Apa Rahasia Dibalik Banjir?
Oleh: Abdullah Makhrus
Sekitar Pukul 22.10 kemarin malam tiba-tiba kakak menelpon. Tidak biasa dia menghubungiku larut malam. Saat kuangkat telpon dalam mode video.
Beliau bercerita bahwa di rumah orang tua kami sedang kebanjiran sambil menunjukkan penampakan banjir yang sudah memasuki area dalam rumah.
Ketinggian banjir yang telah mencapai dada bebek di dalam rumah tentu membuat kalang kabut penghuni rumah. Karena hampir belum pernah kejadian banjir melanda separah ini di rumah kami.
Hampir merata sepertinya air menggenang di jalan masuk menuju rumah. Seolah menjadikan area kampung menjadi kolam renang wisata dadakan. Kejadian tiba-tiba itu tentu saja membuat heboh warga RT.003 di wilayah kami.
Berbicara tentang banjir, maka tak akan lepas dari upaya mencari penyebab dan solusinya. Jika kita mencari penyebab maka sesungguhnya cuaca tak bisa dijadikan penyebab. Karena hujan terjadi seperti aktivitas rutin tahunan. Namun, mengapa air hujan itu tidak bisa mengalir ke tempatnya berlabuh. Inilah yang kemudian perlu dicari penyebabnya.
Salah satu penyebab yang umum kita dapati adalah mudahnya orang membuang sampah di sungai. Akibatnya tentu bisa ditebak, aliran sungai terhambat hingga akhirnya airpun meluber keluar dari jalur sungai. Belum lagi akibat keserakahan manusia dalam mengambil kayu di hutan tanpa perhitungan hingga kita kehilangan tempat menyerap turunnya air hujan.
Sedangkan penyebab lain yang tak banyak disadari banyak manusia adalah akibat banyaknya kemaksiatan yang makin merajalela. Bukankah hujan adalah bagian dari makhluk Allah yang diturunkan pada manusia. Ia bisa menjadi rahmat, namun sekaligus menjadi adzab atas kemaksiatan manusia.
Masih ingatkah kisah Kan’an putra Nabi Nuh yang tak mau mengikuti ajaran ayahnya. Ia begitu sombongnya menantang Allah. Bahkan dengan daya pikirnya, ia pergi ke gunung dan dengan yakin ia akan selamat dari bencana banjir yang telah dikabarkan oleh Nabi Nuh.
Banjir saat ini sesungguhnya telah menunjukkan betapa lemahnya kita di hadapan Sang Penguasa alam raya. Tak layak seorang anak manusia sombong dengan menantang perintahNya. Bukankah telah nyata peringatan Allah kepada manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).
Sebegitu lemah manusia menghadapi banjir di dunia. Banjir semalam mampu membuat ribuan orang bisa terusir dari rumahnya. Ia mengungsi mencari tempat perlindungan.
Namun, bayangkan dimana kita akan mencari perlindungan saat di hari kiamat? Ingatkah peringatan Rasulullah SAW keadaan seseorang di hari kiamat.
تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ
“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.”
Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya.
Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.”
(Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)
Saudaraku, bukankah hari ini banjir ini sesungguhnya memberikan banyak peringatan pada kita. Bukankah banjir menjadi "surat cintanya" Allah pada kita agar kita mau kembali padaNya. Tidak cukupkah peringatan ini dikirimkan pada kita? Jika masih belum dengan cara apalagi Allah kirimkan pesan cintaNya?
Kini renungkan, bukankah pesan banjir ini bermanfaat bagi kita? Masihkah engkau tidak berfikir? (reper/ar)


Posting Komentar untuk "Apa Rahasia Dibalik Banjir?"