Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ashabiyyah, Perilaku Jahiliyah!


Oleh: Syam Arham (Aktivis Muslimah Peduli Ummat, Aceh Barat)


Pernah dengar ga gaes, ada orang yang mengejek orang lain karena penampilan nya? Atau ngebully orang lain karena appearance nya? Cuma karena terlahir lebih putih, ngejelekin orang yang hitam. Hanya karena lahir di pulau Jawa ngeledek orang yang terlahir dari Papua?


Kayaknya sering deh. Belum lagi akhir-akhir ini. Oke, perilaku itu jadi makin banyak yang ngelakuin, tapi ingat loh, perilaku macam itu tuh bukan perilaku islami.


Allah ga pernah membeda-bedakan manusia dari fisik penampilan nya. Toh yang nyiptain kita beda- beda fisik Allah juga kan? Dan pastinya kalau pencipta kita aja ga ngebandingin kita dari segi fisik, so why should we?


Terus, Rasulullah Saw juga benci banget dengan perilaku satu ini. Walau niatnya becandaan doang, Rasullullah ngelarang. Apalagi seriusan beneran ngehina.


Pernah nih di suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari dan Bilal bin Rabah, dua sahabat Nabi SAW, berselisih paham.


Nah, saat sedang bertengkar, Abu Dzar tiba-tiba keceplosan mengucapkan, “Dasar, kulit hitam!” Bilal sangat tersinggung mendengar ucapan itu. Ia datang kepada Rasulullah SAW dan mengadukan kegalauannya.


Mendengar hal itu, rona wajah Rasulullah SAW berubah dan bergegas menghampiri Abu Dzar. Lalu berkata, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat Jahiliyah!”


Rasulullah SAW mengucapkan teguran itu karena kemuliaan seorang hamba tidak diukur bersadarkan suku, ras atau pun warna kulit. Namun semata karena ketakwaanya kepada Allah SWT.


Terus, mendengar nasihat Rasulullah, Abu Dzar menangis dan memohon kepada Allah SWT. Ia menyesali tindakannya. Ia pun berjanji di hadapan Nabi untuk tidak mengulanginya dan segera memohon maaf kepada Bilal.


Abu Dzar pun sampe ngedatangin Bilal lalu tersungkur bersujud dan memohon Bilal untuk menginjak wajahnya. Ia menempelkan pipinya diatas tanah yang berdebu dan dilumpurkannya pasir kewajahnya berharap Bilal mau menginjaknya. Berulang kali Abu Dzar memohon agar Bilal menginjak wajahnya.


Tapi nih,mulia banget akhlak para shahabat rasul, Bilal malah nangis dan berkata, “Semoga Allah mengampunimu, Abu Dzar. Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di muka yang penuh cahaya sujud pada Allah itu.” Keduanya lalu menangis dan akhirnya berpelukan.


Jadi ashabiyah atau menganggap kaumnya lebih baik dari kaum yang lain itu adalah perilaku tercela.


Memang sih, larangan atau keharaman ikatan ‘ashabiyah itu bukan berarti tidak boleh mencintai suku, daerah, keluarga, jamaah, kelompok, golongan, atau mazhab. Akan tetapi, maknanya adalah tidak boleh atau haram menjadikan ikatan ‘ashabiyah itu di atas segalanya; di atas kebenaran dan di atas ikatan Islam dan keimanan. Di dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Fusailah binti Watsilah bin al-Asqa’ dari bapaknya dikatakan: Aku berkata, “Apakah ‘ashabiyah itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda:



أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ



Engkau menolong kaummu di atas kezaliman.


Oleh karena itu, dalam Islam tidak ada istilah right or wrong is my country, my nation, my madzhab, my party, my jamaah dan lainnya. Sikap ‘ashabiyah (fanatisme kelompok) itu harus ditinggalkan seperti yang diperintahkan Rasul saw. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa dalam satu perang, seorang Muhajirin mendorong seorang Anshar, lalu orang Anshar itu berkata, “Tolonglah, hai Anshar.” Orang Muhajirin itu berkata, “Tolonglah, hai Muhajirin.” Nabi saw. pun mendengar itu dan beliau bersabda:


مَا بَالُ دَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ: كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلا مِنَ الأنْصَارِ. فَقَالَ: دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَة


“Ada apa dengan seruan jahiliah itu?” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, seorang dari Muhajirin memukul punggung seorang dari Anshar.” Beliau bersabda: “tinggalkan itu, sebab hal itu muntinah (tercela, menjijikkan dan berbahaya).”


Dari Ibn Mas’ud, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi kesombongan (al kibr). Berkata seseorang: Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang selalu mengenakan pakaian dan sandal yang bagus-bagus. Rasulullah bersabda : Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan (al kibr) adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. [HR. Muslim Kitab Adab no. 5108]


So, don't be childish , don't make anyone sad, because of your comment of their appearance. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Ashabiyyah, Perilaku Jahiliyah!"