Jujur Mulia, Nyontek Hina
Oleh: N. Andyra
Sebagian besar sekolah dari berbagai jenjang pendidikan bersiap mengadakan ujian akhir semester (UAS) di bulan Desember ini.
Sehubungan dengan masih berlakunya PJJ, atau pembelajaran jarak jauh, maka semua pihak berkerja dua kali lebih keras. Mencoba beradaptasi dengan sistem Daring sekaligus memastikan siswa paham dengan materi belajar serta tugas yang luar biasa banyaknya.
Yang jadi masalah kemudian ketika adik-adik siswa ini dituntut untuk mendapat nilai "yang baik" di semua mapel, indikasinya dari nilai kriteria ketuntasan minimal atau KKM. Ditambah dengan pola pikir umum yang lebih mengutamakan nilai ketimbang pemahaman siswa. Memprioritaskan hasil di atas proses. Bahkan, atas nama ketuntasan belajar suatu mapel, ada oknum guru yang kemudian meminta siswa-siswa pintar untuk berbagi jawaban tugas sekolah dengan teman sekelas. Ada kemudian orangtua yang kesulitan menjelaskan materi, memilih untuk menggantikan si anak mengerjakan tugas-tugas sekolah. Terlepas apakah si anak paham atau tidak, yang penting tugas selesai dengan nilai bagus.
Akibatnya siswa jadi terbebani untuk mendapat nilai tinggi. Tak peduli dari hasil mencontek teman atau googling, yang penting hasilnya memuaskan.
Tanpa sadar disinilah kita berperan menumbuh-kembangkan perilaku korupsi sejak dini. Berawal dari korupsi nilai pada siswa, berlanjut korupsi uang saat bekerja, sampai akhirnya terbiasa mengkorupsi uang rakyat saat jadi pejabat.
Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap? Alih-alih meng-aminkan perilaku mencontek massal, seharusnya kita kembali pada pedoman utama kita.
Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslimin wal muslimat minal mahdi ilal lahdi.
Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat (H.R. Ibnu Majah dari Anas bin Malik R.A. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah: 183 dan Shahihut Targhib: 72).
Islam mewajibkan umatnya untuk mencari ilmu, bukan mendapat nilai bagus. Menjadi manusia berprestasi amal di mata Allah, bukan berperingkat tertinggi di mata manusia.
Mencontek adalah bagian dari dusta. Rasulullah menyebut orang yang suka berdusta dengan kata munafik. Yaitu orang yang bila berkata ia berdusta, bila berjanji ia mengingkari, dan bila dipercaya ia khianat.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang jujur," (Q.S At-Taubah: 119)
Mulailah kita membiasakan anak-anak, adik-adik kita untuk mengingat "Jujur Mulia, Nyontek Hina," sejak dini. Mari ubah mindset kita untuk menghargai proses, bukan hanya hasil.(reper/baim)


Posting Komentar untuk "Jujur Mulia, Nyontek Hina"