Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beda Pandang Soal Remaja, Antara Sekulerisme Dan Islam


Oleh: Rochma Ambarwati


Dengan asas dan pemahaman yang berbeda, sekulerisme dan Islam tentulah memiliki perbedaan pandang mengenai remaja. 


/Remaja Menurut Sekulerisme/


Dalam artian sekulerisme, remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Dalam masa ini, seorang anak mulai meninggalkan masa kanak-kanaknya untuk mempersiapkan diri menuju masa dewasa. Di sinilah dikenal dengan masa untuk mencari jati diri atau identitas diri.


Sebagai suatu masa peralihan, dalam masa ini, seakan remaja diberikan excuse atau permakluman-permakluman untuk melakukan banyak hal, baik itu hal yang masih sesuai dengan koridor norma dan aturan, atau bahkan hal yang sudah melabrak norma dan aturan tersebut. Karena memang remaja dianggap sebagai seseorang yang masih belum memiliki pemahaman yang utuh tentang apa dan bagaimana harusnya berpikir dan bertindak.

Terlebih dalam era kebebasan ini, remaja seakan tak memiliki kontrol untuk melihat mana yang patut dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan. Bahkan, sebagian remaja menganggap bahwa masa remaja ini harus dipergunakan dengan baik karena tak akan terulang lagi. Bolehlah mereka mengisinya dengan hura-hura dan tindakan serba bebas lainnya. 


Tak ayal lagi, kita saat ini sangat mudah untuk menemukan aneka jenis persoalan dan permasalahan yang dialami oleh remaja. Misalnya dalam pendidikan, di mana mereka memiliki tingkat perhatian yang rendah dalam pendidikan. Pendidikan dianggap hanya sebagai rutinitas belaka tanpa memahami hakikat sebenarnya dari pendidikan sebagai satu proses pemahaman dan pembentukan karakter diri.


Belum lagi dalam hal pergaulan, aneka permasalahan timbul menyangkut remaja. Seperti pergaulan bebas, bahkan seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, pemakaian obat-obatan terlarang, kasus pornografi dan porno aksi, serta masih banyak permasalahan lainnya. Remaja dalam sekulerisme seakan memang diijabah atau diijinkan untuk menghadapi dan menjalani segala proses yang penuh dengan persoalan ini. 


/Remaja Dalam Islam/


Segala bentuk persoalan dan permasalahan remaja yang dihadapi saat terkukung dalam sistem sekulerisme ini tentu saja sangat jauh ketika remaja berada dalam pemahaman Islam. Islam memiliki perbedaan pandangan mengenai remaja.


Remaja adalah sosok yang sudah baligh. Baligh di sini bermakna seseorang yang mukallaf atau sudah terbebani hukum. Sehingga, tidak ada excuse atau pemakluman atau bahkan pembiaran saat remaja melakukan kesalahan. Karena di masa ini, remaja sudah menjadi sosok muslim yang baligh di mana setiap perbuatannya sudah mendapatkan penilaian dari Allah, yaitu mendatangkan pahala atau bahkan menyebabkan dosa.


Remaja dalam Islam bukan dianggap sebagai masa peralihan dari fase anak ke fase dewasa. Pemahaman ini tidak ada di dalam Islam. Masa remaja merupakan masa kedua dari fase kehidupan manusia, di mana yang pertama adalah masa anak-anak. Di masa anak-anak, seorang muslim tentu saja masih belum terbebani hukum, sehingga apa yang dilakukan tidak mendatangkan pahala atau pun dosa.

Keberhasilan atau pun kegagalan dalam masa remaja ini merupakan hasil yang dapat dilihat dari keberhasilan dan juga kegagalan proses pendidikan anak di masa anak-anak. Islam memberikan rambu-rambu yang jelas mengenai bagaimana seharusnya pendidikan anak agar mampu mempersiapkan dirinya untuk menjadi remaja.


Pendidikan ini dimulai bahkan pada saat seorang laki-laki mencari istri yaitu ibu bagi anak-anaknya. Kemudian berlanjut pada masa pernikahan sampai masa kehamilan. Di sini, proses pendidikan anak sudah mulai berlangsung dan diharapkan mampu untuk menciptakan generasi yang mumpuni dalam hal agama.


Ketika anak lahir, tugas pendidikan menjadi tugas yang semakin real untuk dijalankan oleh orang tua dan masyarakat. Tujuannya hanya satu yaitu mempersiapkan si anak agar saat dia remaja, dia sudah siap untuk menjalankan perannya sebagai muslim yang utuh.

Saat anak-anak, penanaman akidah yaitu pemahaman mengenai hakikat dirinya sebagai hamba Allah menjadi satu target utama. Kemudian, ketaatan diri terhadap hukum syara’. Ini perlu dilakukan dengan proses pemahaman dan juga pembiasaan. Sehingga diharapkan, saat remaja, seorang anak muslim ini sudah memiliki akidah yang kuat dan juga sudah terbiasa untuk menjalankan syariat Islam. Walaupun tentu saja, proses pendidikan ini akan terus berlangsung di masa remaja untuk semakin menguatkan si anak akan keberadaannya sebagai hamba Allah di muka bumi ini.


Inilah beda pandang antara sekulerisme dan Islam mengenai remaja. Perbedaan pandang ini tentu saja membawa pada dampak besar yang juga berbeda. Salah satunya adalah bagaimana menyikapi tentang remaja itu sendiri. Salah pemahaman tentu juga akan mengarahkan pada jalan yang salah. Dan inilah yang banyak ditemukan saat ini, saat remaja lebih memahami dirinya dalam bingkai sekulerisme, tentu segala bentuk kesalahan perilaku dan perbuatan akan semakin banyak ditemukan, layaknya apa yang ada sekarang ini. (reper/yuni)

Posting Komentar untuk "Beda Pandang Soal Remaja, Antara Sekulerisme Dan Islam"