Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duka Indonesia! Pray for Sriwijaya Air SJ 182


Oleh: Ratna Kurniawati (Aktivis Remaja)


Innalilahi wa innailaihi rojiun, Kabar duka menyelimuti tanah air Indonesia. Belum genap satu bulan tahun 2021 berjalan, segenap elemen bangsa merasakan duka yang mendalam atas peristiwa naas pada Sabtu 9 Januari 2021. Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Jakarta Pontianak mengalami  kehilangan kontak dan akhirnya puing serpihannya di temukan di kepulauan Seribu. Pesawat jenis Boeing 737-524 itu membawa 62 orang yang terdiri dari 50 penumpang (40 dewasa, 7 anak-anak dan 3 bayi), dan 12 kru. Hingga saat ini, pemerintah bersama otoritas terkait tengah menelusuri lebih jauh kecelakaan pesawat ini.


Dikutip dari cnbcindonesia.com  FlightRadar24 mengatakan, pesawat  SJ182 yang hilang kontak tersebut merupakan pesawat Boeing 737-500 klasik dengan nomor registrasi PK-CLC (MSN 27323). Pesawat tersebut pertama kali terbang pada Mei 1994 alias sudah berumur 26 tahun. Namun manajemen Sriwijaya menegaskan kondisi pesawat layak terbang. "Kondisi pesawat informasi yang diperoleh dalam kondisi sehat sebelumnya terbang PP ke pangkal pinang ini rute kedua ke Pontianak. Dari laporan maintenance juga lancar," kata Direktur Utama Sriwijaya Air Jeff Jauwena, dalam konferensi pers Sabtu malam.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 mil laut di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki. Pesawat tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Keberangkatan itu mundur dari jadwal sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.


Peristiwa jatuhnya pesawat SJ 182 menambah deretan daftar panjang sejarah suram penerbangan di Indonesia. Setidaknya dalam 3 dekade ini sudah 8 peristiwa tragis kecelakaan pesawat yang merenggut ratusan nyawa. Semoga para korban mendapatkan khusnul khotimah dan keluarganya diberikan kesabaran. 


Kematian adalah takdir dari Allah SWT dan tidak ada seorang pun baik tua maupun muda, kaya ataupun miskin yang bisa lari darinya. Semua pasti akan mengalami saat-saat maut itu datang menjemputnya. Kita semua saat ini adalah sedang mengantri untuk dipanggil sang pemilik nyawa. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian tersebut.


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran : 185)


Terlepas dari kematian itu takdir, ada banyak hal yang harus diperbaiki di dunia penerbangan Indonesia, betapa mirisnya sekali kecelakaan menelan ratusan korban jiwa. Hal ini harusnya menjadi perhatian khusus negara dan maskapai penerbangan. Menelisik ke belakang, Federal Aviation Administration (FAA), atau otoritas penerbangan sipil AS, ternyata pernah menerbitkan sebuah surat peringatan kepada maskapai di Amerika Serikat (AS) yang mengoperasikan pesawat Boeing 737 NG dan klasik. Adapun jenis pesawat klasik seri 300 - 500 juga banyak dipergunakan maskapai di Indonesia. Salah satunya, adalah Boeing 737-500 yang merupakan pesawat milik Sriwijaya Air.  Peringatan untuk tidak mengoperasikan pesawat berlaku bagi pesawat yang memang tidak pernah digunakan selama 7 hari berturut-turut, seperti dikutip melalui Reuters, Minggu (10/1/2020). 


Boeing selaku produsen menegaskan telah menyampaikan hal ini kepada seluruh maskapai Boeng 737 yang tersebar di seluruh dunia, mengingat banyak pesawat yang 'nganggur' lantaran sepinya penumpang di masa pandemi. 


Faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan dalam kasus Sriwijaya Air jatuh adalah catatan keselamatan penerbangan Indonesia yang relatif buruk. Selama 15 tahun terakhir ini memiliki beberapa tantangan keamanan utama dengan maskapai yang berbeda.  Selain faktor diatas usia pesawat, kondisinya, ataupun ketrampilan awak pesawatnya - pilot, co-pilot- harus dipastikan benar-benar layak terbang. Karena bagaimanapun keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama dan pertama. Semoga dari kejadian ini dapat diambil hikmahnya. Wa’alahualam bishawab.(reper/baim)

 

Posting Komentar untuk "Duka Indonesia! Pray for Sriwijaya Air SJ 182"