Sulit Mana, Berbicara atau Menulis?
Oleh: Kunjung Sasono (Komunitas Penulis Garis Bawah)
Beberapa waktu lalu dalam mempersiapkan sebuah acara talk show, kebetulan saya disitu menjadi salah satu pembicaranya. Guru saya Ustadz Ir. Adi S Soeswadi sang trainer penulis yang saat itu menjadi sutradara acara tersebut mengatakan "Sulit mana antara menjadi Pembicara dan menjadi Penulis?"
Ada beberapa anggapan menulis lebih mudah, karena jika berbicara takut demam panggung dan gugup. Tapi tanpa disadari setiap hari kita sudah belajar berbicara, hanya saja berbicara didepan umum perlu penataan kata dan kalimat.
Fidel Castro pemimpin revolusi Kuba memegang rekor dunia Guinness Book of Record untuk berbicara berpidato terlama di dunia. Di markas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York 2016, berpidato selama 4 jam dan 29 menit. Menunjukan kemahiran dalam mengolah kata di depan publik.
Berbicara mengalir dan mudah tapi terkadang menulis adakalanya menemui kebuntuan.
Apalagi kalau bisa berbicara lepas tanpa beban, tema pembicaranya berupa curhat pribadi dan uneg-uneg akan dengan mudah tersampaikan. Bebas tanpa harus mengikuti struktur bahasa dan tanda baca.
Menulis tak semudah yang kita bayangkan. Karena bukan hanya membuat coretan di kertas tanpa mempunyai makna. Tapi bukan berarti hal yang sulit juga untuk dilakukan asal ada tekad, kemauan dan mau belajar pasti bisa.
Memang dalam ketrampilan berbahasa faktor membaca, menulis, menyimak dan berbicara adalah perpaduan yang harus dilatih. Kemudian dengan gaya masing-masing dan memantau selera dari pembacanya.
Dahulu Rasulullah Saw yang diremehkan oleh kaum kafir Quraisy, saat tulisan-tulisan Al-Qur'an dianggap bikinan Muhammad. Allah SWT menantang mereka untuk membikin tulisan yang sama dengan Al-Qur'an.
Tantangan mulai dari menulis sebuah surat sampai sepuluh ayat seperti dijelaskan Qur'an Surat Hud:13. Hingga tantangan tulisan sebuah satu ayat saja seperti dituturkan Qur'an Surat Al Baqarah:23. Dan mereka tak satupun bisa menjawab tantangan itu. Hanya bicara dan omong kosong saja mereka.
Seseorang yang belum terbiasa menulis apabila disuruh menuliskan ide yang diucapkan perkataan pasti akan bingung. Harus mulai dari mana dan menulis apa. Tapi ada beberapa seorang yang piawai menulis belum tentu mahir berorasi, karena jam terbang juga. Menulis juga butuh membaca yang banyak agar informasi yang masuk sebagai asupan nutrisi otak.
Saya sendiri mengakui berbicara lebih mudah daripada menulis. Dan tulisan-tulisan saya banyak di genre story. Tapi bukan berarti meremehkan saat untuk menjadi pembicara atau pemateri, semua tetap butuh pembelajaran.
Kesimpulannya tergantung pada niat kita. Ingin menjadi seperti apakah kita? Berbicara dan menulis sama-sama punya kelebihan masing-masing asalkan memaksimalkan potensinya. Dan tentunya akan berfaedah jika keduanya bisa menginspirasi orang lain, baik mendengar omongan dan membaca tulisan kita. Salam Literasi... (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Sulit Mana, Berbicara atau Menulis?"