Sang Juara
Oleh: Layyina Mujahida Fillah (Aktivis dakwah millenial)
Ini bukan tentang kita yang memiliki banyak piala. Juga bukan tentang berapa banyaknya uang yang kita punya. Bukan juga tentang fisik kita yang mencuri perhatian. Atau seberapa mewahnya rumah kita, berapa banyak nya kendaraan yang kita punya, maupun betapa mahalnya barang-barang kita. Bukan. Ini sama sekali bukan tentang semua hal itu.
Why? Karena semua hal itu hanyalah tentang dunia, tak layak sama sekali kita banggakan.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْو
ٌArtinya: "Dan kehidupan dunia tak lain adalah permainan dan senda gurau." (QS. Al-An’am: 32)
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).
Sekali lagi, memangnya kenapa?
Hei, siapa yang nggak bangga, piala terpajang rapi di seluruh rak, punya rumah mewah yang banyak pelayan, wajah tampan hingga membuat semua orang mendekat, uang tinggal gesek bebas mau dipakai apa aja. Semua hal itu menyenangkan bukan? Kita jadi dipandang oleh orang, menjadi yang terhebat. Sang juara, punya segalanya. Nggak ada yang akan meremehkan kita.
Oke, tunggu. Sepertinya kita sudah terlalu jauh nge-halu, kayaknya ada yang salah. Mengapa semua hal yang kita banggakan selalu tentang dunia? Pintar, tampan, kaya, bukankah semua itu hanyalah tentang dunia? Tidakkah kita pernah mendengar, bahwa dunia itu fana? Hanya sementara?
Benarkah? Lets check it out!!
ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Yeah, sebenarnya ngga ada yang salah sob, dengan pintar, tampan, atau kaya, its okey. Tapi, dipikir-pikir lagi, kenapa selama ini kita selalu memfokuskan diri pada ketiga hal itu, atau bahkan hal yang lainnya yang selalu lagi, dan lagi tentang dunia? Apakah itu artinya kita selalu mengejar dunia?
Eits, jangan lupa, teman, kalau kita mengejar dunia, itu artinya sama dengan kita mengejar bayang-bayang, semu. Nggak bakal sampai, nggak ada ujungnya. Nantinya kita sendiri yang bakal capek, karena mengejar dunia itu nggak akan bisa memberikan kebahagiaan sejati, nggak bisa memberikan kita ketenangan dan kepuasan. Yang ada kita akan merasa kurang, kurang, dan kurang terus meski kita memiliki segunung emas. Akhirnya kita sampai nggak sadar bahwa kita telah kehabisan nafas. Ya, MATI.
Perlu di ingat untuk kita semua, mau seberapa tenarpun kita di dunia, nanti pasti akan tiba masa dimana kita dilamar malaikat maut, dinikahkan dengan kematian, dan bercerai dengan dunia yang selalu kita kejar.
Dan saat itu tiba, sudahkan kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian? Kehidupan yang kekal abadi. Ya, itu akhirat.
Secerdas-cerdasnya orang, adalah orang yang selalu mengingat kematian, dan mempersiapkannya. Karena di akhirat nanti, hanya ada dua pilihan tempat dimana kita akan kekal di dalamnya. Satu, surga dengan segala kenikmatannya. Dan dua, neraka dengan segala huru-haranya. Sama sekali nggak ada jalan tengah. Hanya ada satu dan dua, jadi silahkan dipilih!
Apalagi kita sebagai seorang muslim. Yang begitu kita siap bersyahadat, artinya kita juga siap untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menjadikan mereka hanya satu-satunya. Akhirnya hal itu akan menjadikan hidup kita selalu diwarnai dengan Islam. Dan sebagai seorang muslim, tentu saja way of life kita adalah menggapai ridho-Nya, dengan cara menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, no pake pilih-pilih.
Sehingga dengan itu kita akan mempersiapkan kematian kita, agar nantinya dapat happy ending. Jika kita memahaminya, maka bagi kita dunia hanyalah hal kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan tujuan kita yang jauh kedepan.
So, mau pintar, mau tampan, mau kaya, semuanya hanyalah sarana kita untuk mendapatkan ridho Allah SWT, untuk selalu mendekat kepada-Nya. Sehingga kita hanya akan mencari apa-apa yang halal, jangan sampai kita tertipu oleh dunia fana, dan melupakan akhirat yang selamanya.
Karena nggak ada gunanya kita memiliki itu semua tanpa tujuan yang jelas, toh nanti kalo kita mati, semuanya akan meninggalkan kita. Jadi perlu dipertanyakan lagi deh, benarkah kita telah menjadi juara sejati? Benarkah dengan memiliki dunia artinya kita memiliki segalanya?
Jawabannya, NO! Mari kita simak firman Allah SWT :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu"u (QS.Al-Hujurat:13)
Yeah, itulah sejatinya sang juara, guys. Sang pencipta langit dan bumi sendiri yang mengakuinya. Juara dunia akhirat. Owh, jangan khawatir, kalau sang pencipta sudah meninggikan derajat kita, maka tidak akan ada yang bisa merendahkan kita. Meski jangan lupa, sampai kapanpun haq dan bathil akan terus berseteru. Jadi tetaplah menjadi juara, dan singkirkan segala halangan dan cemohan.
Apalagi sekarang kita sedang berada di bulan yang penuh rahmat. Jangan sia-siakan, dan jadilah sang juara yang mulia!
Lakukanlah hal yang menyenangkanmu, juga menyenangkan Allah. Menjadi sang juara memang tidak mudah, tapi sabarlah, Allah ada kan? Fighting Lillah!! (reper/baim)


Posting Komentar untuk "Sang Juara"