membayar hutang dan membesarkan ketiga putra-putrinya agar terus bisa sekolah. Kali ini aku benar-benar sedih namun aku juga tak bisa menahan beliau, karna tak ada jaminan untuk itu. Sebulan lebih beliau menghilang pasca covid -19, entah kenapa hatiku cemas dan menccoba mencari kabar tentang beliau. Seperti biasa aku memeriksa siapa saja yang memeriksa statusku hari itu… tiba-tiba kak Ridha
“Assalamualaikum kak, apa kabarnya? Ya Allah kak rindunya aku padamu” sapaku langsung voice di WA
“Waalaikum salam dek, alhamdulilah kak sehat” katanya
“Ya Allah kak, Maya kira kak kemana menghilang gitu ditengah wabah gini, kami cemas mau hubungi kak kemana coba” tanyaku tanpa henti
“Gak ada paket dek, ini pake wifi majikan” katanya
Beliau meminta doaku, agar bisa kembali segera ke Indonesia terutama ke kampung halamannya dimana disana ditinggalkan anaknya yang masih kecil. Dan di Arab sedang terjadi razia besar-besaran untuk memulangkan semua TKI Indonesia. Ditengah wabah seperti ini apa bayangmu rasanya mendengar ini? Kok gitu ya pemerintah Arab, apa mereka gak tau hadist ya tentang wabah ini? Kenapa harus memulangkan? Apa karena gak sanggup kasih makan? Semua pertanyaan itu muncul di otakku. Terbuat dari apa hati mereka ya Rabb, tega melakukan hal itu… ah lagi-lagi aku lupa kepada palestina yang tetangganya saja mereka tega konon lagi Indonesia?
Mereka yang sudah terjerat dunia, dan mendarah daging kapitalisnya bukan sesuatu yang mengherankan. Menghafal al-qur’an dan hadist itu biasa bagi mereka, jangan ditanya pasti kita kalah, namun apakah semua itu mentajasad dan teraplikasi dalam hidupnya. Sama sekali gak, tidak terkejut jika disana juga ada diskotik dan pulau khusus buat bikini bottomnya sponge bob. Mungkin saja Allah sudah menutup mata hati mereka.
Entah majikan seperti apa yang beliau dapat, hingga beliau selalu disiksa. Dibiarkan kelaparan bahkan untuk beribadah pun tidak dibolehkan. Ya Rabb ujian apa ini? Beliau tak berani untuk bercerita mungkin karena menyesal tak mendengarkan kami, atau takut kami bersedih. Yang pasti itu marah, karena saudara kami diperlakukan seperti binatang. Perlahan tabir itu terbuka, ada rasa trauma dihatinya. Ah…kakak ku yang malang, semoga Allah membalas mereka yang telah menzhalimimu. Tetaplah bersabar dan berdoa, sesungguhnya Allah tak pernah tidur dan Allah memilihmu untuk lebih dekat padanya.
Sampai kapan pemerintah menutup mata, membuka lapangan kerja untuk mereka para TKA sedangkan anak negeri ini dibiarkan terlunta-lunta tak punya kerja. Haruskan kami daftar kartu pra kerja dulu? Terlalu ribet kali pun. Sebenarnya dari awal pun pemerintah tak berniat membuka lapangan kerja. Hanya tong kosong nyaring bunyinya, memberikan harapan ditengah badai…mustahil itu terjadi kawan. Jika memang pemerintah sayang kepada kita maka akan dimudahkan semuanya. Ditengah gelombang PHK besar-besaran, bukan ekonomi yang penting tapi nyawa manusia.
Dari mereka yang tak mengenal Islam saja belajar “Mudah bagi kami mengembalikan ekonomi, tapi kami tidak bisa mengembalikan nyawa manusia”. Sungguh aku iri sekali pada pemimpin mereka, yang belajarnya dari Rasulullah salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia meski dirinya tak pernah dikenal manusia. Jika pintu pembawa penyakit tak ditutup, maka wabah ini pun tak tau kapan akan berhenti, bukan saja mati karena wabah ini, tapi mati kelaparan itu pasti menanti. (reper/iman)


Posting Komentar untuk "Merajut Mimpi Di Negeri Para Nabi"