Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertimbangan Perasaan dan Rasionalitas dalam Menentukan Aktivitas


Oleh: Nahida Ilma Nafi’ah (Mahasiswa)


Sering kali kita alami kebingungan untuk memutuskan suatu hal dengan berlandaskan kata hati atau rasionalisasi yang ada dipikiran kita. Serasa dua hal itu sangat bertentangan, sehingga harus ada salah satu yang dikorbankan.

 

Contoh kasus nih, waktu ujian. Datang godaan dari guru pengawas, kata beliau “boleh nyontek asalkan nggak berisik dan nggak ketahuan” Nah lo, bikin dilema. Kata hati, nggak papa nyontek kan udah dibolehin, karena kalau nggak nyontek takut dapet nilai jelek, soalnya susah-susah juga jadinya nggak bisa jawab. Tapi kalau nyontek kita sama-sama tau konsekuensi dosa yang didapet. Tapi …


Lanjut contoh kasus lain. Pengen ikut kajian, tapi takut dibilang sok alim, sok suci,atau radikal dll. Kata hati, pilih yang tidak menimbulkan kesenjangan sosial, udahlah ga usah ga enak temen A ydah ngajak nongkrong, atau takut dijauhin temen dll.Sedangkan kalau berdasarkan rasionalisasi mending ikut kajian, kali-kali nyoba hal baru yang positof dan selangkah-dua Langkah jadi pribadi baru lebih agamis dll. Tapi, meskipun pertimbangan sudah serasional itu, bisa-bisanya kita tetep dilema.


Mari kita sejenak menengok ke belakang, meraba-raba diri kita. Mengingat-ingat berbagai hal pertimbangan kita yang putuskan dengan kata hati. Dengan begitu, kita akan menemukan titik sadar bahwa apa yang dibilang kata hati selalu mengarahkan  putusan kita pada hal-hal yang ada di zona nyaman, aman dari hal-hal baru yang “menantang”. Karena nyaman, jadilah hati kita tenang. Begitulah karakter hati, memilih yang nyaman sesuai hawa nafsu. Hawa hafsu yang selalu menggiring kita pada kenikmatan dunia tanpa peduli itu rasional untuk kebaikan pengembangan diri kita atau tidak, atau rasional dengan prinsip yang kita punya atau tidak, bahkan kita tergolong b aja mau melanggar syariat islam atau tidak. Mau milih ikut kajian atau takut dibilang radikal. Kata hati pasti milih nggak ikut kajian dari pada dibilang radikal. Selain emang selamat dari cap temen-temen, juga ga bikin kita repot dengan ilmu yang kita dapetin buat di amalin, iya kayak gitu ga nih?


“Ada tiga hal yang dianggap dapat membinasakan kehidupan manusia, yaitu kekikiran (kebakhilan) yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan ketakjuban oarng terhadap dirinya sendiri.” (HR. At-Thabrani)


Sebagai seorang muslim, sudah seharunya kita menundukkan perasaan kita dibawah pemikiran. Jadi rasional diatas hawa nafsu, adalah hal sikap pertama yang harus kita miliki, jadi ketika akan memutuskan sesuatu adalah berfikir berkali-kali dulu untuk menjernihkan ke-rasional-an dan perasaan/hawa nafsu. Berfikir apakah hal itu bertentangan dengan prinsip kita sebagai ummat muslim atau tidak, berfikir lagi untuk kebaikan apa yang kita dapat bahkan berfikir lebih dlam lagi tentang melanggar syariat islam atau tidak. Allah memberi kita akal tak lain adalah untuk berfikir dan aktivitas berfikir inilah yang membedakan manusia dengan hewan.


“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).(reper/toriq)

 

Posting Komentar untuk "Pertimbangan Perasaan dan Rasionalitas dalam Menentukan Aktivitas"