Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Larangan Burqa, Lagi-lagi Islamophobia


Oleh: Syam Arham


Menteri Keamanan Publik Sri Lanka, Sarath Weerasekera, menyatakan bahwa negaranya akan menutup lebih dari seribu sekolah Islam dan melarang pemakaian burkak.


Weerasekera mengatakan bahwa ia telah menandatangani lembar persetujuan kabinet untuk melarang penutup wajah penuh yang dikenakan oleh beberapa perempuan Muslim dengan alasan "keamanan nasional." ( CNN Indonesia, 13 maret 2021)


Larangan serupa juga mengemuka di kawasan lain. Pada Minggu, 7 Maret 2021 Swiss memberikan suara terkait larangan Burqa di tempat-tempat umum. Pemungutan tersebut dilakukan setelah perdebatan bertahun-tahun terjadi terkait aturan serupa yang berlangsung di negara Eropa lainnya seperti Prancis, Belgia, dan Belanda. (PikiranRakyat.com, 7 maret 2021)


Padahal di Swiss sendiri jarang ditemukan wanita bercadar, namun anehnya pemungutan suara ini menjadi sebuah concern pemerintah swiss.

Dari sini bisa kita lihat betapa dunia telah membuat standar ganda. Jika pelakunya kaum muslimin maka suatu kasus akan di blow up sehingga seolah kaum muslimin lah pelaku teror nomor satu di dunia. Paradigma ini kemudian dijajakan lewat berbagai media. Mulai dari berita hingga drama. Sehingga muncullah Islamophobia di seluruh belahan dunia.


The Report Islamophobia Foundation menyebut larangan burka telah menyebabkan gelombang pelecehan fisik dan verbal terhadap Muslim. Untuk itu mereka meminta parlemen Belanda mempertimbangkan kembali undang-undang yang melarang penutup wajah di transportasi umum dan di gedung-gedung termasuk sekolah dan rumah sakit.  (Republika.co.id, 22 September 2020)


Beginilah jika wasitnya sudah memihak. Maka sudah saatnya mengembalikan dunia dibawah riayah islam. Di bawah riayah islam, maka wasit akan memihak kebenaran, tak memegang standar ganda. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Larangan Burqa, Lagi-lagi Islamophobia"