Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tebaran Hidayah Di Tengah Musibah


Oleh: Yuyun Rumiwati


Sobat, gimana kabar negeri kita di awal tahun ini? Ya Allah, berbagai musibah beruntun. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya, banjir yang menerpa wilayah Kalimantan Selatan, Gempa di Sulawaesi Barat. Belum reda segaka bencana tadi terbaru terdengar berita tentang erupsi Gunung Semeru Jawa Timur.


Belum lagi berita duka meninggalnya sahabat, saudara, teman terdekat kita di era pandemi menjadi info duka yang kerap membanjiri ponsel kita.


Di sati sisi sedih, sesak terasa kita melihat kondisi ini. Namun, sebagai seorang mukmin kita tetap mengembalikan segala musibah ini dengan kunci sabar. Sabar dalam makna menerima segala Qodha (ketetapan) Allah dengan husnudzon. Dan tetap sabar dalam ketaatan. 


Di poin kesabaran dalam makna menerima Qodha Allah insyAllah banyak di Anatar kita sangat familiar dan faham. Namun, dari sisi sabar dalam makna tetap teguh di jalan ketataatan tentu tidak mudah di tangah sistem sekulerisme. 


Sobat, betap tiap musibah alhamdulillah banyak di antara umat lulus menerima musibah. Namun, sampai mengambil ibrah dan muhasabah hingga mengantarkan pada jiwa ketaatan dan perbaikan masih jarang lolos. 


Sobat, karenanya dibutuhkan menyatukan tafakur dan tadzabur melihat dari tiap musibah di sekeliling kita. Dengan tafakur akan melahirkan kesadaran bahwa diri kita amat lemah. Kota hanya seorang hamba. Tiada konsekuensi dari kesadaran sebagai hamba hanya mengabdi. Taat atas setiap titah sang paduka pemilik dan pengatur alam, kehidupan dan manusia. Dialah Allah satu-satunya zat yang layak disembah dan ditaati atas tiap aturan-Nya.


Sobat, jika demikian akan melahirkan satu muhasabah. Seberapa ketaatan kita selama ini? Seberapa taat negeri beserta penguasa negeri ini menghamba dan taat terhadap sang pencipta?


Sobat, jujur saja sedang di tengah-tengah kita. Ketaatan kita cenderung pilah pilah. Mana yang serasa sesuai keinginan kita lakukan. Yang serasa sulit masih kita cari alasan untuk ditinggalkan. Jadilah istilahnya STMJ, "Shalat Jalan Masiat Jalan Terus". Astaghfirullah.


Sobat, berbagai musibah di atas semoga mampu membuka pikiran dan naluri tadayun (keagamaan) kita. Hingga tebaran hidayah (petunjuk) mampu kita tangkap dan melahirkan iman yang produktif. Imam yang melahirkan ketaatan tanpa pilah pilih atas tiap perintahnya.


Sobat, begitu pun terhadap penguasa negeri kita. Mari bersama-sama kita amar makruf nahi Munkar agar bisa kembali pada kebesaran dan aturan-Nya. Betapa kemaksiatan yang paling berbahaya dan mengundang bencana adalah kemaksiatan sistem. Karena ini akan memudahkan munculnya kemaksiatan di masyarakat. Mulai dari merebaknya zina, riba, korupsi dan kemaksiatan lainnya.


Sobat, semoga Allah masih memberi kesempatan bagi kita dan negeri kita menjadi negeri yang diberkahi. Karena masih mampu peka akan sinyak-sinyal hidayah di tengah musibah yang menerpa di bumi Pertiwi ini. Aamiin. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Tebaran Hidayah Di Tengah Musibah"