Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perilaku Anak Punk, Buah Kebebasan Bertingkah Laku


Oleh: Kartika Linggawati, S.Pd (Aktivis Muslimah)


Miris!. Itulah rasa yang hadir manakala membaca berita tentang seorang gadis usia sekolah menengah pertama yang mengalami tindakan penodaan kehormatan secara bergiliran yang dilakukan oleh puluhan anak punk setelah sebelumnya korban dicekoki minuman keras. (https://kabar-priangan.com/dua-gadis-belia-dicekoki-dan-digilir-puluhan-anak-punk/). Fakta ini telah begitu menyakiti hati kami para kaum ibu yang memiliki anak-anak dengan usia serupa. Bagaimana kemudian kegelisahan kami para ibu bertambah tatkala melepas anak gadisnya keluar rumah disebabkan semakin bertambahnya jumlah anak punk di jalanan, tak terkecuali di Kota Santri. 


Terlepas dari apapun latar belakang anak-anak punk ini, tentu kita harus tetap mendalami fakta mengapa kemudian jumlah mereka kian hari kian bertambah. Berdasarkan dara Dinsos (Dinas Sosial) Kota Tasikmalaya, saat ini setidaknya terdapat sebanyak 254 anak punk di Kota Tasikmalaya. Disamping itu, tingkah laku mereka yang cenderung tak terkendali cukup meresahkan masyarakat. Bagaimana tidak, stigma negatif yang melekat pada anak punk adalah pergaulan bebas, prostitusi, minuman keras, dan obat terlarang. Sementara itu, Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anom Karibianto mengatakan, sepanjang tahun 2019 banyak tindak tindana yang melibatkan anak punk. Menurut Anom, dari beberapa kasus yang ada, keberadaan anak punk juga dengan penyalahgunaan narkoba, pencabulan anak di bawah umur, penculikan, minuman keras, dan narkoba. Penampilan kumel dan gaya nyentrik mereka yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa tidak nyaman.


Bermunculannya ratusan anak punk tentu hal ini tidak lain merupakan buah dari penerapan sistem kehidupan sekuler-liberalis. Generasi muda yang telah gagal menjawab pertanyaan mendasar tentang aqidah, yakni tentang siapa mereka, untuk apa mereka hidup, dan akan kemana mereka setelah mati membuat mereka terjebak dalam krisis pencarian jati diri. Kegagalan dalam menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar tadi disamping penerapan aturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang sangat jauh dari nilai-nilai agama secara totalitas, inilah yang menjadi awal rusaknya pemikiran dan tingkah laku seseorang, termasuk anak-anak punk di dalamnya. 


Pengetahuan agama yang minim, peran keluarga yang terabaikan (perceraian dan broken home), masyarakat yang cenderung individulis-apatis, serta dominasi corak liberal dalam gagasan kebebasan bertingkah laku yang diadopsi tanpa sadar oleh negara telah menjadikan generasi muda berperilaku tanpa mengenal norma-norma umum kemasyarakatan maupun norma agama. Hal ini terlihat dari fakta yang telah diuraikan sebelumnya, ketika generasi muda yang 'menganut aliran' punk, mereka menyalurkan hasrat seksualnya dengan cara yang bebas bahkan brutal.. Asalkan nafsu bejatnya terpenuhi maka langkah apapun mereka halalkan, sekalipun harus dengan cara-cara keji.  Selain itu, cara mereka dalam memandang sebuah kesenangan atau kebahagiaan adalah manakala mereka bisa hidup secara 'merdeka', pergi sesuka hati kemanapun meski tanpa tujuan yang jelas, dan berbuat tanpa mengenal aturan. Maka tak heran kehidupan mereka yang bebas tanpa aturan ini akhirnya membuat mereka sangat dekat dengan peluang kemaksiatan seperti terlibat kasus tindak pidana, narkoba dan minuman keras.


Permasalahan anak-anak punk layaknya fenomena gunung es. Jika dibiarkan akan sangat berbahaya bagi kelangsungan masa depan generasi sebuah bangsa. Negara akan kehilangan generasi pengganti yang berkualitas dari segi kepribadian, penguasaan ilmu baik IPTEK maupun khasanah pemahaman ukhrowi, dan memiliki ketahanan diri mengarungi kehidupan. Untuk itu perlu adanya solusi fundamental yang mampu menyelesaikan persoalan ini. Solusi yang dihadirkan adalah solusi yang mendasar dan menyentuh terhadap akar permasalahan, bukan solusi tambal sulam serta menimbulkan permasalahan baru. 


Berdasarkan analisa terhadap fakta yang telah diungkapkan sebelumnya, maka solusi terbaik yang dilakukan adalah dengan mengubah pola kehidupan yang tengah dijalankan masyarakat. Sistem sekuler-liberalis yang selama ini menjadi biang kerok berbagai permasalaha umat manusia harus segera ditinggalkan.  Kemudian negara sebagai institusi tertinggi dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat harus menerapkan sistem yang mampu menjamin terpenuhinya hak-hak dan kewajiban masyarakat baik sebagai seorang hamba bagi Sang Khaliq, anggota keluarga, maupun individu sosial di masyarakat. Sistem tersebut lahir dari kesadaran pemahaman mendasar tentang aqidah yang memancarkan berbagai aturan kehidupan. Sistem yang berasal dari Dzat Yang Maha Mengatur dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Hanyalah sistem Islam dengan berbagai perangkat syariat-Nya yang sempurna yang layak mengatur hidup umat manusia. 


Totalitas dalam penerapan syariat Islam di berbagai aspek kehidupan baik pendidikan, ekonomi, pergaulan/interaksi sosial, dan politik akan menjadikan sebuah tatanan masyarakat yang harmonis. Berbagai permasalahan sosial akan terselesaikan secara alami dengan adanya kekonsistenan negara untuk melakukan pengurusan masyarakat dalam perolehan kesejahteraan melalui sistem ekonomi mandiri dan non ribawi, jaminan terhadap penjagaan pemahaman dan aqidah melalui sistem pendidikan berbasis aqidah dan pembinaan masyarakat dalam majelis-majelis ilmu yang difasilitasi negara, serta corak politik yang independen tanpa kendali maupun campur tangan asing. Dengan demikian, jika semuanya terlaksana, maka tidak akan lagi ditemukan generasi yang lemah seperti anak-anak punk sebab keluarga yang terjamin pemahaman agama dan kesejahteraannya, masyarakatnya pun hadir sebagai penjaga perilaku generasi karena menghidupkan aktivitas amar makruf nahi munkar, negara beserta aparaturnya pun menjamin perolehan pendidikan berkualitas yang mampu membentuk kepribadian yang baik bagi generasi guna mengarungi kehidupan. 

Sistem Islam dengan kesempurnaan dan totalitas penerapan seperangkat aturannya pula yang akan menjamin lahirnya generasi bangsa yang siap memelihara negaranya dan membangun peradaban di masa yang akan datang. Wallahu'alam bish shawwab.(reper/ar)

Posting Komentar untuk "Perilaku Anak Punk, Buah Kebebasan Bertingkah Laku"