Berdusta Jangan Dijadikan Kebiasaan
Oleh: Mochamad Efendi
Banyak Hoaks bertebaran di sosmed sehingga sulit untuk membedakan antara fakta atau hanya settingan. Semua dikemas dengan tampilan menarik dan meyakinkan, isinya tentu saja membela yang disukai dan menjatuhkan pihak yang dibenci. Narasi yang meyakinkan sering bisa mempengaruhi orang awam dan tidak jarang membuat mereka bingung dengan tingkah laku mereka yang memproduksi banyak hoaks untuk pencitraan tapi tidak jarang menuduh mereka yang tidak disukai menghasilkan hoaks. Saling mencaci dan membuli untuk membela kepentingan kelompoknya, tapi menjatuhkan pihak yang tidak disukai. Like and dislike sering dijadikan dasar untuk menilai sesuatu, bukan kebenaran hakiki yang dijadikan landasan berfikir agar bisa melihat fakta dengan benar.
Politik kekuasaan dalam sistem demokrasi memaksa para politisi untuk melakukan pencitraan dengan menghasilkan drakor. Rakyat dibuat baper dengan kisah pemimpin yang dekat dengan rakyatnya dengan blusukan mendatangi gelandangan sebagai simbol rakyat kelas bawah. Namun belakangan diketahui bahwa Itu semua hanya pencitraan dan settingan yang menyakiti hati rakyat yang sempat percaya dengan drama korea yang dimainkan dan viral di media massa.
Pemimpin memang perlu untuk dekat dengan rakyat. Blusukan agar mengetahui berbagai permasalahan sosial memang diperlukan seorang pemimpin tapi jangan untuk pencitraan. Bukan pula untuk menarik simpati dan dukungan rakyat agar bisa memenangkan pertarungan untuk meraih kekuasaan. Tentunya kita ingat kisah khalifah Umar bin Khattab dan ibu pemasak batu. Seorang khalifah blusukan ditengah malam tanpa harus melibatkan banyak orang untuk membantu rakyat yang membutuhkan. Tidak juga ada media untuk mempublikasikan kebaikannya. Semua dilakukan karena ingin mencari ridho Allah dengan tujuan ingin mengurusi urusan rakyatnya. Pemimpin dalam sistem Islam berpolitik untuk mengurusi urusan rakyat, bukan kekuasaan.
Gaes, masih banyak lagi pencitraan yang isinya adalah kebohongan alias hoaks dalam sistem demokrasi yang penuh tipu daya untuk sebuah kursi kekuasaan. Meskipun banyak hoaks tersebar disekitar Kita bahkan sering sulit bedakan antara kebohongan dan kenyataan, namun jangan jadikan hoaks menjadi kebiasaan dalam dirimu. Meskipun terkadang kejujuran Itu pahit saat bertentangan dengan kepentingan, tapi akan berakhir baik dan indah. Ibarat menelan obat pahit tapi akan menyembuhkan dan tubuh menjadi sehat dan segar kembali seperti saat sebelum sakit.
Gaes, mereka yang terbiasa berbohong akan sulit bedakan apakah dia sedang berbohong atau tidak untuk membela kepentinganya. Apapun alasannya berbohong adalah dosa dan Itu adalah ciri orang munafik jika berbohong sudah dijadikan kebiasaan. Walaupun berbohong untuk menyelamatkan seseorang yang tidak bersalah atau untuk menyatukan keluarga yang sedang bertengkar bisa saja diperbolehkan tapi berbohong jangan dijadikan kebiasaan. Mohon ampunlah pada Allah jika terpaksa kamu harus berbohong untuk menyelamatkan seseorang yang nenurut kamu tidak bersalah.
Gaes, dalam sistem sekuler saat ini seolah berbohong harus menjadi keharusan agar mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Jangan ikuti kebiasaan kebanyakan orang yang sering bukan kebenaran karena sistem rusak menciptakan banyak kebiasaan yang rusak tapi dianggap biasa oleh kebanyakan orang. Bahkan sering mereka yang berpegang teguh pada kebenaran hakiki dianggap aneh.
Gaes, lebih baik jadi orang aneh yang berani jujur dan menolak hoaks. Memang tidak mudah untuk berkata jujur dan berfikir objektif pada sistem yang saling mencaci dan membuli untuk menjatuhkan lawan politiknya meskipun dengan cara yang tidak benar. Kemenangan bukan saat kita meraih kekuasaan. Kekalahan juga bukan saat kita terdzalimi dan harus terjerat kasus pidana sehingga harus masuk penjara. Kemenangan adalah saat kita berani mengatakan kebenaran meskipun bertentangan dengan kepentingan kita atau kelompok yang kita bela dan dukung. Kemenangan sejati saat kita berani berkata dan berbuat sesuai dengan ajaran yang lurus dan mulia, Islam meskipun harus melawan kekuasaan ataupun cibiran orang-orang yang kurang memahami arti satu kebenaran.
Gaes, cobalah berfikir adil dengan membuang kebencian. Dan mulailah berani jujur pada diri sendiri apakah yang kita bela adalah kebenaran ataukah kepentingan yang berani mengaburkan fakta sehingga nampak benar dihadapan manusia. Berani jujur pada diri sendiri dan mulailah melepaskan kepentingan dunia yang menipu dan kembali pada petunjukNya yang lurus dan mulia. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Berdusta Jangan Dijadikan Kebiasaan"