Keluarga Rasa Musuh?? Oh NO!!!
Oleh: Meiliza Anggita Siregar, S.TP (Aktivis Muslimah Aceh)
Rasanya tak asing lagi saat kita mendengar kasus tentang retaknya hubungan antara orang tua dengan buah hatinya. Seakan menjadi hal biasa, kasus tersebut malah meningkat seiring dengan bergantinya tahun. Tak tanggung, perkara sepele pun bisa berujung bui, bahkan mengundang maut. Miris sekali, setiap hari selalu kita dapati potret rusaknya keharmonisan keluarga yang melanda negeri ini.
Seakan tak cukup, awal tahun dibuka dengan kasus anak mempidanakan ibunya karena perihal motor. Saat ditelusur lebih lanjut, ternyata sang anak cemburu lantaran motor hasil dari pembagian warisan jatah ibunya dipakai oleh saudaranya yang lain. Tak berhenti disitu, didaerah lain juga terdapat kasus yang sama dengan perkara yang sedikit berbeda, yaitu karena kuku sang ibu menggoresi wajah anaknya sehingga anak melaporkannya kepada pihak berwajib. Dan banyak lagi kasus-kasus lain yang tak pernah terungkap ke publik, namun membuat ngilu hingga ke lubuk hati.
Tampaknya peribahasa "darah lebih kental dari air" tak berlaku lagi, "keluarga rasa musuh" kiranya lebih mendominasi dan menjadi slogan baru untuk menggambarkan betapa lenyapnya fungsi keluarga dalam sistem demokrasi ini. Ikatan keluarga yang berbasis materi telah gagal melahirkan generasi yang hormat dan berbakti pada orang tua. Anak yang terbentuk hanya mementingkan harta dan tahta tanpa memandang status keluarga. Nilai-nilai liberal yang dihadirkan juga turut menyumbang prilaku tak bermoral hingga tak jarang membuat orang sakit kepala. Pada akhirnya, generasi tak berakhlak pun hadir dan turut mewarnai masyarakat ini.
Tak perlu heran, toh zaman ini memang zaman edan. Dimana pengetahuan makin berkembang tapi adab dan akhlak jatuh hingga ke dasar bumi. Hilangnya fungsi agama yang menjadi pedoman berkeluarga membuat kedua individu yang telah terikat seolah dipaksa berjalan pada titian rapuh yang dibawahnya dialiri sungai api. Salah melangkah, maka hilanglah sudah. Pemisahan agama dari kehidupan membuat kaum muslimin lupa akan tujuan dari pernikahan yang sesungguhnya, yaitu melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa, sehingga tak jarang kita dengar banyak para orang tua newbie kewalahan bahkan abai dalam mendidik keturunannya.
Dan muncullah generasi “gagal” yang hanya akan menjadi beban keluarga dan masyarakat.
Sejatinya, anak adalah cerminan orang tua. Saat orang tua dapat menghadirkan suasana keimanan ditengah-tengah keluarga, maka anak pun akan memiliki karakter yang khas dan bertaqwa. Negara sebagai supra sytem juga turut andil dalam mengawasi jalannya fungsi keluarga sehingga akan terbentuklah keluarga yang harmonis tanpa embel-embel drama sabun batang. So, pada akhirnya semua akan kembali pada sistem Islam, karena hanya Islamlah satu-satunya akidah yang melahirkan solusi tuntas dalam jangka berkepanjangan. Wallahua'lam.(reper/yuni)


Posting Komentar untuk "Keluarga Rasa Musuh?? Oh NO!!!"